Sunday, 19 April 2026


Harga Gabah Turun, Dirjen TP ajak Turun ke Lapangan Lagi

09 Jul 2021, 20:25 WIBEditor : Yulianto

Petani panen padi

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Kementerian Pertanian mulai menggerakkan daerah untuk menyerap gabah petani di tengah dinamika harga panen saat ini. Ada beberapa daerah yang kini mengeluh harga gabah jatuh.

“Kita perlu turun lagi gerak di lapangan mensolusi ini,” ujar Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi saat rapat bersama para pemangku kepentingan hari Selasa (6/7) lalu.

Dari data petugas informasi pasar, terdapat laporan harga di bawah HPP (Harga Pembelian Pemerintah) di 60 Kabupaten. Bagi kabupaten yang mengalami harga di bawah HPP, Suwandi meminta agar segera turun tangan.

“Kta bersama Perpadi, Bulog dan RNI mari mengatasi masalah ini. Bagi Perpadi yang kesulitan modal untuk serap gabah kita fasilitasi dengan bank setempat untuk akses KUR,” kata Suwandi

Suwandi saat diwawancara Jumat (9/7) menegaskan kembali untuk penyiapan early warning sistem potensi panen. Gerakan brigade panen perlu dilakukan bersama Kostraling, Perpadi, Dinas Pertanian dan supporting dari himbara untuk serap gabah.

“Kita koordinasi dengan Bulog, lakukan upaya mekanisasi di wilayah hujan dengan dryer, sehingga harga tidak terlalu jatuh. Siapkan alat penggilingan yang bagus. Kemudian  Sesuai Cara Bertindak 3 dari program Pak Menteri Syahrul Yasin Limpo, siapkan juga untuk membangun lumbung pangan,” katanya.

Puncak Panen Kedua

Menurut Suwandi, puncak panen kedua harga sudah terdampak turun di bawah HPP. Artinya sistem di hilir belum begitu kuat dibanding tahun lalu, sehingga perlu solusi jangka pendek. “Solusi jangka pendek  harga jatuh supaya segera turun ke lapangan serap gabah seperti di Grobogan dan Brebes,” katanya.

Jangka menengah dengan turunkan losses (kehilangan panen), dryer diperkuat sehingga penggilingan naik kelas menjadi semi modern dan super modern. Kemudian jangka panjang sistem logistik, distribusi dan hilirisasi diperbaiki,” ujarnya.

Mohamad Suyamto, Direktur SCPP Perum Bulog mengakui, adanya kendala saat ini, karena gudang saat ini penuh. Penyaluran Bulog saat ini lebih untuk operasi pasar yang sifatnya tidak tentu saat harga tinggi.

Ia berharap adanya keseimbangan hulu dan hilir. “Mari bersama kita serap hulunya dan hilirnya juga. Kami ingin ada saluran pasti terkait hilir sehingga bisa maksimal menyerap gabah petani,” kata Suyamto.

Sebagai informasi pengadaan 2021 Bulog  telah serap 741 ribu ton atau setara hampir 1,4 juta ton GKP petani. Posisi stok kami sudah 1,3 juta ton, sudah mendekati ketetapan pemerintah 1-1,5 juta ton. Stok lama masih ada 300 ribuan ton. Kami sangat menunggu stok lama ini ada penyelesaian sehingga kita bisa menyerap,” tuturnya.

Sementara itu Ketua Perpadi Sutarto Alimoeso mengakui pasar beras sedang lesu. Perpadi yang Sebagian besar penggilingan kecil umumnya juga juga mengalami kesulitan menyalurkan beras.

Sutarto mengusulkan pemikiran bagaimana menyelesaikan hulu hilir secara baik dengan menyediakan anggaran lebih agar bisa revitalisasi dan menyediakan modal cukup bagi penggilingan. “Penyaluran setelah beli harus menjadi perhatian, saya piker Pemda bisa berinisiatif menyerap gabah dari penggilingan kecil,” katanya.

Reporter : Humas Ditjen Tanaman Pangan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018