Saturday, 23 October 2021


Konsumsi Pangan Lokal Dimulai dari Keluarga

14 Oct 2021, 14:26 WIBEditor : Gesha

Pangan lokal bisa diolah menarik | Sumber Foto:Kafe Ubi

TABLOIDSINARTANI.COM,Jakarta --- Sosialisasi dan edukasi mengkonsumsi pangan lokal harus secara terus menerus dilakukan agar bisa mengubah kebiasaan. Unit terkecil masyarakat yakni keluarga terus didorong untuk bisa memulai kebiasaaan baik ini.

“Mengubah kebiasaan masyarakat memang tidaklah mudah. Karena hal ini berarti mengubah budaya, mengubah kebiasaan. Tetapi demi ketahanan pangan nasional, perlu dibangun lewat produksi dan konsumsi pangan lokal," ungkap Plt Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP), Kementerian Pertanian, Sarwo Edhy dalam Talkshow : Eksplorasi Pangan Lokal "Diversifikasi Pangan, Biasakan Makan Beragama Mulai dari Keluarga" yang digelar TABLOID SINARTANI bersama Badan Ketahanan Pangan, Kamis (14/10).

Diakui Sarwo, Indonesia memiliki potensi sumber pangan sangat besar, baik dalam ragam jenis maupun jumlahnya. Ironisnya, data dinamika pola konsumsi pangan pokok Indonesia  dari waktu ke waktu justru mengarah pada pola pangan tunggal, yaitu beras dengan kombinasi terigu dan produk turunannya. “Komoditas terigu bukanlah kearifan lokal Indonesia. Indonesia memiliki 73 komoditas yang mengandung karbohidrat setara bahkan lebih dari beras bahkan terigu.," jelasnya. 

Dilansir dari Badan Pusat Statistik (BPS), hingga sekarang konsumsi terigu dan produk turunannya mencapai 30 kg/kapita per tahunnya dan konsumsi beras mencapai 94 kg/kapita/tahun. Sedangkan komoditas pangan lokal seperti Singkong hanya 2 kg/kapita/tahun, Sagu pun hanya 1,1 kg/kapita/tahun. 

Selain itu, pola konsumsi pangan rata-rata penduduk Indonesia juga belum sepenuhnya sesuai dengan rekomendasi standar kecukupan dan atau keragaman komposisi zat gizi. Komposisi karbohidrat masih mendominasi asupan pangan harian masyarakat di Indonesia. Padahal, konsumsi pangan tidak hanya terbatas pada diversifikasi konsumsi makanan pokok, tetapi juga makanan pendamping sehingga mencakup pangan sumber energi dan zat gizi.

Dari berbagai penelitian, kandungan gizi yang dihasilkan oleh pangan lokal cukup baik. Misalnya, energi yang dihasilkan kelompok pangan umbi-umbian setara dengan energi yang dihasilkan nasi. Sebagai perbandingan kalori 100 gram nasi setara dengan 100 gram singkong atau 50 gram jagung atau 200 gram kentang atau 150 gram ubi jalar

Peluang untuk menggantikan beras dan terigu dengan Pangan Lokal inilah yang seharusnya bisa disosialisasikan dan edukasi secara terus menerus ke masyarakat Indonesia di tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan, Desa bahkan Keluarga. Salah satunya dengan kampanye #KenyangGakHarusNasi.

Kepala Pusat Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Yasid Taufik menuturkan pola konsumsi di tingkat keluarga menjadi paling efektif dalam mempersepsikan Diversifikasi Pangan. Aspek keluarga yang menjadi unit terkecil masyarakat bisa berkontribusi dalam mengubah perilaku konsumsi pangan lokal dan beragam serta seimbang.

Sebab kondisi konsumsi pangan yarg beragam, bergizi seimbang menjadi syarat bagi pertumbuhan organ fisik manusia sejak dalam kandungan yang selanjutnya berpengaruh terhadap perkembangan intelelegensia maupun kemampuan fisiknya. Generasi yang tangguh secara fisik maupun intelegensia akan menjadi tulang punggung bagi tumbuh kembangnya suatu bangsa dalam pembangunan ekonomi sosial, maupun politik.

"Intinya bagaimana mengubah keluarga dalam persepsinya terhadap makanan dan pola makannya. Sekarang kan kalau tidak makan nasi, ya belum makan. Padahal inti dari makan itu adalah konsumsi berupa karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan lainnya. Karenanya, tidak harus nasi," urainya 

Peran serta masyarakat seperti Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian di berbagai tingkatan, Penyuluh, bahkan Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK), organisasi kemasyarakatan yang memberdayakan wanita untuk turut berpartisipasi dalam pembangunan Indonesia juga diharapkan bisa melakukan pemahaman kepada masyarakat bahwa #KenyangGakHarusNasi.

Kemudian, mulai melakukan eksplorasi keunggulan aneka ragam Pangan Lokal ini misalnya indeks Glikemik yang jauh lebih rendah dari beras Dan terigu sehingga sangat sehat dan kaya akan gizi. Lalu, dengan kreativitas masyarakat bersama TP-PKK dibuatlah aneka olahan Pangan Lokal yang bergengsi (superior), termasuk memadupadankan dengan sumber Pangan lainnya agar terpenuhi gizi seimbang. 

 

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018