Saturday, 29 January 2022


Dorong Percepatan Tanam, SYL Ingatkan Antisipasi Perubahan Iklim

11 Jan 2022, 12:06 WIBEditor : Yulianto

Mentan SYL bersama walikota Solo, Gibran Rakabuming | Sumber Foto:Humas Kementan

TABLOIDSINARTANI.COM, Solo---Memasuki awal tahun 2022, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mendorong percepatan tanam padi untuk memenuhi kebutuhan pangan pokok tahun ini. Karena itu pentingnya antisipasi dan mitigasi dari dampak perubahan iklim.

Saat membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Evaluasi Luas Tambah Tanam dan Antisipasi Dampak Iklim di Solo, Senin malam (10/1), SYL mengatakan, saat ini produksi beras sangat mencukupi. Tahun 2020 ada over stok 7 juta ton, kemudian 2021 over stok 9 juta ton. "Untuk tetap meningkatkan target produksi saya minta semua lakukan adaptasi, lakukan mitigasi yang kuat atas serangan-serangan hama penyakit," ujar SYL pada Rakor tersebut.

SYL berharap Indonesia bisa segera meraih swasembada berkelanjutan, apalagi sudah terbukti bahwa selama dua tahun terakhir tidak ada impor beras umum. Ia pun menekankan perlunya artificial intelligence dalam budidaya pertanian. "Pertanian harus memanfaatkan teknologi, semua kita dorong berbasis IT, kita mulai beralih menjadi pertanian yang modern, pakai penginderaan jauh dengan satelit," tegasnya.

SYL meminta pemanfaatan akses KUR terus digerakkan supaya dana pembangunan jangan hanya bergantung pada APBN saja. Keterbatasan anggaran pemerintah bukan halangan mendorong pembangunan pertanian. Anggaran KUR pertanian Rp 85 triliun tahun ini. Tahun sebelumnya Rp 55 triliun, yang macet kreditnya hanya 0,03 persen.

"Sekarang kita jangan biasa bantuan, tapi harus mandiri, KUR kita siapkan mau berapa saja kita supoort. Kita booster kegiatan-kegiatan yang meningkatkan produksi dan nilai tambah," tegasnya. Sebagaimana contohnya Jawa Tengah perlu mendapat apresiasi karena realisasi KUR Pertanian tahun 2021 mampu mencapai realisasi sebesar 151 persen senilai Rp 12,4 triliun. 

Di tempat yang sama, Walikota Solo Gibran Rakabuming menegaskan siap mendukung program ketahanan pangan. Menurutnya, meskipun di Kota Solo lahan terbatas namun tidak berhenti untuk mencapai swasembada. Upaya tersebut dilakukan dengan penggalakan urban farming dengan kelompok wanita tani.

"Budidaya pertanian di Solo dapat terlaksana dengan baik meskipun lahan terbatas, bencana alam akibat DPI dapat diminimalisir dengan pembangunan irigasi. Besar harapan kami rakor ini bisa memberi ilmu strategi menghadapi kendala tanaman pangan," ujar Gibran.

Provinsi Jawa Tengah sebagai sentra produksi beras di Indonesia menjadi andalan untuk bisa memenuhi kebutuhan nasional. Terkait dampak iklim, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi menyebutkan data banjir dan puso oktober sampai desember ini turun dibandingkan tahun lalu yakni 46 persen. Begitu juga dengan serangan OPT padi turun sekitar 30 persen. Ini menandakan langkah mitigasi terpantau berjalan baik.

"Kami terus mengingatkan antisipasi yang harus dilakukan atas dampak iklim ekstrim. Antara lain mapping wilayah rawan banjir, EWS, Brigade La Nina, Pompanisasi, Benih tahan genangan, Asuransi usaha tani, kompensasi luas tanam," ucap Suwandi.

Antisipasi panen raya saat hujan dengan alsin panen dan pasca panen, antisipasi Dampak Kekeringan ASEP 2022 dengan penerapan Penanganan Dampak Perubahan Iklim (PDPI), DEM Area, dan Gerakan Penanganan DPI, antisipasi serangan OPT dengan budidaya tanaman sehat, pengamatan dan laporan, EWS, tindakan penanganan, dan mendekatkan sarana pengendalian.

Reporter : Julian
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018