Sunday, 26 June 2022


Integrated Farming, Solusi di Tengah Kian Terbatasnya Lahan

22 Feb 2022, 13:23 WIBEditor : Yulianto

Konsep pengembangan kawasan panga terpadu | Sumber Foto:dok. Ditjen TP

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Di tengah kian terbatasnya lahan pertanian, pengembangan kawasan pertanian terpadu (integrated farming/IF) kini menjadi salah satu upaya Kementerian Pertanian menjaga produksi pangan. Pengembangan kawasan pertanian tersebut berskala ekonomi juga diharapkan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat.

Bahkan dalam berbagai kesempatan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) meminta pemerintah daerah untuk membangun integrated farming yang mengintegrasikan beberapa usaha tanaman. Diantaranya, tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan yang dikelola secara terpadu.

Dengan anggaran pemerintah yang memiliki keterbatasan, SYL juga berharap program integrated farming dapat didukung dengan kebijakan KUR sektor pertanian. Pemberian fasilitas KUR khusus untuk kelompok komoditas pertanian dan komoditas produktif lainnya dengan perusahaan mitra sebagai off-taker.

"Saya yakin jika kita bergerak bersama Insya Allah apa yang kita targetkan bisa tercapai. Saya harap pola ini menjadi model untuk dikembangkan di berbagai daerah, sehingga ketahanan pangan nasional didukung semua daerah dan terjadi peningkatan kesejahteraan petani secara holistik di seluruh wilayah Indonesia," tutur SYL.

Namun SYL juga mengingatkan, dalam pengembangan integrated farming perlu memperhatikan beberapa syarat. Diantaranya, letak strategis, lahan clear and clean di lokasi eksisting atau lahan baru, dikelola kelompok tani dan SDM yang aktif.

Lebih diutamakan satu hamparan, dikembangkan sebagai demfarm show window teknologi. Selain itu, bisa menjadi agro wisata. “Saya meminta agar dilokasi integrated farming dilakukan pelatihan. Lahan juga harus clear, pekerja juga harus clear jadi pengembangan ini tidak ada hambatan lagi,” katanya.

Saling Terkait

Salah satu lokasi pengembangan integrated farming berada di Jawa Tengah. Untuk mendorong program tersebut, pada Senin (14/2) Sekretaris Ditjen Tanaman Pangan, Ir. Bambang Pamuji memimpin langsung kegiatan koordinasi Pengembangan Sistem Integrated Farming di tiga kabupaten yakni Boyolali, Karanganyar dan Surakarta.

Sesuai arahan Menteri Pertanian, Bambang mengajak dan mendorong pemerintah daerah untuk membuat sistem pertanian terpadu atau Integrated Farming System menuju pertanian maju, mandiri, dan modern. Ke depan kata Bambang, kita tidak hanya menanam monokomoditas, atau bertumpu satu produksi, misalnya, padi, jagung dan kacang, tapi juga berbagai tanaman dalam satu lahan.

“Ke depan diharapkan tanaman pekarangan di rumah-rumah bisa memperkuat kebutuhan yang bisa ditunjang sesuai kemampuan wilayahnya masing-masing,” tuturnya.

Bambang menjelaskan, Integrated farming merupakan sistem pertanian dengan memanfaatkan keterkaitan antara tanaman perkebunan, pangan, hortikultura serta ternak dan perikanan. Dengan keterpaduan tersebut, akan didapatkan agroekosistem yang mendukung produksi pertanian, peningkatan ekonomi dan pelestarian sumberdaya alam.

Integrated farming atau sistem pertanian terpadu merupakan sistem pertanian yang mengintegrasikan kegiatan sub sektor pertanian, tanaman, ternak, ikan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas sumber daya, baik lahan, manusia, dan faktor tumbuh lainnya,” tuturnya.

Semua itu lanjut Bambang, untuk mendukung produksi pertanian, peningkatan ekonomi dan pelestarian sumberdaya alam, serta kemandirian dan kesejahteraan petani secara berkelanjutan. Karena itu, Bambang meminta kepada dinas untuk bergerak membangun integrated farming.

Bambang mengungkapkan, ada beberapa alasan pemilihan lokasi pengembang integrated farming. Diantaranya, daerah penghasil beras, SDM yang cukup mumpuni, lahan sangat potensial dan ketersediaan air mencukupi.

Sedangkan kondisi eksisting yakni, lokasi tersebut sudah menerapkan Indeks Pertanaman (IP) 300 dan produktivitas padi di atas 7,5  ton/ha. Dengan kondisi tersebut, kata Bambang, perlu dikembangkan integrated farming untuk meningkatkan income petani. “Untuk itu, perlu hilirisasi pangan, horti, perkebunan, peternakan guna meningkatkan nilai tambah. Kelembagaan petani juga agar naik kelas,” katanya.

Untuk memperlancar pelaksanaan integrated farming pemerintah akan melakukan intervensi. Seperti apa? Baca halaman selanjutnya.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018