Thursday, 23 September 2021


Kemitraan, Petani Kedelai Klaten dapat Jaminan Harga  

10 Sep 2021, 06:55 WIBEditor : Yulianto

Petani Klaten panen kedelai hasil kemitraan | Sumber Foto:Tut Wuri

TABLOIDSINARTANI.COM, Klaten---Sebagai salah satu komoditas tanaman pangan yang banyak dikonsumsi masyarakat di Indonesia, kedelai dapat dijumpai dalam berbagai aneka  olahannya. Mislanya, tempe, tahu, kecap, susu, dan masih banyak lagi olahan lainnya.

Walaupun komoditas ini sering bergejolak karena fluktuasi harga benih naik turun, tapi tidak mengurangi semangat petani giat menanam kedelai. Seperti petani Desa Burikan, Kecamatan Cawas di Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.

Petani yang tergabung dalam Kelompok Tani (Poktan) Mardi Tani tetap optimis menanam kedelai. Terlihat dari upaya mereka mempercepat tanam kedelai, sehingga pada Agustus lalu telah panen dengan hasil yang meggembirakan.

Pertanaman kedelai kali ini merupkan hasil kemitraan dengan PT. Java Agro Prima.  Direncanakan kemitraan petani tersebut bisa menghasilkan 100 ton, namun kali ini baru mencapai 55,5 persen.

Joko,  koordinator lapangan  di sela-sela acara kegiatan sortasi biji kedelai di Dusun Groyokan, Desa Burikan mengatakan, sampai kini total luas areal tanam program kemitraan mencapai 600 ha. Lahan itu tersebar di wilayah kecamatan Cawas, khusus di Burikan dan sekitarnya seluas sekitar 100 hektar. “Kami harapkan nanti bisa terpenuhi targetnya,” ujarnya.

Sementara itu menurut Tut Wuri Handayani, penyuluh pertanian Kecamatan Cawas saat ditemui dilapangan mengatakan, selama mendampingi petani di wilayah Kecamatan Cawas bagian selatan  mengatakan, bisanya saat panen kedelai harganya turun, hampir separuh harga saat petani membeli benih.

Namun Tut wuri salut dengan semangat dan tekad petani, terutama ketua kelompok tani bersama pengurus dan anggotanya membangun komitmen khususnya saat PPKM. Meski pandemi covid-19 dan ditengah kekeringan, pertanian terus bergerak. 

“Mereka tetap berikhtiyar yang penting bisa tanam adapun hasilnya mereka berharap bisa sesuai jerih paya,” kata Tut Wuri.  Alhasil, petani bisa bernafas lega karena sudah bisa panen dan harga yang disepakati sesuai.

“Tentunya sangat berarti sekali karena selama ini harga kedelai tidak melegakan petani saat panen, saya selaku petugas ikut mendukung kegiatan kemitraan ini semoga bisa berkelanjutan“ imbuh Tut Wuri. 

Petani yang tergabung dalam Poktan Mardi Tani setahun lalu telah menjalin  kemitraan dengan PT. JAP. Meski kondisi cuaca yang terkadang tidak bisa diprediksi  dan tidak ada program khusus, mereka tetap menanam kedelai dengan benih sendiri dari hasil panen. Hasil panennya, petani menjual ke mitra dan mempunyai kepastian harga. 

Hal ini dibenarkan Ketua Poktan Mardi Tani, Slamet Raharjo bahwa tahun 2020 lalu  petani telah menjalin kemitraan. Produksi tahun 2020 baru bisa mencukupi 8 ton, tapi tahun ini bisa meningkat menjadi 55,5 ton yang dihasilkan dari pertanaman Agustus. Selanjutnya target Oktober semoga bisa mencapai target 100 ton kedelai Cawas,” katanya.

Hasil panen kedelai tahun ini adalah dari benih bantuan dari Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Klaten tahun 2021. Sebagian adalah benih dari pematang yang Maret lalu petani tanam.  Tahun 2021 ini, program untuk kedelai mencapai 600 ha di Kecamatan Cawas.

Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo mengatakan, bahwa penyediaan kedelai dalam jumlah mencukupi sangat penting sebagai bahan pangan bergizi bagi masyarakat. Terkait hal tersebut membutuhkan dukungan dari berbagai stakeholder ditengah kondisi pandemi seperti sekarang ini.

"Untuk 273 juta penduduk Indonesia, kita harus produksi sebanyak banyaknya, dan kebutuhan kedelai itu 2 sampai 3 juta ton. Orang di pulau Jawa tidak bisa makan tanpa tahu dan tempe. Sekarang kita banyak dipenuhi oleh impor, sementara di luar sana juga takut kehilangan sumber-dayanya. Jadi kita  tanam kedelai sekarang biar kita tahun depan kecukupan kedelai." kata Mentan.

Sementara itu Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi berharap agar penyuluh dan petani harus tetap semangat. Karena, pertanian tidak boleh berhenti meski dalam pandemi Covid-19.

"Di saat pandemi Covid-19 PDB pertanian meningkat. Itu bukti pertanian tidak berhenti, apa pun yang terjadi pertanian tidak berhenti. Meski anggaran untuk pertanian menurun, tetapi semangat tidak boleh turun, tidak boleh hilang," tegasnya.

Reporter : Tut Wuri H/ Yeniarta (BBPP Ketindan)
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018