Sunday, 26 June 2022


Menyiasati Gejolak Harga Pangan

07 Jan 2022, 23:31 WIBEditor : Yulianto

Harga minyak goreng melambung jelang akhir tahun 2021 | Sumber Foto:Julian

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Ibarat kado pahit akhir tahun. Kenaikkan harga sejumlah komoditas pertanian menjelang akhir tahun 2021 bahkan hingga awal tahun 2022, membuat masyarakat harus menguras kocek lebih banyak. Mengapa lonjakan harga pangan selalu berulang tiap tahun?

Setidaknya ada dua komoditas pertanian yang menjadi sorotan tajam kenaikan harga yakni telur dan minyak goreng. Dari hasil pantauan Tabloid Sinar Tani, kenaikkan harga dua komoditas memang yang paling tinggi dari biasanya.

Untuk harga telur ayam ras, di tingkat eceran biasanya jika terjadi kenaikkan maksimal berkisar hanya di angka Rp 26 ribu/kg. Namun kali ini hingga menembus angka Rp 30 ribu/kg. Bahkan sebelumnya harga telur sempat turun dratis hanya Rp 19-20 ribu/kg di tingkar eceran yang membuat peternak ayam petelur melakukan aksi unjuk rasa.

Begitu juga harga minyak goreng. Komoditas yang selama ini lebih banyak dikuasai industri besar harganya melonjak hingga Rp 20 ribu/liter (minyak goreng kemasan bermerk). Padahal biasanya hanya sekitar Rp 12-13 ribu/liter. Kenaikan harga minyak goreng ini juga menjadi sebuah pertanyaan besar. Pasalnya, Indonesia merupakan produsen terbesar minyak sawit (crude palm oil/CPO).

Berdasarkan data Badan Ketahanan Pangan (BKP), Kementerian Pertanian, harga telur ayam memasuki awal tahun 2021 rata-rata nasional Rp 29.276/kg dan rata-rata Pulau Jawa Rp 27.580/kg. Sedangkan harga minyak minyak goreng curah rata-rata nasional masih diangkan Rp 19.443/liter. Bahkan di Pulau Jawa Rp 19.304/liter.

Selain dua komoditas tersebut, cabai juga menjadi produk pertanian yang sering bergejolak pada akhir tahun. Jika melihat perkembangan selama ini, kenaikan harga si pedas memang sudah menjadi rutinitas tahunan.

Data BKP, perkembangan harga cabai merah keriting per 4 Januari rata-rata nasional Rp 44.014/kg dan Pulau Jawa Rp 34.916/kg. Sedangkan harga cabai rawit merah rata-rata nasional Rp 80.871/kg dan rata-rata Pulau Jawa Rp 75.775/kg.

Sementara itu komoditas lain, termasuk beras, bawang merah, bawang putih dan gula yang juga kerap bergejolak pada akhir tahun hingga awal tahun 2021 relatif stabil. Harga beras premium rata-rata nasional Rp 12.442/kg dan rat-rata di Pulau Jawa Rp 11.592/kg. Harga beras medium rata-rata nasional Rp 10.906/kg, rata-rata Pulau Jawa Rp 10.151/kg.

Bawang merah rata-rata nasional Rp 28.351/kg dan rata-rata Pulau Jawa Rp 25.844/kg. Adapun bawang putih rata-rata nasional Rp 28.818/kg, rata-rata Pulau Jawa Rp 25.875/kg. Untuk gula pasir rata-rata nasional harganya Rp 13.439/kg dan rata-rata Pulau Jawa Rp 12.858/kg.

Mengatur Pasokan dan Distribusi

Kepala Pusat Distribusi dan Akses Pangan, BKP, Kementerian Pertanian Prof. Dr. Ir. Risfaheri, M.Si  mengatakan, jika melihat dari sisi produksi, diperkirakan cukup aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Artinya, seharusnya tidak ada gonjang ganjing harga.

“Neraca beras nasional sampai akhir Desember 2021 surplus. Jagung, bawang putih, bawang merah, daging ayam, gula, minyak goreng serta daging sapi dan kerbau juga mengalami surplus,” tuturnya.

Namun diakui, masalah gejolak harga ini memang terus terjadi terutama  menghadapi Lebaran dan akhir tahun, karena permintaan naik. Jalan keluarnya adalah bagaimana mengatur pasokan dan distribusinya ditingkatkan menghadapi permintaan yang lebih besar dari biasanya.

Untuk menstabilkan pasokan dan harga komoditas pangan, Risfaheri memastikan, pemerintah akan melakukan intervensi pasar. Misalnya, dengan memberikan fasilitasi biaya untuk pendistribusian dari wilayah surplus ke wilayah defisit. Selain itu, gelar pangan murah melalui Pasar Mitra Tani yang tersebar di daerah.

“Kita perpendek rantai pasar, kemudian lakukan operasi pasar. Biasanya saat menjelang Lebaran dan akhir tahun, walaupun pasokannya cukup pasti ada saja gejolak. Karenanya kami gelar pangan murah untuk mengimbangi itu (kenaikkan permintaan, red) dengan memberikan psikologis pada pasar,” tutur Risfaheri kepada Tabloid Sinar Tani di Jakarta, Rabu (5/1).

Gejolak harga komoditas pertanian tersebut sempat membuat gusar Presiden Joko Widodo. Bahkan Jokowi menginstruksikan agar Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi turun tangan agar harga bahan pangan pokok, terutama minyak goreng agar bisa lebih terjangkau.

Jokowi meminta Kementerian Perdagangan menggelar operasi pasar untuk stabilisasi harga. Soal minyak goreng, karena harga CPO pasar ekspor tinggi, saya perintahkan Mendag untuk menjamin stabilitas harga minyak goreng di dalam negeri. Sekali lagi, prioritas utama Pemerintah adalah kebutuhan rakyat,” tegasnya

Reporter : Echa/Yul
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018