Monday, 06 December 2021


Waspadai Enam OPT ini Saat Tanam Musim Hujan

06 Nov 2021, 21:04 WIBEditor : Yulianto

Gerakan pengendalian OPT | Sumber Foto:Do. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Musim tanam yang berlangsung saat curah hujan cukup tinggi, apalagi dalam keadaan iklim ekstrim La Nina, dapat meningkatkan serangan hama dan panyakit (Organisme Pengganggu Tumbuhan/OPT).

Balai Besar Peramalan OPT (BBPOPT) telah menyusun ramalan kemungkinan serangan OPT selama musim tanam (MT) 2020/2021. Setidaknya ada enam OPT utama yang dikhawatirkan menyerang tanaman padi yakni penggerek batang padi (PBP), tikus, hawar daun bakteri, blas, wereng batang cokelat (WBC) dan tungro.

“Diperkirakan pada musim tanam kali ini total serangan OPT mencapai 222.437 ha. Penggerek batang padi dan tikus menjadi terbesar menyerang tanaman padi,” kata Koordinator Kelompok Substansi Pelayanan Teknis, Kerjasama, Informasi dan Dokumentasi, BBPOPT, Suwarman saat Webinar Menyongsong Musim Tanam 2021/2022 di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Berdasarkan kajian enam musim tanam terakhir, Suwarman memperkirakan peluang puncak serangan OPT berkisar antara Januari-Maret. Sedangkan penyebaran OPT terbesar untuk MT 2021/2022 adalah penggerek batang padi sesuai dengan luas tanam.

Prakiraan BBPOPT, Jawa Barat menjadi wilayah terbesar mendapat serangan hama tersebut. Selain itu, Jawa Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Lampung dan Kalimantan Barat.

Sementara itu serangan hama tikus ungkap Suwarman, Pulau Jawa menjadi wilayah yang peluang serangan hama pengerat itu paling tinggi. Selain itu, juga Lampung, Sulawesi Selatan dan Sumatera Selatan. Adapun untuk OPT wereng batang cokelat (WBC), terbesar Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, dan Maluku.

Sedangkan hama hawar daung bakter, peluang terbesar serangan terjadi di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Lampung, dan Aceh dan Sumatera Utara. Lalu, penyakit blast peluang terjadi di Jawa Barat, Lampung, Sumatera Utara, Aceh, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan dan NTB.

Begitu juga peluang terjadi serangan hama tungro berada di Jawa Barat. Namun dalam hal ini perlu dievaluasi, tungro meluas ke wilayah timur Indonesia yakni di Papua.

“Terkiat ramalan ini, memang masih berdasarkan batasan provinsi. Namun kami sudah mem-brake down hingga kabupaten dan sudah diupload di Siperditan yaitu Sistem Informasi Peringatan Dini dan Penanganan Dampak Perubahan Iklim,” katanya.

Namun demikian menurut Suwarman, berdasarkan analisa selama musim tanam 2020/2021 lalu, ternyata kejadian serangan OPT hanya 50 persen dari ramalan. Artinya, ramalan tidak terlampau dan kejadian masih di  bawah angka ramalan. “Ini hasil kerja keras jajaran perlindungan,” katanya.

Selama tahun 2021, pihaknya telah memberikan pengawalan dan Bimtek sebanyak 126 kelompok tani dan Bimtek terhadap THL POPT secara lansung seperti ke Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan,  Kalimantan Timur, Sumatera Barat dan NTB.  “Kami juga telah memberikan pelatihan ke 90 orang petugas POPT secara nasional,” ujarnya.

 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018