Tuesday, 03 August 2021


Tambah Produksi Jagung, Kementan Garap Lahan Lapas

22 Jul 2021, 08:21 WIBEditor : Yulianto

Pengembangan jagung di lahan lapas | Sumber Foto:Iqbal

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Salah satu upaya pemerintah meningkatkan produksi jagung adalah mengembangkan perluasan kawasan tanaman. Selain kawasan umum yang sudah eksisting baik swadaya maupun kawasan lainnya yang mencapai 4,26 juta hektar (ha), kini sedang dilakukan program perluasan di kawasan khusus.

Pengembangan tanaman jagung tahun untuk kawasan khusus pada tahun 2021 ini ditargetkan mencapai 9.000 ha. Salah satu kawasan khusus yang menjadi proyek percontohan pengembangan tanaman jagung adalah lahan-lahan tidak terpakai milik Lembaga Pemasyarakatan dan Rumah Tahanan Milik Negara.

Dirjen Tanaman Pangan, Kementerian Suwandi mengatakan, Kementerian Pertanian telah meneken nota kesepahaman (MoU) dengan Kementrian Hukum dan HAM. Kerjasama itu sudah dimulai pada tahun 2020 lalu. Tahun ini dilaksanakan pada lahan seluas 165 ha lahan milik 13 Lapas dan Rutan yang tersebar di 8 provinsi di seluruh Indonesia.

Pemilihan komoditas jagung karena tanaman ini yang paling sederhana dan mudah perlakuan budidayanya, katanya. Apalagi lanjut Suwandi, budidaya tanaman jagung bisa dilakukan di berbagai jenis lahan, baik sawah, kering, perbukitan dan lain sebagainya.

“Dalam kerjasama ini kami sediakan semua kebutuhan, mulai dari benih, herbisida pupuk sampai pengolahan lahan yang dikawal oleh dinas pertanian di masing-masing daerah lokasi Lapas berada,” tutur Suwandi.

Dikatakan, untuk varietas disesuaikan dengan lahan dan kebutuhan masing-masing wilayahnya. Hasil panen nantinya dapat dikonsumsi sendiri untuk ketahanan pangan di dilingkungan Lapas. Namun bila produksi berlebih kami akan bantu untuk pemasarannya dengan model kemitraan dengan pengusaha lokal,” ujarnya.

Menurut Suwandi, jika sudah berhasil dengan sistem monokultur, maka bisa dikembangkan model Integrated Farmimg. Beberapa komoditas lain bisa diselipkan diantara tanaman jagung seperti sayuran, cabai, kacang hijau dan lain-lain, sehingga lahan bisa dimaksimalkan pertanamannya, dan skala ekonomis menjadi tinggi.

Thurman Hutapea Direktur Pembinaan Narapidana dan Latihan Kerja Produksi KemenkumHam mengakui, banyak manfaat yang diperoleh dalam budidaya jagung di lahan Lapas ini. Selain meningkatkan ketahanan pangan Lapas dan Rutan, ada empat hal positif bisa diperoleh dari kegiatan ini.

Yang utama adalah peningkatan pengetahuan, pengalaman dan kepercayaan warga binaan yang akan menjadi bekal ketika bebas nanti,” katanya. Bahkan bagi petugas Lapas dan Rutan, juga mendapatkan pengetahuan serta kreatifitas dalam mengolah hasil panen jagung, seperti di Lapas Ciangir Banten. Mereka mengolah jagung menjadi emping jagung bekerjasama dengan masyarakat sekitar untuk dijual.

Thurman menambahkan, bagi instansi pemerintah yang memiliki lahan tidur menjadi salah satu upaya otimalisasi lahan yang akan memberikan hasil yang positif. Terakhir, apabila hasil panen sangat tinggi, selain dikonsumsi warga binaan, juga bisa dijual ke pasar sehingga dapat meningkatkan Pendapatan Negara Bukan Pajak.

Saat ini  baru ada 13 Lapas dan Rutan yang mengikuti kegiatan ini. Diantaranya, RTN Kelas I Labuhan Deli, LP Terbuka Kelas IIB Ciangir, LP Terbuka Kelas IIB Kendal, LP Terbuka Kelas IIB Nusakambangan, RTN Kelas IIB Sengkang, LP Kelas IIB Selong, LP Kelas IIA Sumbawa, LP Kelas IIA Kupang, LP Kelas IIB Atambua, RTN Kelas IIB Kefamenanu, LP Wanita Kelas III Gorontalo dan LP Kelas III Pahowato. “Total luas lahannya sekitar165 ha,” ujarnya.

Thurman menambahkan, total Lapas dan Rutan di Indonesia berjumlah 528, yang sudah menjadi proyek percontohan baru 13 saja. Harapannya, kerjasama ini bisa direplikasi ke semua Lapas dan Rutan yang memiliki lahan tidur di 34 provinsi di Indonesia, sehingga bisa ikut membantu program ketahanan pangan nasional.

Reporter : Iqbal
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018