Tuesday, 03 August 2021


Rekomendasi IPB agar Konsumsi Talas Tak Sekedar Kampanye

21 Jul 2021, 16:40 WIBEditor : Gesha

Olahan talas dan kampanye pangan lokal | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Masuk dalam golongan tanaman “amphibi”,  sejauh ini sangat mudah melaksanakan budidaya talas . Yang jadi tantangan adalah bagaimana mempermudah petani terhubung ke konsumen.  Institut Pertanian Bogor (IPB University) dalam hal ini menawarkan sejumlah solusi untuk mendukung pengembangan pasar komoditas talas di tanah air.

Dalam acara FGD bertema “Talas Tak Hanya Bogor” yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, Rabu (21/07), Kepala Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian IPB, Prof Edi Santosa, mengemukakan bahwa talas merupakan tanaman masa depan karena tumbuhan ini sangat adaptif terhadap perubahan iklim .

"Talas mudah menanamnya dan  cepat  tumbuhnya.  Karena  mampu tumbuh baik di kondisi kering  maupun basah (berair)   maka talas termasuk ke dalam jenis tanaman amphibi. Fakta lain menunjukkan , tanaman talas sangat cocok dijadikan sebagai tanaman pendamping yang tak memerlukan input produksi tinggi. Jadi sangat berpotensi untuk menambah penghasilan petani asalkan disertai upaya pengembangan pasarnya,” beber Prof Edi.

Mendorong pengembangan pasar serta konsumen (cosumer driven) komoditas talas dinilai Prof. Edi penting sebab upaya mendorong produksi (production driven) sangat mudah dilakukan jika memperhatikan banyak keunggulan dari aspek agronomisnya seperti mudah tumbuh dan tak perlu perawatan khusus.

Prof Edi menuturkan, salah satu upayanya antara lain dengan mendorong pengembangan konsumen talas bisa dilakukan sejak dini misalnya dengan memasukkan mata ajar budidaya umbi-umbian ke dalam kurikulum sekolah. “Seperti di Jepang itu anak usia sekolah sudah diajari berkebun umbi-umbian. Kalau bisa diterapkan di Indonesia dengan mengajarkan anak-anak menanam talas Bogor maka ke depan masyarakat menjadi terbiasa mengkonsumsi talas,” jelas Prof Edi.

Tak hanya anak-anak, ibu-ibu rumah tangga juga dipandangnya juga perlu diberdayakan untuk bisa menjadikan talas sebagai kudapan keluarga sehari-hari.  Kaum ibu sangat potensial menjadi penyambung lidah dan sarana yang tepat untuk mempromosikan kehebatan dan kelezatan talas. “Kaum ibu sekarang juga kebanyakan sudah memegang hp, karena itu media seperti Sinar Tani juga bisa berperan menampilkan info lengkap termasuk  tentang varian pangan olahan berbahan dasar talas sehingga bisa diakses  ibu-ibu rumah tangga,” ujarnya.

Gaet Pariwisata

Upaya lain yang dapat dilakukan untuk mendorong minat mengkonsumsi talas adalah dengan melaksanakan even-even yang dikaitkan dengan kegiatan budaya. Seperti di Hawaii  secara rutin digelar aktivitas festival talas. Kegiatan ini melibatkan segala usia dan golongan masyarakat dan menjadi sarana tepat mengenalkan kehebatan talas sebagai salah satu bahan pangan yang menyehatkan dan kaya akan gizi.

Blending pariwisata dan pangan lokal , menurut Prof Edi juga bisa dijadikan solusi untuk mengatasi kendala dalam peningkatan konsumsi talas di masyarakat.  Di wilayah-wilayah sentra budidaya talas sebaiknya dikembangkan aneka produk olahan berbasis talas. Pangam lokal ini dipromosikan sebagai makanan khas daerah dan dijadikan buah tangan untuk mendukung kegiatan pariwisata di daerah bersangkutan.

Sebagai contoh disebutkan, di daerah NTT banyak diproduksi labu kuning.  Masyarakat setempat pun mulai banyak yang berfikir untuk mengembangkan pengolahan labu kuning menjadi mie yang bisa digunakan mendukung usaha kuliner berbasis mie. “Di Kupang sudah ada yang melakukan pengolahan talas jepang  dan ada yang berkreasi menjualnya dan memasaknya menjadi seperti  bakso berbentuk bulat kecil-kecil.  Jenis kuliner ini kian banyak penggemarnya ,” ujar Prof Edi. 

Reporter : Ika Rahayu
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018