
Panen jagung di tengah ladang sawit
TABLOIDSINARTANI.COM, Nunukan---Pemerintah terus mendorong integrasi tanaman guna mengoptimalkan lahan yang ada. Salah satu kegiatan integrasi tanaman sawit dan jagung di Desa Makmur, Kecamatan Tulin Onsoi, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.
Senyum nampak dari wajah Bahtiar. Petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Tunas Harapan menggelar panen jagung hibrida perdana di tengah kebun kelapa sawit yang masih muda. Produktivitasnya pun lumayan tinggi mencapai 12,5 ton per/ha.
Panen perdana ini dihadiri `Camat Tulin Onsoi, Kristoforus; Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Inamah; Kepala Desa dan Babinsa. Camat Tulin Onsoi Kristoforus Balake mengungkapkan rasa senangnya terhadap hasil panen jagung hibrida.
“Itu hasil yang lumayan bagus, saya melihat kelompok tani melalui penyuluh pertanian lapangan harus kita dorong terus dan lakukan pendampingan agar lebih memperluas budidaya jagungnya,” ujar Kristofurus
Camat Kristoforus mengakui, potensi pengembangan jagung hibrida di Kecamatan Tulin Onsoi sangat terbuka. Terutama yang dibudidayakan warga dari luar daerah, mereka cukup bersemangat. Seperti di Desa Sanur dan Desa Makmur. Sedangkan warga lokal masih perlu pendampingan dari PPL.
“Untuk pemasaran juga bagus, saya lihat kendala yang dihadapi hanya akses jalan menuju lokasi. Ini perlu direncanakan seperti pembangunan jalan usaha tani agar memudahkan petani dalam mengangkut hasil panennya,” kata Kristoforus.
Sementara Kepala BPP Keecamatan Tulin Onsoi, Inamah mengatakan, Kelompok Tani Tunas Harapan ini menanam jagung hibrida memanfaatkan tanaman sela diantara kelapa sawit yang masih muda berumur di bawah 3 tahun. Jadi tanaman kelapa sawit belum terlalu tinggi.
“Banyak lahan kebun kelapa sawit anggota kelompok tani yang masih belum menghasilkan (TBM), ini kita manfaatkan secara baik dengan menanami jagung hibrida, agar petani memperoleh tambahan penghasilan selama menunggu tanaman kelapa sawit berbuah,” kata Inamah.
Ia menambahkan, Poktan Tunas Harapan rutin menanam jagung hibrida. Namun kali ini varietas yang dibudidayakan adalah Bisi-18 yang merupakan bantuan mandiri dari Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Nunukan.
Masih menurut inamah saat ini harga jagung hibrida pipilan di pasaran cukup baik sekitar Rp 5.000/kg. Selain itu DPKP Kabupaten Nunukan beberapa waktu yang lalu juga sudah mengalokasikan bantuan 2 unit mesin perontok power thresher multiguna untuk Kecamatan Tulin Onsoi.
“Mesin inilah yang kita lakukan uji coba untuk merontokkan jagung hasilnya sangat bagus, ini sangat bermanfaat dan memudahkan petani. Kita berharap kelompok tani makin bersemangat dalam melakukan usaha budidaya jagung hibrida,” katanya.