Tuesday, 17 May 2022


Mengapa harus Pertanian Organik? Ini Kata Peneliti IPB

20 Jan 2022, 16:27 WIBEditor : Yulianto

Petani panen padi | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Penggunaan pupuk kimia yang berlebihan telah menurunkan unsur hara tanah, sehingga menyebabkan penurunan produksi. Pertanian organik kini menjadi salah satu solusi mengembalikan kesuburan lahan pertanian dan meningkatkan produksi pangan.

Kepala Program Studi Manajemen Agribisnis Sekolah Vokasi IPB, Anita Ristianingrum menilai dengan adanya intensifikasi pertanian seperti pemanfaatan pupuk dan pestisida kimia yang berlebihan menyebabkan petani mengalamin ketergantungan terhadap sarana produksi kimia tersebut. 

Kondisi tersebut ditambah dengan kebiasaan petani melakukan pembakaran jerami yang mengakibatkan penurunan kesuburan lahan. Dampak selanjutnya, produk yang dihasilkan tidak sehat dan terjadi pencemaran lingkungan. Karena itu ada upaya mengembangkan pertanian organik.

“Adanya dinamika tersebut mendorong munculnya gagasan untuk mengembangkan suatu sistem pertanian yang dapat bertahan hingga ke generasi berikutnya dan tidak merusak alam,” ungkap Anita. Apalagi lanjutnya, dari sisi konsumen adanya peningkatan kesadaran untuk mengonsumsi pangan sehat, sehingga permintaan pangan organik juga meningkat.

Dari hasil kajian ungkap Anita, penelitian menunjukkan produksi pertanian organik lebih tinggi dari pertanian konvensional. Sebab, penggunaan sarana produksi kimia yang berlebihan menyebabkan unsur hara dalam tanah menurun, kemudian berakibat menurunnya produktivitas tanaman.

Namun dalam penelitian lain, menurutnya, saat peralihan dari pertanian konvensional ke organik, produksi akan mengalami penurunan hingga 3-5 tahun. Hal tersebut sangat tergantung dengan riwayat lahan yang sebelumnya menggunakan sarana produksi kimia. “Jika sebelumnya menggunakan pupuk kimia berlebihan, maka masa peralihannya juga akan lama,” ujarnya.

Dari hasil penelitian di Cianjur, Anita mengatakan, telah terjadi penurunan produktivitas padi. Jika tahun 2010, produktivitasnya mencapai 5,85 ton/ha, maka tahun 2011 menjadi 5,68 ton/ha.

Untuk mengatasi penurunan produktivitas padi sebenarnya tahun 2007-2012 telah ada pelatihan System Rice Intensification (SRI organik) kepada 430 petani. Tapi yang menerapkan padi organik relatif sedikit hanya 156 petani. “Kalau dari total petani di Cianjur hanya 0,05 persen,” katanya.

Penelitian selanjutnya dilakukan di empat kecamatan di Cianjur yang petaninya paling banyak menerapkan pertanian organik. Didapatkan, produktivitas tertinggi padi organik 6,99 ton/ha dan konvensional mencapai 7,84 ton/ha. “Kenapa pertanian konvensional produktivitasnya lebih tinggi, diduga karena petani masih tahap peralihan, rata-rata baru 3-4 tahun,” ungkapnya.

Namun produktivitas rata-rata, untuk padi organik mencapai 5,92 ton/ha dan padi konvensional 5,88 ton/ha. Begitu juga dilihat produktivitas terendah, untuk padi organik 4,71 ton/ha dan padi konvensional sebesar 3,91 ton/ha.

Melihat data tersebut, Anita mengatakan, resiko penurunan produksi padi organik lebih rendah dibandingkan padi konvensional. Untuk setiap 1 ton produksi organik, resiko penurunan produksi 0,11 ton, sedangkan konvensional menghadapi resiko 0,19 ton.

“Artinya resiko produksi bertani konvensional lebih tinggi. Hal ini padi konvensional lebih rentan terhadap hama penyakit, sehingga resiko penurunan produksi lebih tinggi,” katanya.

Kelebihan pertanian organik lainnya menurut Anita, lebih tahan hama penyakit karena tanaman lebih sehat, anakan tanaman lebih banyak dan fluktuasi penurunan produksi rendah. Karena itu, dilihat dari sisi produksi, padi organik prospektif untuk dikembangkan karena lebih stabil.

Sementara itu dilihat dari sisi harga, Anita mengungkapkan, harga padi organik lebih tinggi dibandingkan padi konvensional. Harga padi organik mencapai Rp 4 ribu/kg, sedangkan padi konvensional hanya Rp 3.600/kg. Harga rata-rata padi organik juga jauh lebih tinggi Rp 3.700/kg dan padi konvensional Rp 2.900/kg.

“Ini karena pasar padi organik adalah masyarakat yang sudah sadar kesehatan, sehingga bersedia menerima harga tinggi dan harga relatif lebih stabil,” tuturnya. Karena itu, dilihat dari sisi harga pun, padi organik prospektif untuk dikembangkan.

Artinya, sudah saatnya kita kembali ke pertanian yang ramah lingkungan. Satu catatan lagi, petani harus mendapat bimbingan agar memahami pentingnya pertanian organik. 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018