Monday, 06 December 2021


Buktikan Hasil Lebih Tinggi dari Inbrida, Asbenindo Panen Padi Hibrida

20 Oct 2021, 14:02 WIBEditor : Gesha

Panen padi hibrida di Sukamandi | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Sukamandi -- Padi hibrida punya potensi besar meningkatkan produktivitas karena dihasilkan dari persilangan turunan pertama (F1). Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo) mensosialisasikan padi hibrida melalui DemFarm dan telah berhasil panen, Selasa (19/10) di Sukamandi, Subang. 

Menarik minat petani untuk menggunakan padi hibrida secara masal, Asbenindo sejak Juli 2021 melakukan pertanaman aneka jenis padi hibrida di DemFarm bersama kelompok Tani (Poktan) Tani Mukti menggunakan milik PT Sang Hyang Seri (SHS), Persero seluas 15,6 hektar. 

Varietas padi hibrida yang ditanam di DemFarm ini adalah Hipa 20 dan Hipa 21 (milik BB Penelitian Padi Sukamandi, Kementan), SHS SL-8 (milik PT Sang Hyang Seri (Persero)), PP-5 (milik PT Corteva Agrisciences), Sembada 626 (milik PT Biogene Plantation), Bridantara 8 (milik PT Nusantara Pertanian Indonesia), Mapan P-05 (milik PT Primasid Andalan Utama), Intani 602 (milik PT BISI International, Tbk), serta diikutkan juga varietas inbrida sebagai pendamping yaitu Pak Tiwi -1 (milik PT Agri Makmur Pertiwi) dan Ciherang.

Pada proses budidayanya, didukung juga oleh PT Bayer Indonesia untuk penyediaan paket perlindungan tanaman dan PT Polowijo Gosari untuk penyediaan pupuk dan dolomit.

“Kami menyampaikan terima kasih atas dukungan semua pihak dalam mensukseskan kegiatan ini. Tujuan diselenggarakan DemFarm Padi Hibrida adalah mensosialisasikan dan menyuluhkan kepada para petani dan poktan, termasuk kepada para pejabat dinas terkait, tentang manfaat dan kontribusi peningkatan produksi dari menanam padi hibrida, " ungkap Ketua Umum Asbenindo, Ricky Gunawan.

Dengan pendampingan langsung dari penyuluh dari Asbenindo, Panen bertajuk Farm Field Days Panen DemFarm Padi Hibrida pun bisa terwujud pada pertengahan Oktober ini. Ricky menyebut, hasil panen padi hibrida di DemFarm ini telah terbukti nyata mampu meningkatkan produksi Gabah Kering Panen (GKP) sebanyak 20 persen daripada padi inbrida. 

Panen padi hibrida Asbenindo diapresiasi oleh Kementerian Pertanian dan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat. Direktur Perbenihan Tanaman Pangan Kementan, Muhammad Takdir Mulyadi saat peninjauan langsung ke lapangan menyebutkan, kegiatan ini adalah moment yang bagus bagi pengembangan varietas unggul hibrida untuk mendukung produktivitas padi nasional.

"Dari ekspose ini dapat disaksikan teknologi dari masing-masing varietas. Kita berupaya supaya produktivitas padi hibrida yang ditanam di Indonesia dapat memenuhi janjinya, yaitu potensi hasil,” katanya. 

Takdir menambahkan, dari 10,5 juta hektar luas pengembangan padi di Indonesia, target hasilnya adalah 56,5 juta Ton Gabah Kering Giling (GKG) untuk bisa memenuhi kebutuhan nasional menuju swasembada pangan.

Takdir juga buka-bukaan soal alokasi anggaran bantuan benih untuk padi inbrida dari Pemerintah hanya sebesar Rp 262.500 /ha dengan benih inbrida 25 kg/ha, sedangkan padi hibrida sebesar Rp 897.000/ha dengan benih hibrida 15 kg/ha.

"Dalam program bantuan benih, petani kebanyakan bersyukur saja menerima bantuan, namun tetap saja petani harus mengeluarkan biaya untuk pemeliharaannya, seperti pemupukan, pengendalian OPT, perawatan tanaman, dan sebagainya, " tuturnya

Pendampingan Petani 

Melihat kesuksesan panen hibrida ini, Takdir berharap agar Asbenindo juga turut membantu pemerintah dalam edukasi dan sosialisasi padi hibrida. 

"Kami harapkan produsen benih padi hibrida dalam sosialisasi tidak hanya sebatas demplot atau dem-area, tetapi juga pendampingan kepada petani agar tercapai produktivitas yang tinggi. Saya selalu menghimbau agar perusahaan menyisihkan dana untuk pendampingan ke petani sebab memproduksi benih padi hibrida memerlukan teknologi tinggi, pemulianya pun punya standart operasional procedure (SOP) tentang teknologi budidayanya. Petani memerlukan edukasi tentang padi hibrida,” bebernya. 

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Badan Litbang Pertanian, Priatna Sasmita juga mengapresiasi upaya Asbenindo ini. "Luar biasa, meskipun potensi hasil belum tercapai, tetapi rata- rata produksi dari padi hibrida jauh dari rata- rata produksi padi existing yang ada dalam hal ini inbrida, " tambahnya.

Namun Priatna menyebutkan keberhasilan dalam budidaya padi hibrida juga dipengaruhi oleh kondisi lahan pertanaman setempat. "Oleh pemulia, diharapkan pada padi hibrida muncul sifat heterosis yang merupakan sifat keunggulan gen dominan, juga ketahanan terhadap hama dan penyakit. Tentu varietas ini perlu beradaptasi spesifik lokasi, kondisi lingkungan hibrida tentu berbeda beda. Pemetaan daerah kesesuaian padi hibrida ini jadi kunci hasil dari tingkat pengembangan nanti, " jelasnya. 

Lebih lanjut Priatna mengapresiasi korporasi dalam upayanya penyediaan benih, penyediaan agro input, pengendalian hama penyakit, juga pendampingan kepada petani.

Priatna menyebut, saat ini pihaknya akan melakukan riset memetakan sebaran total pencahayaan di target pengembangan padi hibrida, sebab padi hibrida yang ditanam di daerah subtropic berbeda dengan daerah tropis. "Pada wilayah subtropis, saat musim panas padi hibrida ditanam dengan panjang penyinaran matahari lebih dari 12 jam per hari. Di daerah subtropis produktivitasnya di atas 10 Ton/ha, " jelasnya. 

Menurutnya, pupuk dan perlindungan tanaman bisa dimodifikasi, namun variable lingkungan tidak bisa. Karenanya, pengelolaan budidaya padi hibrida diharapkan bisa diterapkan oleh petani khususnya secara teknologi. 

Apresiasi juga diungkapkan oleh Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat, Dadan Hidayat .“Penduduk di Jawa Barat terus meningkat, mencapai 50 juta jiwa yang tentunya harus dicukupi kebutuhan pangannya. Kami sangat senang dengan informasi bahwa padi hibrida dapat mencapai hasil sebanyak 9 Ton/ha GKG, " tambahnya. 

Berdasarkan data BPS, kebutuhan beras masyarakat Jabar sebesar 128,4 kg/kapita/tahun. Inovasi baru padi hibrida perlu disosialisasikan. "Kami siap mendukung sosialisasi ini dengan melibatkan penyuluh pertanian, petugas pengendali OPT, dan juga pengawas benih tanaman, “ kata Dadan Hidayat.

Reporter : Indri
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018