Sunday, 26 June 2022


Gejolak Harga Pangan, Tugas Pemerintah Produsen Senang, Konsumen Tenang

07 Jan 2022, 20:50 WIBEditor : Yulianto

Harga pangan jelang akhir tahun bergejolak | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Menjelang akhir tahun, masyarakat terpaksa harus mengikat pinggang kencang-kencang dengan melonjaknya harga beberapa produk pangan. Bahkan kenaikan harga terjadi pada komoditas yang justru produksi di dalam negeri berlimpah.

Guna mengetahui langkah pemerintah mengatasi persoalan tersebut, wartawan Tabloid Sinar Tani, Nuraini Eka Sari berkesempatan melakukan wawancara dengan Kepala Pusat Distribusi dan Akses Pangan, Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian, Prof. Dr. Ir. Risfaheri, M.Si. Berikut ini ringkasan wawancaranya.

Hingga kini beberapa harga pangan masih cukup tinggi. Bagaimana menurut Bapak?

Pada umumnya produksi pangan diperkirakan aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Misalya, neraca beras nasional sampai akhir Desember 2021 surplus bila memperhitungkan carryover tahun sebelumnya. Jagung, bawang putih, bawang merah, daging ayam, gula, minyak goreng serta daging sapi dan kerbau juga mengalami surplus.

Masalah gejolak harga ini memang terus terjadi menjelang akhir tahun, dan menghadapi Lebaran. Kenapa? Karena permintaan naik. Makanya tinggal kita atur pasokan atau distribusinya kita tingkatkan untuk menghadapi permintaan yang lebih besar dari seperti biasanya. Itu yang harus kita jaga.

Selain itu juga kita perpendek rantai pasar, kemudian lakukan operasi pasar.  Jadi walaupun pasokan cukup, pasti ada saja gejolak harga. Karenanya kami lakukan gelar pangan murah untuk mengimbangi naiknya permintaan untuk memberikan psikologis pada pasar.

Kita melakukan perhitungan neraca dan perkiraan harga pangan strategis nasional untuk memperkiraan neraca dan harga pangan per bulannya. Intervensi ini dilakukan untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan secara terukur.

Bapak bisa menjelaskan per komoditas?

Kenaikan harga minyak goreng saat ini didorong harga crude palm oil (CPO) global yang terus meningkat. Kami telah berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk memetakan sebaran stok minyak goreng antar wilayah serta mendorong pelaku distribusi untuk mendukung stabilisasi pasokan.

Minyak goreng bahan bakunya kan CPO. Kalau harga CPO lagi tinggi di luar negeri, produsen akan lebih mengutamakan ekspor. Artinya, meski di dalam negeri ketersediaan kita cukup, tapi harga bahan bakunya selalu disandingkan dengan harga luar negeri. Jadi otomatis mempengaruhi harga yang dijual di Indonesia.

Untuk mengatasi harga minyak goreng, tahun ini ada program operasi pasar dengan harga Rp 14 ribu/liter, padahal harga acuan kita hanya Rp 11 ribu/liter. Kemenko Perekonomian ke depan ada rencana program subsidi minyak goreng. Soal minyak goreng bukan karena kekurangan ketersediaan, produksi kita cukup karena kita produsen CPO terbesar. Memang secara makro negara untung, tapi bagi masyarakat dalam negeri konsumen minyak goreng merasa terbebani. Jadi kalau mau stabil langkahnya harus subsidi.

Bagaimana dengan komoditas cabai?

Kenaikan harga komoditas hortikultura, terutama cabai-cabaian saat ini dipicu produksi turun di sejumlah wilayah sentra. Sebab, musim panen mulai berakhir, serta adanya peningkatan kebutuhan menjelang Tahun Baru. BKP juga telah berkoordinasi bersama pihak terkait untuk mendorong peningkatan produksi dan ketersediaan komoditas hortikultura.

Untuk menstabilkan pasokan dan harga, pasti kami lakukan intervensi pasar. Misalnya, dengan memberikan fasilitasi biaya untuk pendistribusian dari wilayah surplus ke wilayah defisit dan melakukan gelar pangan murah melalui Pasar Mitra Tani yang tersebar di daerah.

Tapi sekarang harga cabai sudah turun. Kami setiap hari memantau harga cabai maupun komoditas pangan lainnya, baik nasional maupun di pulau Jawa, termasuk di konsumen maupun produsen. Perkembangan harga cabai merah keriting dan cabai rawit merah rata-rata nasional dan pulau Jawa, sampai 4 Januari 2022 cabai merah keriting rata-rata nasional Rp 44.014/kg dan rata rata pulau Jawa Rp 34.916/kg. Sedangkan cabai rawit merah rata rata nasional Rp 80.871 /kg dan di Pulau Jawa Rp 75.775/kg.

Kenaikan harga cabai selalu berulang, mengapa bisa terjadi?

Kalau cabai memang fenomenanya bisa kita lihat pengalaman dari tahun ke tahun. Biasanya akan naik menjelang Lebaran, Natal dan Tahun Baru. Sekarang menjelang akhir tahun harganya naik. Sebenarnya banyak faktor. Pertama di bulan Agustus harga sempat jatuh. Artinya dengan harga jatuh, motivasi petani turun dan semangat menanam lagi atau memelihara tanaman berkurang. Otomatis terjadi penurunan produksi.

Diakhir tahun ini PPKM sudah mulai longgar dan permintaan mulai pulih. Artinya permintaan agak naik sedikit, tapi dengan adanya hujan panen cabai terganggu. Sebenarnya kita sudah tahu itu. Seharusnya kedepan kita bisa menghindari gangguan produksi akibat cuaca. Berarti luasan tanamnya harus ditingkatkan, mungkin 2 kali lipat dibanding biasanya. Jadi saat menghadapi Lebaran, kemudian tahun baru kita persiapkan ekstra luas tanam. Untuk cabai bisa diprediksi tiga bulan sebelumnya. Berarti kondisi tiga bulan sebelumnya harus dijaga betul supaya tidak berulang.

Bagaimana dengan fluktuasi harga telur?

Kenaikan lainnya seperti telur yang kemarin harganya sempat anjlok. Saat itu harga jagung mahal dan peternak merasa rugi, sehingga mengurangi populasinya. Laporan di lapangan hampir 30 persen. Artinya ayam itu kalau sudah bertelur dan harga pakannya mahal, peternak tidak bisa mengentikan ayam untuk bertelur. Akhirnya peternak mengambil pilihan mengafkir ayam yang masih bertelur dijadikan ayam potong. Otomatis produksi telur akan turun. Diakhir tahun ini, kondisi sudah mulai pulih dan permintaan naik. Tapi ayam kan tidak bisa langsung disuruh bertelur dan  perlu waktu. Jadi saat permintaan naik, pasokan berkurang, harga akan naik.

Upaya pemerintah seperti apa Pak?

Menghadapi dinamika yang ada pemerintah mencoba menjaga stabilitasi harga dan pasokan, baik ditingkat produsen maupun konsumen. Petani happy, konsumen juga senang. Tapi itu memang tidak mudah. Misalnya, saat harga telur mahal, peternak senang, ibu rumah tangga marah. Tapi  pada waktu harga telur murah, ibu-ibu senang tapi peternak marah. Jadi tugas kami bagaimana menjaga itu semua. Program yang kita jalankan seperti bantuan biaya distribusi dan biaya pengangkutan. Dari sisi pasokan ketersediaan sebetulnya tidak ada masalah.  Tidak ada gejolak harga maupun kenaikan yang signifikan, semua cenderung aman. 

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018