Jumat, 23 Februari 2024


Dongkrak Produksi Kedelai, DPR RI: Petani Perlu Insentif

17 Okt 2021, 13:17 WIBEditor : Yulianto

Balitbangtan pastikan ketersediaan benih sumber kedelai untuk produksi 2021 | Sumber Foto:Balitkabi

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor---DPR RI mendukung langkah pemerintah melalui Kementerian Pertanian untuk meningkatkan produksi kedelai nasional. Saat ini memang permasalahan lesunya produksi kedelai nasional adalah harga jual, ketersediaan benih, biaya produksi yang mahal dan keterbatasan lahan. 

Anggota Komisi IV DPR RI, Endang S. Thohari mencatat ada 7 daerah sentra penghasil kedelai nasional seperti Jawa Timur, Jawa barat, Jawa Tengah, NT, Lampung, Sulut, dan Sulsel. Dengan membangun cluster-cluster sentra kedelai bantuan Kementan bisa terfokus dan tepat sasaran.  

Endang berharap adanya insentif dan keberlanjutan program kedelai untuk daerah sentra tersebut, sehingga petani kembali bersemangat menanam kedelai. Sebagai mitra dari Kementan, DPR akan terus mengawasi dan mengawal program dari kementan agar tepat sasaran khususnya peningkatan produksi kedelai.

Hal ini sudah dibuktikan dengan adanya panen kedelai di kabupaten Cianjur bantuan Kementan melalui Direktorat Jenderal Tanaman pangan. “Saya berharap ada bimbingan dan pengawalan dari  Ditjen TP dan Balitbang Kementan agar produksi kedelai di Cianjur bisa meningkat lebih dari sekarang yang  hanya 1,5  ton/ha," katanya.

Senada dengan Endang, pakar sekaligus praktisi kedelai Atris Suyantohadi dari Universitas Gajah Mada menyatakan dukungannya dengan program  peningkatan produksi kedelai. Saat ini petani di daerahnya Bantul Provinsi DIY sudah mulai kembali menanam kedelai karena harga jual kedelai saat pandemic Covid 19 seperti sekarang  menembus angka Rp. 10.000/kg.

 

“Alhamdulilah pandemic Covid 19 membawa berkah baik harga kedelai, hanya yang kurang adalah sosialisasi ke para petani bahwa harga jual sudah membaik," ucap Atris saat menghadiri Webinar Propaktani di Bogor Jumat Sore(15/10). 

Atris menjelaskan kenaikan harga ini harus menjadi acuan bahwa kedelai lokal kita mampu bangkit dan memenuhi kebutuhan pasar. Stigma bahwa kedelai lokal tidak bisa bersaing dengan Impor adalah salah, ini dibuktikan mampu masuknya produk-produk kedelai lokal yang dihasilkan UKM ke manca negara. 

Keberhasilan kedelai di Bantul tidak lepas dari peran Kementan, perbankan dan Bupati dan Dinas pertanian, dinas perindustrian dan perdagangan yang turun langsung menanggani dan stake holder yang akan menampung hasil kedelai petani. 

Atris berharap tren positif ini dapat terus terjaga, sehingga petani bersemangat kembali menanam kedelai untuk menjaga tradisi dan kearifan lokal, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia. 

Sementara itu Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi mengatakan, hasil FGD dari para pakar,peneliti, petani dan stakeholder menjadi hal penting dalam pemetaan regulasi tahun depan. Program peningkatan produksi kedelai nasional ini butuh dukungan banyak pihak seperti di parlemen (DPR RI), Pemda Provinsi dan Kabupaten, petani, peneliti dan stake holder.

Suwandi optimis jika semua pihak mau bekerjasama bukan tidak mungkin Swasembada kedelai bisa tercapai. Ketergantungan akan kedelai impor bisa dikurangi. Sebagai dukungan Kementan telah menganggarkan untuk program peningkatan kedelai tahun 2021. Total bantuan kedelai seluruh indonesia seluas 144.000 Ha berupa benih, pupuk NPK, pupuk organik, pestisida dan saprodi pendukung  lainnya. 

 

Reporter : Humas Ditjen Tanaman Pangan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018