Thursday, 23 September 2021


Jagung Aman DIkonsumsi, Pengeringan Jadi Kunci

09 Sep 2021, 11:54 WIBEditor : Gesha

Pengeringan Jagung | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Menjadikan jagung sebagai bahan pangan fungsional membutuhkan aspek keamanan pangan yang tinggi agar aman dikonsumsi. Karena itu sebelum diolah, perlakuan pascapanen menjadi penting. Utamanya adalah perlakukan pengeringan untuk mencegah munculnya aflatoksin.

Keamanan pangan terus menjadi fokus utama dalam menghasilkan pangan yang aman dan berkualitas. Inovasi dalam keamanan pangan pun semakin berkembang dan dikembangkan, dalam menjamin keamanan pangan tersebut, banyak faktor yang terus ditingkatkan dan dijaga keamanannya seperti kontaminan pada proses produksi.

Peneliti jagung di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen), Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian, Iceu Agustinisari mengatakan untuk menghasilkan jagung yang aman dikonsumsi, maka dibutuhkan penanganan yang baik mulai dari produksi, pascapanen, hingga saat mengolahnya.

Perlakuan pascapanen dimulai dari pemetikan jagung, pengupasan dan pengeringan menjadi penentu dari jagung tersebut layak diolah bahkan dikonsumsi atau tidak. Kadar air pada jagung saat panen berkisar 30-35 persen sehingga harus langsung dikeringkan hingga 12-14 persen, setelah pengupasan klobot.

“Menumpuk hasil panen tanpa dikeringkan, sangat berpotensi untuk tumbuhnya cendawan atau kapang yang nantinya bisa menghasilkan mikotoksin, salah satunya aflatoksin yang berbahaya bagi kesehatan dan keamanan pangan,” jelasnya.

Lebih lanjut Iceu menerangkan, pengeringan bisa menggunakan sinar matahari di lahan saat panen atau di lantai jemur. Selain itu, pengeringan  bisa dilakukan secara mekanis menggunakan mesin pengering berbahan bakar solar atau minyak tanah.

Selain mengeringkan dengan tongkolnya, petani juga bisa mengeringkan dengan memipil jagung terlebih dahulu. Agar lebih cepat, bisa menggunakan mesin pemipil dan saat kondisi jagung kering dengan kadar air 17-18 persen.

Saat pengemasan, petani umumnya menggunakan karung biasa bekas pupuk. Namun cara ini menjadi sumber kontaminan baru dari hasil jagung yang telah dipipil dan dikeringkan. BB Pascapanen lebih menyarankan pengemasan dengan kemasan kedap udara agar CO2 lebih stabil dengan kerusakan fisik kurang dari 2 persen, dan kontaminan aflatoksin  kurang dari 3 ppb.

 

Sementara itu, saat penyimpanan disarankan fasilitas penyimpanan berupa silo, kondisi selama penyimpanan harus terkontrol oksigen uap air dan panas. Sebab pada kondisi suhu 28, kelembaban 70?n kadar air jagung 14%, daya tumbuh jagung masih mencapai 92. “Peningkatan suhu penyimpanan akan mempercepat kerusakan biji jagung,” tambahnya.

Untuk diketahui, Badan Standardisasi Nasional pada tahun 2009 telah menetapkan suatu standar yang mengatur dan menetapkan batas kandungan mikotoksin pada jagung. Standar tersebut menyebutkan bahwa batas maksimum kandungan aflatoksin pada biji jagung, pati jagung, makanan cereal (corn flakes), pop corn, dan pangan olahan lain yang mengandung jagung adalah 20 ppb untuk aflatoksin B1 dan 35 ppb aflatoksin total, sedangkan untuk biji jagung yang digunakan sebagai bahan pakan tidak lebih dari 50 ppb.

WHO, FAO, dan UNICEF telah menetapkan batas kandungan aflatoksin dalam makanan sumber karbohidrat yang dikonsumsi, tidak lebih dari 30 ppb 18. Bahkan European Commission menetapkan batas maksimal total aflatoksin lebih rendah yaitu 4 ppb untuk produk serealia.

Standar yang cukup rendah tersebut menjadi tantangan bagi pelaku usaha untuk meningkatkan mutu dalam penanganan pascapanen jagung. Walaupun SNI masih bersifat sukarela, namun pelaku usaha jagung mempunyai kewajiban untuk menyelaraskan mutu jagungnya dengan SNI, selain sebagai bentuk tanggung jawab kepada masyarakat, juga mampu meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut dalam perdagangan.

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018