Thursday, 18 August 2022


Sumber Pangan Alternatif, Peluang Sorgum Mengagumkan

26 Aug 2021, 16:11 WIBEditor : Yulianto

Sorgum alternatif pengganti beras | Sumber Foto:lipi.go.id

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Ada komoditas pangan lokal alternatif yang berpotensi besar menjadi produk olahan dan mempunyai potensi pasar yang besar baik dalam dan luar negeri. Namanya, Sorgum.

Sorgum merupakan tanaman yang masih satu keluarga dengan padi, jagung, dan gandum. Komoditi ini menjadi salah satu jenis tanaman serbaguna yang dapat dijadikan sebagai sumber pangan alternatif, bahan pakan ternak dan bahan baku industri.

Sorgum memiliki sejumlah keunggulan. Diantaranya, daya adaptasi adroekologi yang luas, tahan terhadap kekeringan, dapat dipanen beberapa kali serta tahan terhadap hama dan penyakit.  Tanaman ini banyak ditemui di wilayah kering dan tadah hujan seperti di wilayah selatan Pulau Jawa, Sulawesi Selatan, NTB dan NTT.

Kandungan protein dan unsur nutrisi dalam biji Sorgum diketahui lebih tinggi dibandingkan beras, sehingga prospek bisnisnya cerah sebagai komoditi pangan unggul baru dan bahan bioenergi.

Menurut Dosen Fakultas Pertanian Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Dr. Puji Harsono melihat potensi sorgum sebagai sumber diversiifkasi pangan subsitusi beras juga cukup besar. Kenyataannya, untuk 2020 produksi beras sudah mulai defisit di 7 provinsi dan jagung 11 provinsi.

“Karena itu, sudah selayaknya komoditas sorgum yang memiliki kandung protein lebih tinggi dari beras dan jagung yakni 11 gram per 100 gram sorgum,” katanya.

Pengembangan sorgum juga bisa memanfaatkan lahan marginal. Ada sekitar 80 juta lahan kering di Indonesia. Dari luasan itu baru 10 persen yang dimanfaatkan untuk budidaya tanaman pangan. “Karena itu sorgum bisa menjadi tanaman unggulan,” tegas Puji.

Ada beberapa kelebihan sorgum. Pertama, sebagai pakan, bisa hijauan atau silase yang bisa disimpan selama 4 bulan, sehingga dapat diberikan saat musim kering. “Sorgum cocok untuk ternak sapi dan unggas,” katanya.

Sorgum juga bisa untuk kebutuhan pangan yakni substitusi tepung terigu, sumber energi terbarukan (biofuel), dan industri lainnya. Selain itu, pemanfaatan sorgum dapat menggunakan model pertanian zero waste karena batangnya dapat digunakan sebagai partikel board dan bagloog jamur.

"Malai sorgum dapat untuk kerajinan sapu. Akar sorgum juga dapat digunakan sebagai bioherbisida karena mengandung sorgoleana,” ujar Puji yang telah meneliti sejak tahun 2013.

Secara ekologi, sorgum adaptif lahan kering, lahan pasca tambang, lahan kawasan pesisir, lahan masam, lahan basa. Sorgum juga input sarana produksi juga rendah dan dapat diraton. “Sekali tanam bisa panen 2-3 kali. Bahkan hasilnya tidak besa jauh dengan panen pertama,” katanya.

Kelebihan lain menurut Puji, sorgum juga dapat menjadi pangan fungsional sebagai sumber karbohidrat alternatif, protein, mineral, vitamin, asam lemak esensial, serat dan antioksidan. Bahkan dapat mencegah penyakit degeratif seperti kanker, diabetes dan jantung.

“Kehadiran sorgum pada lahan kering dapat membantu mengurangi kemiskinan petani di lahan kering,” tambahnya. Sebab, nilai ekonomis sorgum bukan hanya biji sorgum, tapi juga batang dan  daunnya. Produktivitas sorgum manis mencapai 4-5 ton/ha, daun 8-16 ton/ha dan batang 30-50 ton/ha.

Tiga Jenis Sorgum

Peneliti BATAN, Prof. Soeranto mengatakan, setidaknya ada tiga jenis sorgum yakni, sorgum biji, sorgum biomass dan sorgum manis. Sorgum biji merupakan sumber pangan global dan tergolong sebagai pangan fungsional. Sedangkan sorgum biomass dapat diolah menjadi pakan ternak ruminansia yang dapat disimpan lama. Sementara sorgum manis dapat diolah menjadi sirup, gula atau diproses lebih lanjut menjadi bioenergi.

Karena itu, selain untuk diolah menjadi pakan ternak dan bahan bioindustri, sorgum juga dikenal sebagai bahan pangan dengan kandungan gluten free, low glycemic, antioxidant dan high fiber. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sorgum dapat disebut sebagai functional food.  “Sorgum adalah tanaman serealia yang memiliki daya adaptasi luas pada kondisi lahan marginal panas dan kering,” katanya.

Sementara itu, Dirjen Tanaman Pangan Suwandi menyampaikan besarnya potensi pengembangan shorgum. Pemerintah tahun ini akan memberikan stimulan bantuan pemerintah seluas 5.000 hektar dengan strategi melalui peningkatan produktivitas, perluasan tanam, peningkatan produk, hilirisasai produk olahan, kemitraan, akses KUR dan pengelolaan korporasi petani.

Adapun beberapa lokasi pengembangan shorgum antara lain Aceh, Riau, Jambi, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, NTT, Sulbar, Sulsel, Maluku, Papua Barat. Kedepan bukan tidak mungkin komoditi Sorgum akan menjadi komoditi primadona setelah padi dan jagung,” katanya.

Reporter : Humas Ditjen Tanaman Pangan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018