Kamis, 18 Juli 2024


Prospek Menjanjikan, Petani Cilacap Genjot Produksi Padi Merah  

28 Apr 2022, 12:44 WIBEditor : Yulianto

Panen padi merah di Cilacap | Sumber Foto:ETi S

TABLOIDSINARTANI.COM, Cilacap - Komoditas padi menjadi salah satu andalan Kabupaten Cilacap. Tercatat pada tahun 2021, kabupaten tersebut mendapatkan  penghargaan bidang pertanian dari Wakil Presiden karena prestasinya meningkatkan produksi tertinggi padi tahun 2019-2020.

Tidak cukup disitu, Kabupaten Cilacap melalui Dinas Pertanian terus berinovasi untuk terus mengembangkan komoditas padi. Salah satunya pengembangan padi merah yang kini tengah dicoba di Kecamatan Sidareja seluas total 20 ha. Tepatnya di Kelompok Tani Waluyo Sejati dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tani Makmur yang masing-masing mengerjakan 10 ha.

Permintaan padi merah di Cilacap saat ini kebanyakan masih dari lokal. Namun demikian prospek pemenuhan konsumen luar daerah cukup menjanjikan dengan tren gaya hidup sehat. Karena itu, upaya peningkatan produktivitas masih terus dilakukan petani agar bisa mencukupi konsumen luar Cilacap.

Dengan tren gaya hidup sehat yang semakin meluas, memberi peluang bagi petani untuk mencoba memproduksinya. Beras merah mengandung karbohidrat, lemak, serat, asam folat, magnesium, niasin, fosfor, vitamin A dan C. Selain itu mengandung gluten rendah sehingga beras merah dapat digunakan sebagai pengganti beras putih bagi yang sedang diet gula. Karena itu konsumsi beras merah baik bagi kesehatan.

Paket Kegiatan

Paket kegiatan yang diberikan pada kelompok tani yaitu benih, pupuk NPK dan pestisida nabati. Sedangkan praktek budidaya yang ramah lingkungan diterapkan dengan meminimalisir penggunaan pestisida. Titik beratnya adalah petani didorong untuk melakukan upaya pencegahan kerusakan tanaman dari gangguan organisme pengganggu tanaman (OPT) dengan menggunakan pestisida nabati.

Uji coba padi merah varietas Inpari 24 mendapat respon cukup baik dari para petani. “Ini merupakan pengalaman pertama kami melaksanakan budidaya padi merah. Sebelumnya kami menanam padi biasa untuk kebutuhan konsumsi dan untuk dijual. Melihat harga jual yang lebih tinggi dibandingkan padi biasa, maka kelompok kami sangat antusias untuk mengembangkannya terus,” kata Bastudin Ketua Poktan Waluyo Sejati selaku pelaksana kegiatan pengembangan padi merah.

Eti Solikhatun, penyuluh pertanian di Kecamatan Sidareja mengatakan, padi varietas inpari 24 memiliki ketahanan terhadap hawar daun dan mudah dibudidayakan sama dengan jenis padi biasa lainnya. Dengan potensi hasil 7,7 ton/ha dan umur panen yang hanya 111 hari, varietas tersebut cocok ditanam baik di musim tanam (MT) I maupun MT II.

Dari hasil ubinan rata-rata diperoleh 5,8 kg setara dengan 9,2 ton/ha gabah kering panen (GKP), sehingga perhitungan produksi padi merah di Kecamatan Sidareja mencapai 184 ton.

“Apalagi informasi harga yang lebih tinggi dibanding padi biasa menjadikan daya tarik bagi petani Sidareja mencoba mengembangkan,” kata Eti. Dari segi harga pasar saat panen Maret 2022 menembus harga Rp 470.000/kwintal lebih tinggi dibandingkan padi biasa yang hanya Rp 450.000/ kwintal.

Hal ini menurut Eti, ke depan bisa menjadikan peluang bagi petani setempat untuk berkembang sebagai penghasil padi merah. “Harapan petani adalah bisa mendapatkan mitra yang mampu menampung hasil panen,” ujarnya.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo meminta seluruh punggawa pertanian agar memacu peningkatan produksi di berbagai daerah dengan strategi atau cara-cara baru yang lebih maju dari tahun sebelumnya. "Pelajaran bagi petani untuk mulai menggunakan praktek-praktek budidaya yang efisien, yang lebih murah dan tentunya lebih ramah lingkungan,” katanya.   

Sementara itu Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi mengatakan, untuk menjaga pangan di tengah pandemi, Presiden telah mengamanatkan semua Kementerian dan Lembaga negara untuk memprioritaskan kebutuhan pangan sebagai pasokan masyarakat.

“Kita harus beradaptasi mengajarkan petani agar menggunakan pupuk organik dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar sehingga produk pertanian kita terbebas dari pestisida dan ramah lingkungn,” ujar Dedi Nursyamsi.

Reporter : Eti Solikhatun/Yuliana Kusumadewi
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018