Saturday, 23 October 2021


Talas, Komoditas Pangan Masa Depan

21 Jul 2021, 12:04 WIBEditor : Yulianto

EKSPLORASI PANGAN LOKAL : TALAS TAK HANYA BOGOR

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Mendengar nama talas, mungkin sebagian besar masyarakat pasti akan terpikir Kota Bogor. Memang pamor talas dari Kota Hujan cukup populer. Tapi ternyata talas bukan hanya di Bogor, beberapa wilayah di Tanah Air juga tumbuh tanaman umbi tersebut.

Bahkan ada talas Indonesia yang cukup dikenal di pasar luar negeri. Seperti diungkapkan Guru Besar Fakultas Pertanian IPB, Edi Santoso bahwa talas Pontianak ternyata cukup dikenal di mancanegara. “Disana talas Pontianak dijual dalam bentuk frozen,” ujarnya saat FGD: Eksplorasi Pangan Lokal: Talas tak hanya Bogor, Rabu (21/7).

Dengan dikenalnya talas Pontianak di luar negeri, Edi Santoso melihat, justru pangan lokal Indonesia mendapat apresiasi cukup besar. Sebaliknya, bangsa Indonesia justru kurang memperhatikan komoditas pangan lokal, termasuk talas. “Kadang kita kaget, orang lain lebih mengapresiasi, kita tidak banyak memperhatikan,” sesalnya.

Di Indonesia ada emapt jenis talas. Pertama, jenis Colocia esculenta yang merupakan kelompok talas bentul, seperti talas Pontianak. Kedua, talas Xanthosoma nigrum (jenis kimpul, belitung, mbothe). Ketiga, Allocasia macrorhiras (sente, talas padang(. Keempat, Cyhtosperma merkusi (keladi purba dan talas rawa). “Semua talas itu bisa dimakan,” ujarnya.

Edi Santoso melihat potensi pasar luar negeri talas cukup besar. Ada beberapa negara yang juga penghasil talas, seperti Jepang yang lebih banyak mengonsumsi batang talas, Filipina dan Malaysia. “Bahkan IPB menginisiasi konsorsium dengan anggota dari negara Malaysia dan Filipuna. Konsorsium itu bukan hanya untuk ekspor, tapi memperkuat ketahanan pangan,” katanya.

Artinya, talas akan menjadi pangan masa depan. Apalagi jika melihat nilai gizinya talas yang cukup besar. Diantaranya, vitamin A, C, B12, calcium dan kalium. Ada juga talas yang memiliki kandungan glukomanan. “Dengan kadar energi rendah, cukup bagus bagi orang yang gemuk, tapi tetap bisa kenyang saat mengonsumsinya,” ujarnya.

Sebagai pangan masa depan, talas merupakan tanaman amfibi yang mudah beradaptasi di lahan basah, lembah dan kering. Jadi sangat adaptif dengan perubahan iklim. Talas juga bisa ditanam di lahan terbuka maupun bawah naungan.

Sementara itu Penyuluh Pertanian Banten, Arifullah mengatakan, peluang pasar talas cukup besar, bukan hanya dalam bentuk umbi dan tepung, tapi juga daun talas. Di luar negeri seperti Eropa dan Asia, permintaan talas dalam bentuk beku (frozen) dan chip/gaplek kering sebanyak 50-100 ton/bulan.

Daun talas beneng juga kebutuhannya sangat tinggi, baik dalam bentuk beku  dan kering. Di luar negeri permintaannya mencapai 100-300 ton/bulan. “Munculnya pasar daun talas, karena ada pelaku usaha yang mencoba membuat terobosan membuat produk berbahan baku talas. Sekarang ini banyak untuk herbal,” ujarnya.

Diversifikasi Pangan

Sementara itu, Kepala Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi mengatakan, talas menjadi produk pangan yang berpotensi untuk diversifikasi pangan. Pemerintah telah menyiapkan tiga strategi. Pertama, peningkatan produksi/ketersediaan komoditas talas. Kedua; promosi melalui format peraturan gubernur/bupati/kota, dan media sosial.

Ketiga, memperbaiki akses masyarakat terhadap pangan lokal melalui penguatan UMKM, fasilitasi KUR, pendampingan dan branding, serta membuka pasar, baik melalui digital dan market place. “Saya ingin orang nanti mau makan talas, jangan disuruh cabut dan kupas dulu, tapi bisa mendapatkan dalam bentuk frozen talas,” ujarnya.

Saat ini sentra produksi talas yakni, Jawa Barat (Bogor, Cianjur, Kuningan, Ciasrua), Jawa Tengah (Temanggung, Gunung Lawu dan Wonogiri), Jawa Timur (Malang), Kalimantan Barat (Mempawah), Sumatera Barat dan Papaua Barat. “Sejauh ini data jumlah produksi talas di Indoensia belum tercatat dalam statistika nasional, dan masih sebatas data statistika provinsi dan kabupaten/kota,” katanya.

Agung melihat konsumsi talas sejak empat tahun terakhir cenderung turun. Jika tahun 2017 mencapai 0,88 kg/kapita/tahun, maka tahun 2020 hanyak 0,45 kg/kapita/tahun. Target pemerintah konsumsi talas bisa meningkat 1,8 kg/kapita/tahun. “Untuk mengangkat konsumsi cukup berat, karena dalam empat tahun terakhir turun terus,” ujarnya.

Untuk menyatukan pelaku usaha talas, perlu sekiranya ada komunitas pelaku usaha talas seperti Masyarakat Singkong Indonesia. 

Bagi sahabat Sinar Tani yang ingin mendapatkan materi FGD dan melihat kembali tanyangan bisa didownload di link bawah ini. Begitu juga sertifikat bagi yang telah mengikuti FGD-nya.

LINK MATERI : FGD EKSPLORASI PANGAN LOKAL: Talas tak hanya Bogor

LINK SINTATV : FGD EKSPLORASI PANGAN LOKAL: Talas tak hanya Bogor

LINK SERTIFIKAT : SERTIFIKAT FGD EKSPLORASI PANGAN LOKAL: Talas tak hanya Bogor

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018