Selasa, 13 Januari 2026


Kultur Jaringan Skala Rumah Tangga, Cara Cepat Penuhi Benih Porang

07 Okt 2021, 09:45 WIBEditor : Yulianto

Direktur Perbenihan, Takdir Mulyadi Kultur jaringan porang

TABLOIDSINARTANI.COM, Muntilan---Porang kini menjadi tanaman yang banyak dilirik karena mempunyai nilai ekomonis tinggi. Karena itu, kebutuhan benih porang bersertifikat meningkat pesat.

Kementerian Pertanian berupaya mendorong terobosan pemenuhan benih porang bersertifikat. Salah satunya melalui invitro kultur jaringan skala rumah tangga. Cara ini dapat menghasilkan benih dalam jumlah besar secara cepat, murah, efektif dan dapat diaplikasikan petani.

Dirjen Tanaman Pangan Suwandi mengatakan, Kementerian Pertanian terus mendukung pengembangan kawasan porang berskala ekonomi yang terintegrasi mulai dari hulu (benih) sampai hilir (industri pengolahan dan pasar) dengan dukungan kelembagaan yang kuat dan sumber permodalan berorientasi ekspor.

“Prmintaan ekspor porang sejak tahun 2019 ke Jepang dan Tiongkok sangat tinggi dengan harga umbi basah mencapai Rp. 13.000/kg, bentuk chip Rp. 50.000/kg, dan dalam bentuk tepung glukomanan bisa tembus Rp. 1,2 juta/kg,” tuturnya.

Sementara itu, Plt. Direktur Perbenihan, Takdir Mulyadi saat berkunjung ke V&M Biotechnology, Muntilan menyampaikan, dari aspek hulu untuk memenuhi ketersediaan benih porang bersertifikat bisa dilakukan melalui tiga cara.

Pertama, sertifikasi baku berbentuk bulbil, umbi dan biji atau sertifikasi baku berbentuk umbi secara kultur invitro. Kedua, pemurnian varietas. Ketiga, sertifikasi benih varietas lokal.

Saat ini benih porang bersertifikat baru dipenuhi melalui pemurnian varietas yang sudah di lepas Menteri Pertanian yaitu varietas Madiun 1,” katanya.

Takdir mengakui, kendala pemenuhan benih bersertifikat melalui standar baku dan memerlukan waktu yang lama atau satu musim tanam selama 6 bulan. Sedangkan masa kadaluarsa benih berlaku hanya 2 bulan.

“Biaya per butir juga cukup mahal berkisar Rp 1.200 - 4.000 atau Rp 30 - 100 juta per ha dengan asumsi kebutuhan benih Rp 25 ribu pohon per ha,” katanya. Namun melalui kultur jaringan, benih dapat di siapkan sesuai kebutuhan jadwal tanam dan benih dapat disimpan lama di dalam botol steril.

Menurut Takdir, animo masyarakat yang menanam porang tinggi perlu diantisipasi melalui penyediaan benih yang cepat dan harga terjangkau. Melalui teknologi kultur jaringan yang dikelola oleh masyarakat, tujuan diatas dapat tercapai.

Takdir mengatakan, konsep kemitraan dalam permberdayaan petani menghasilkan benih telah berhasil dilaksanakan untuk perbenihan jagung hibrida dan padi hibrida, padi hibrida, serta tanaman pangan lainnya. Karena itu harapannya konsep ini bisa direplikasi untuk kemitraan benih porang.

Takdir mengatakan, pemerintah terus mendorong pemberdayaan petani dalam menghasilkan sendiri sarana produksi. Seperti, benih, pupuk hayati, pestisida biologi, dan pestisida nabati. Hal ini bertujuan agar peningkatan produktivitas dan kualitas produk serta nilai tambah yg meningkat dapat tercapai.

Sementara itu Pranowo, pemilik V&M Biotechnology mengatakan, kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan atau pergandaan tanaman secara vegetatif. Upaya pemberdayaan petani menghasilkan benih bermutu dapat dilakukan dengan pendampingan dari pihak terkait.

Dirinya mengaku bersama tim 10, kultur jaringan milenial Polbangtan Yogyakarta Magelang (Yoma), Syahrani Dwi Lukmana dan Istiana siap mendukung program pemerintah dalam pengembangan benih porang melalui kultur jaringan.

Reporter : Retno/Suharyanto
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018