Tuesday, 03 August 2021


Sempat Tenggelam, Popularitas Talas Beneng Kembali Pesat

21 Jul 2021, 14:20 WIBEditor : Gesha

Arif dan Talas Beneng | Sumber Foto:ARIF

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Bagi pecinta talas-talasan, pastinya kenal dengan Talas Beneng khas Banten yang besar-besar tak terkira. Sempat tenggelam dan ditinggalkan, kini popularitas Talas Beneng  kembali pesat karena peluang pasar olahan baru, daun talas untuk bahan herbal. 

"Talas Beneng itu bukan cuma Talas yang besar dan koneng, tapi beuneur (padat) karena dari segi postur yang besar, " ungkap Koordinator Penyuluh BPP Pabuaran, Kab Serang, Arifullah S.P yang kini juga menggeluti usaha budidaya dan olahan Talas Beneng. 

Dalam Focus Group Discussion : Eksplorasi Pangan Lokal: Talas tak hanya Bogor yang digelar TABLOIDSINARTANI, Rabu (21/7), Arif menceritakan, masyarakat di Banten sudah mengolah talas beneng menjadi tepung dan berbagai makanan olahan. 

Sudah sejak 2008, Talas Beneng ini disosialisasikan menjadi sumber pangan alternatif selain beras, tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal hingga saat ini sehingga diperlukan perencanaan pengembangan talas beneng dari hulu sampai hilir. 

"Saya sendiri kenal Talas Beneng sejak 2011 sewaktu bertugas di BPP Kecamatan Ciomas Kab. Serang yang memang banyak tumbuh Talas Beneng ini secara liar. Saya saat itu menginventasir dengan keliling di desa-desa habitat Talas Beneng liar ini, hampir di setiap desa ada, " tuturnya seraya mengingat masa lalu. 

Dirinya bersama penggiat Talas Beneng saat itu terus melakukan sosialisasi pengolahan dan pemasaran. "Kita awali bersama penyuluh pertanian lainnya di Pandeglang untuk pasarkan tepung dari Talas Beneng ini. Saat itu, pemanfaatan nya hanya dari umbi kemudian dibuat tepung. Petani belum tertarik, sedangkan menunggu panen itu membutuhkan waktu yang lumayan lama," jelasnya. 

Hingga tahun 2017, penggiat Talas Beneng mendaftarkan ke PVT Kementan untuk komoditas Talas Beneng ini sebagai unggulan Banten. Kini, nama Beneng sudah tersertifikasi di Kementan. Dari mulai keluarnya sertifikasi, muncul kemudian pasar daun di Banten melalui beberapa pelaku usaha yang membuat terobosan menyerupai tembakau dan diproduksi menjadi bahan herbal. "Sehingga sekarang selain umbinya, daun Talas Beneng untuk menjadi daun rajangan kering menyerupai tembakau. Tak hanya di dalam negeri, daun Talas Beneng itu juga dibutuhkan di pasar luar negeri, " tegasnya. 

Karena bagus secara nilai ekonomi dan menjadi makanan sehat di masa depan, sebagai seorang penyuluh, Arif terus mengajak petani untuk bisa menanam Talas Beneng di pekarangan maupun lahan non produktif.

"Setiap kita sosialisasikan memang petani selalu tanya jaminan pasar serta kejelasan harga, kami selalu meyakinkan petani tentang informasi pasar yang terjamin mulai dari Talas beku, chips atau gaplek kering untuk umbinya, hingga daun Talas itu sendiri. Tak hanya di dalam negeri, bahkan sampai luar negeri, " bebernya. 

Tercatat hingga kini, pertanaman Talas Beneng di Kabupaten Serang mencapai 130 hektar. Kalau untuk keseluruhan Banten ada 700 hektar. Bahkan dengan mudahnya sosialisasi melalui media sosial, petani talas beneng bisa semakin meningkat. 

Untuk mengajak petani terjun pada usaha Talas Beneng, dirinya sampai membuat percontohan skala budidaya hulu hilir di Desa Telaga Warna, Kecamatan Pabuaran, Kab.Serang. "Awalnya banyak yang meragukan karena di habitat liar masih banyak. Tapi setelah ada aktivitas jual beli dan hilirisasi disini, akhirnya mereka terbuka dan mulai tertarik. Kita pun mulai berdayakan Poktan, Gapoktan sekitar untuk bisa mengembangkan pasar olahan Talas Beneng, " tuturnya 

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018