Sunday, 26 June 2022


Tantangan Produksi Pangan kian Besar, Ini Harapan KTNA terhadap Bapanas

15 Apr 2022, 13:04 WIBEditor : Yulianto

Petani sedang tanam | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Menjawab tantangan pangan masa depan tentu tidak lepas dari peran petani sebagai ujung tombak dalam menghasilkan bahan pangan. Seperti apa langkah petani dalam menyediakan bahan pangan ditengah berbagai permasalahan yang menghadang?

“Pangan merupakan hidup matinya suatu bangsa, pangan merupakan kebutuhan primer bagi jutaan penduduk dunia, pangan diperlukan untuk mempertahankan hidup. Kekurangan pangan akan menjadi pemicu timbulnya masalah kemanusiaan yang mengarah terjadinya krisis multidimensi,” ungkap Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Yadi Sofyan Noor dalam webinar “Menjawab Tantangan Pangan Masa Depan” yang diadakan Tabloid Sinar Tani, Rabu (13/4).

Yadi memberikan catatan beberapa hal yang menjadi tantangan dalam memproduksi pangan. Pertama, gangguan anomali iklim yang ekstrim yang sulit diprediksi (El-Nino dan La-Nina) yang akan menurunkan produktifitas pangan.

Kedua, alih fungsi lahan yang banyak terjadi khususnya di Pulau Jawa sebagai daerah subur walaupun sudah ada Undang-undang Lahan Pangan Berkelanjutan. Namun hal tersebut tetap terjadi juga merupakan tangtangan yang harus dihadapi.

Ketiga, banyak lahan yang kurang subur di luar Jawa, sehingga produktifitas kurang optimal. “Lahan pasang surut, rawa lebak dan lahan kering kita harapkan bisa sebagai subtitusi berkurangnya lahan pertanian. Pastinya memerlukan terobosan teknologi,” ujarnya.

Keempat, peningkatan populasi penduduk yang sulit ditekan dan peningkatan kebutuhan konsumsi menjadi tantangan produksi pangan.  Sebenarnya di luar itu ada tantangan lain yang petani rasakan seperti biaya tenaga kerja yang tinggi, produktifitas yang rendah, ada hama penyakit, ada pupuk dan pestisida dan akses harga,” ungkapnya.

Bila bicara tantangan produksi pangan kedepan, Yadi mengatakan ada tiga permasalahan yang harus dipecahkan yang utama adalah memenuhi kebutuhan pangan 270 juta penduduk Indonesia yang harus disiapkan pangannya. “Kepemilikan lahan petani kurang dari setengah hektar juga menjadi masalah utama. Sementara alih fungsi lahan semakin marak,” katanya.

Usulan KTNA

Untuk menghadapi berbagai tantantangan yang ada, KTNA telah melakukan berbagai langkah. Pertama, mengkonversi lahan non produktif yang ada di Indonesia dengan mengoptimalkan lahan rawa yang tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Papua menjadi lahan pertanian yang produktif.

Pertanian presisi menjadi salah satu yang kini dikembangkan KTNA. Dalam dua tahun belakangan KTNA sudah menerapkan pertanian presisi. Misalnya, membangun hortikultura estate di Kalimantan Timur. Ada 10 Kabupaten/Kota yang akan dikembangkan pertanian smart farming ini.

Pemanfaatan produk rekayasa genetika (bioteknologi) menurut Yadi, menjadi salah satu strategi menghadapi berbagai tantangan yang ada dan mencapai pertanian berkelanjutan. “Memang banyak pro kontra dalam penggunaan produk ini, namun saya sampaikan sudah berpuluh-puluh tahun kita mengkonsumsi tempe dan tahu yang bahan pokoknya adalah kedelai hasil rekayasa genetika. Kami KTNA memperjuangkan rekayasa genetika selama 20 tahun ini,” tegasnya.

Yadi berharap dengan adanya Bapanas, KTNA dan penyuluh berharap langkah besar Bapanas lebih memperhatikan produk-produk/komoditas lokal

Reporter : Herman
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018