
Panen di Pandeglang
TABLOIDSINARTANI.COM, Pandeglang---Hama dan penyakit tanaman memang kerap menjadi ‘tamu’ petani yang tak diundang ketika musim tanam. Namun dengan pengamatan sedini mungkin, serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) bisa dikendalikan.
Seperti yang dilakukan petugas pengamat organisme tumbuhan (POPT), di Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, Banten yang sukses mengantarkan petani padi panen besar dengan teknik pengendalian yang diterapkan.
Hilman Jayadiningrat POPT Kecamatan Mandalawangi mengatakan, Kecamatan Mandalawangi tempatnya bertugas memiliki keunikan yakni tiap hari tanam, tiap hari panen, sehingga POPT harus tetap siaga 24 jam. Maksudnya, setiap hari ada yang tanam padi, karena air selalu tersedia. “Ujung -ujungnya panen pun tiap hari juga,” ucapnya.
Keunikan itu berdampak terhadap hama penyakit, karena tidak ada pemutusan rantai makanan, sehingga tanaman rentan terserang hama penyakit. Sementara itu, penggunaan bahan kimia secara terus menerus pada tanaman akan membuat hama menjadi resisten, sehingga dapat menimbulkan ledakan hama.
“Kita berupaya agar ekosistem tetap seimbang sehingga walaupun ada hama tidak merugikan petani. Penggunaan refugia, serta pelestarian musuh alami agar pertanaman tetap aman. Namun pengendalian hama harus dilakukan jika terdapat peningkatan jumlah populasi hama terutama WBC,” tuturnya.
Edukasi Petani
Karena itu menurutnya, POPT di lapangan harus pengamatan untuk mengetahui populasi dan intensitas serangan hama. Itu memang tugas utama POPT. Selain itu, petani juga diedukasi supaya mempunyai kemampuan mengelola, terutama padi.
Untuk mengamankan potensi hasil dari gangguan hama dan dampak fenonena iklim seperti banjir dimusim penghujan dan kekeringan di musim kemarau, Hilman menerapkan berbagai kiat di lapangan. Misalnya, edukasi dengan mengajak petani bertani tidak hanya untuk makan, tapi berusaha tani dengan melaksanakan budidaya tanaman sehat agar lebih hemat dan memberikan keuntungan maksimal.
Budidaya tanaman sehat menurut Hilman dimulai dari persiapan lahan sawah dengan menggunakan bahan organik sebagai pupuk dasar agar sawah bisa kembali subur. Dalam pemilihan benih menggunakan garam agar mendapat benih yang bernas.
Sementara saat persemaian diupayakan pengumpulan kelompok telur penggerek batang padi tidak menggunakan bahan kimia melainkan dengan mekanik. Saat tanaman dipindah ke lahan sawah harus dalam keadaan sehat tidak dipotong dan tidak mengandung penyakit, tidak luka pada bagian akar sehingga tanaman mudah tumbuh.
“Dengan kondisi tersebut tanaman menjadi lebih sehat seperti bayi saja pada manusia jika bayi sehat jarang sekali terkena penyakit,” ujarnya. Bahkan lanjut Hilman, budidaya tanaman sehat berimbas pada beras yang dihasilkan. Rasanya akan lebih pulen dan tidak gampang basi, serta aman dikonsumsi karena minim kandungan kimia dan bernilai jual tinggi.
Selama Juli 2021, seluas 210 hektar lahan padi di Kecamatan Mandalawangi berhasil panen dengan hasil memuaskan hingga 7 – 8 ton/ha. Sementara luas panen keseluruhan pada musim tanam April – September diperkirakan 775 ha dengan puncak musim panen diperkirakan pada September mendatang.
Pemerintah Provinsi Banten terus berupaya meningkatkan produksi beras untuk memperkuat ketahanan pangan. Pada musim tanam ketiga 2021 ini, Dinas Pertanian di Provinsi Banten melakukan pengawalan proses tanam panen padi dengan target luasan lahan sekitar 37 ribu hektar (ha). Karena itu ketersediaan bibit dan pengairan terus dilakukan pemantauan.
“Langkah ini menjadi bagian upaya pemenuhan kebutuhan pangan, khususnya beras di Provinsi Banten. Pada saat ini cuaca sangat mendukung, karena masih dalam musim kemarau basah,” kata Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten Agus M Tauchid.
Berdasarkan data Dinas Pertanian, sementara ini neraca ketersediaan beras terhadap kebutuhan di Banten Tahun 2021 menunjukkan surplus sebesar 124.050 ton beras. Pantauan lapangan menunjukan bahwa proses panen padi di wilayah utara masih berlangsung.
“Di Kecamatan Sukadiri Kabupaten Tangerang masih ada lahan sekitar 30 ha yang dipanen. Sedangkan wilayah selatan, rata-rata proses panen sudah selesai. Para petani mulai proses olah tanah untuk musim tanam ketiga,” ungkap Agus.
Merujuk pada rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat pada 1 Maret 2021, Provinsi Banten menempati posisi sembilan besar produsen beras secara Nasional tahun 2020. Dengan luas panen 325.333 ha, Banten menghasilkan padi 1.655.170 ton GKG (Gabah Kering Giling) atau setara 937.815 ton beras.
Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo menyampaikan bahwa sektor pertanian adalah sektor penting, terutama dalam meningkatkan ekonomi nasional. Untuk itu petani harus melakukan cara-cara bertani yang modern, membuat inovasi sebagai upaya bersama pemerintah dalam meningkatkan produksi dan membuka lapangan kerja bagi rakyat Indonesia.
"Kita tidak lagi menggunakan pendekatan bantuan-bantuan. Tapi kita mau melatih petani yang berpikir, menggunakan intelektualnya. Kerja dan berpikir keras untuk kemajuan pertanian Indonesia, “ katanya.
Sementara itu Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Dedi Nursyamsi menyebut bahwa Target Kementerian Pertanian yaitu peningkatan produktivitas dan hal ini dapat diraih jika ada yang menggerakkan.
“Tokoh penggerak utama pembangunan pertanian adalah penyuluh, petani dan petugas lapangan lainnya seperti POPT atau petugas alsintan," katanya.
Untuk itu, pengamatan secara rutin dan pengendalian sejak dini dapat menekan angka OPT sehingga target dapat tercapai secara optimal. Secara berkala petani bersama petugas lapangan dan POPT melaksanakan gerakan pengamatan guna tercapainya target produksi yang optimal.