Tuesday, 17 May 2022


Di Kota Gudeg, Bisnis Ubi Kayu Tak Pernah Layu

09 May 2022, 13:56 WIBEditor : Yulianto

Singkong petani di Kabupaten Pati | Sumber Foto:suarapatinews.com

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Dulu ubi kayu atau singkong kerap dianggap sebagai pangan inferior dibandingkan dengan produk pangan lainnya, seperti beras. Tapi kini di tengah makin sulitnya upaya meningkatkan produksi beras, singkong kini berpeluang menjadi pangan yang superior.

Potensi yang melimpah di berbagai wilayah tanah air menjadikan singkong kini menjadi alternatif pangan menjanjikan dimasa mendatang. Salah satu wilayah yang mempunyai potensi singkong yang sangat besar adalah DI Yogyakarta (DIY).

Sebagai kota pelajar, kota wisata dan kota budaya, DIY menjadi salah satu wilayah yang masyarakatnya mempertahankan kuliner khas berbahan baku singkong. Secara tradisional, masyarakat DIY telah lama mengenal dan mengonsumsi komoditas tersebut. Ini dibuktikan dari aneka ragam olahan ubi kayu yang telah dikenal lama. Mulai dari Tiwul, Geblek, Cenil, Slondok, Gatot, Growol, Gethuk hingga Mie Pentil. 

"Kadang masyarakat dari luar Yogyakarta, datang dan mencari makanan yang khas, salah satunya olahan dari ubi kayu,” kata Peneliti Ahli Utama Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta, Prof. Titiek Fariyanti Djafaar.

Bahkan di Yogyakarta sendiri ada ikon ubi kayu di Pasar Karangkajen atau yang lebih dikenal sebagai pasar Telo (ubi kayu). Di Pasar Kranggan juga banyak menjual aneka olahan ubi kayu. Pasar Bantul juga setiap pagi ada aktivitas jual beli mie pentil yang disukai konsumen,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan  Pangan DIY, Ir. Sugeng Purwanto pun  mengakui, ubi kayu atau singkong di DIY merupakan komoditas pangan yang sangat penting. Pada tahun 2018 ubi kayu menjadi komoditas “penyelamat” untuk target produksi.

“Meski terkendala dengan lahan yang semakin terbatas, kami tetap mengembangkan ubi kayu karena karena punya manfaat sebagai penopang pangan pokok selain beras,” kata Sugeng saat Bimbingan Teknis dan Sosialisasi Daring Propaktani Direktorat Jenderal Tanaman Pangan bertema “Peningkatan Nilai Tambah Komoditas Ubi Kayu Melalui Pengolahan Hasil”, beberapa waktu lalu.

Panganan kekinian

Bahkan kini dari Kota Gudeg, ubi kayu berhasil naik pamor bukan lagi sebagai makanan rakyat yang biasanya diolah secara tradisional, tapi telah menjadi pangan “kekinian”. Pemasaran olahan ubi kayu mampu menembus segmen kelas atas di hotel berbintang.

Beberapa produsen pangan olahan singkong di wilayah DIY telah menjalin kerjasama. Misalnya, Kelompok Wanita Tani (KWT) Sediyo Mulyo yang sudah meneken kontrak dengan Novotel Suites Yogyakarta. Beberapa produknya antara lain, tepung mocaf, gathot instan, tiwul instan aneka rasa, kue dari tepung mocaf, tortilla jagung.

Sementara KWT Sari Makmur dengan Ibis Style berupa olahan emping garut, tepung garut, aneka kripik sayuran. Paguyuban Pasar Tani Kabupaten Sleman dengan Phoenix Grand Mercure Ibis Yogyakarta Adisucipto. Produk yanag dipasok yaitu, tepung beras merah, tepung ubi ungu, tepung waloh, tepung sukun, dawet singkong. Kemudian untuk KT Taman Berseri dengan Ibis Malioboro berupa aneka olahan snack.

Data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, produksi ubi kayu tahun 2020 untuk Kabupaten Gunungkidul 1.004.030 ton, Sleman 8060 ton, Kulon Progo 6.357 ton, Bantul 4.600 ton. Untuk produktivitas ubi kayu sebesar 228,97 kuintal/ha, luas panen 46,876 ha, harga basah Rp 2.200/kg dan gaplek Rp 3.000/kg Beberapa varietas ubi kayu yang berkembang yaitu Bimoseno, Adira, Pandesi, Gajah, Genjah, Telokirik, Teloketan, Dorowati, Gatutkaca.

Dari sisi produksi, luasan panen ubi kayu di DIY, diakui Prof. Titiek hanya sekitar 5,35 persen dari keseluruhan luasan pertanaman ubi kayu secara nasional. Dari data yang dimiliki BPTP Yogyakarta, produksi ubi kayu di DIY di tahun 2016 mencapai ,1,02 juta ton.

“Jika dilihat dari kebutuhan konsumsi di DIY, jumlah produksi ubi kayu sebenarnya sudah terpenuhi. Namun, kebutuhan ubi kayu, bukan hanya untuk konsumsi rumah tangga, tetapi juga industri eumah tangga,” katanya.

BPTP Yogyakarta di tahun 2015 sudah melakukan identifikasi UKM-UKM yang melakukan pengolahan berbahan baku pangan lokal, khususnya ubi kayu. "Untuk industri pengolahan, kebutuhan ubi kayu agak terbatas sehingga beberapa UKM mendatangkan ubi kayu dari luar DIY seperti dari Jatim dan Jateng,” ungkapnya.

 

Reporter : Indri/Geh
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018