Saturday, 23 October 2021


Kemandirian Benih Dukung Swasembada Kedelai

23 Jul 2013, 11:55 WIBEditor : Julianto

Peningkatan produksi kedelai nasional menuju swasembada, baik yang ditempuh melalui upaya peningkatan produktivitas maupun melalui perluasan areal tanam, pasti memerlukan penyediaan benih bermutu dari varietas unggul. Benih unggul tersebut harus memenuhi aspek kuantitas dan kualitas, serta penggunaannya secara konsisten.

Sayangnya, penyediaan benih kedelai bersertifikat (berlabel) di dalam negeri baru sekitar 8% dari kebutuhan potensial. Padahal benih padi sudah mencapai 37%. Terbatas dan sulitnya mendapatkan benih kedelai, kemudian memunculkan ide impor benih kedelai dari negara lain.

Namun Profesor Riset Badan Litbang Pertanian, Kemeterian Pertanian, Darman M. Arsyad menilai, impor benih kedelai merupakan ide yang kurang bisa dipertanggung-jawabkan, baik secara ilmiah, teknis dan ekonomis. Secara ilmiah dan teknis, varietas dari benih yang diimpor harus dilepas terlebih dahulu di Indonesia.  Tentunya telah melalui pengujian-pengujian lapang (uji multilokasi) dan laboratorium, sehingga memang layak untuk dilepas sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku.

Secara umum, menurut Darman, varietas kedelai dari negara subtropis memiliki karakter photoperiod sensitive (peka terhadap panjang hari), sehingga jika ditanam di wilayah tropis seperti Indonesia, varietas introduksi tersebut berbunga lebih cepat (kurang dari 1 bulan) dan masak lebih awal (kurang dari 3 bulan). Akibatnya, pertumbuhan dan hasilnya tidak optimal seperti di wilayah subtropis, yang umur berbunganya sekitar 2 bulan dan masak lebih 5 bulan.

Indonesia pernah melakukan pengujian varietas kedelai asal Amerika Serikat dalam program “INTSOY” pada akhir 1970-an dan awal 1980-an. Hasilnya menunjukkan tidak ada varietas-varietas tersebut yang lebih baik dibandingkan varietas dalam negeri, sehingga tidak ada varietas yang dilepas di Indonesia. Begitu juga pengalaman dengan varietas kedelai asal Australia pada tahun 1980-an.

Sebaliknya selama dua dekade terakhir (1991-2011) di Indonesia sudah melepas 48 varietas kedelai lokal. Varietas yang cukup dikenal antara lain Malabar, Cikuray, Kipas Putih, Slamet, Pangrango, Argomulyo, Burangrang, Sinabung, Kaba, Tanggamus, Anjasmoro, Baluran, Ijen, Panderman, dan Grobogan.  Selain daya hasil yang tinggi (2,0-3,0 t/ha), varietas-varietas tersebut memiliki karakter yang lebih beragam, seperti berumur pendek (genjah, kurang 80 hari) dan umur sedang (tengahan, 81-95 hari).

Informasi lebih lengkap baca EDISI CETAK TABLOID SINAR TANI (info berlangganan SMS ke : 081317575066).

Editor : Ika Rahayu

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018