Tuesday, 17 May 2022


Croissant Singkong, Produk Lokal Rasa Internasional

10 May 2022, 10:05 WIBEditor : Yulianto

Pelatihan panganolahan singkong | Sumber Foto:Yeniarta

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang---Indonesia sangat kaya akan sumber pangan lokal. Salah satunya ubi kayu atau singkong yang merupakan sumber karbohidrat potensial untuk berbagai macam hidangan dan bisa menjadi alternatif diversifikasi pangan lokal.

Selain itu singkong juga kaya akan nutrisi yang melimpah, kaya serat dan segudang manfaat bagi kesehatan. Dengan teknik pengolahan hasil yang tepat, singkong dapat naik kelas menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Salah satunya yaitu Croissant atau pastry yang memiliki tampilan menarik, dan diminati pasar.

Pada Bertani on Cloud (BOC) volume 174, Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan sebagai penyaji, memberikan tema yang sangat menarik yaitu “Croissant Singkong, Bahan Lokal Rasa Internasional”.

Materi ini sangat menarik, ditengah suasana jelang lebaran, para insan pertanian atau masyarakat umum bisa membuat sebagai sajian lebaran ataupun hantaran kepada sanak saudara atau tetangga.

“Selama ini komoditas singkong secara ekonomis masih dinilai sebelah mata oleh masyarakat,” kata Rivana Agustin, widyaiswara spesialis pengolahan hasil pertanian tanaman pangan yang menjadi narasumber pada kegiatan BOC tersebut.

Padahal menurutnya, manfaat singkong sangat banyak sekali. Salah satunya adalah kaya serat yang sangat dibutuhkan tubuh kita. Selain itu kandungan karbohidratnya tinggi sebagai pengganti nasi.

“Dalam rangka menyambut lebaran, tema olahan singkong menjadi croissant ini diharapkan bisa mengedukasi seluruh insan pertanian yang menyaksikan dan mencoba membuat sendiri untuk sajian lebaran, katanya.

Ridwan Wardiana, Koordinator Penyelenggara Pelatihan mewakili Kepala BBPP Ketindan saat memberikan sambutan sekaligus membuka BOC mengatakan, singkong sebagai salah satu komoditas tanaman pangan di Indonesia sering diremehkan sebagai karena nilai ekonomisnya rendah.

“Dengan sentuhan inovasi dan kemajuan jaman, singkong menjadi naik kelas karena bisa diolah menjadi makanan yang menghasilkan cuan banyak alias nilai ekonomisnya tinggi,” katanya.

Ia mencontohkan, aneka olahan pastry atau croissant singkong yang ditampilkan dalam kegiatan BOC ini. “Tentunya untuk ketahanan pangan singkong adalah salah satu pilihan dari sekian tanaman pangan lainnya,” tambahnya. Karena itu, ia berharap SobaTani (panggilan akrab seluruh insan dan pelaku pertanian) bisa mengaplikasikan materi hari ini.

Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan croissant ini adalah singkong tepung terigu, gula halus, kuning telur, margarine, korsvet, susu cair, garam, dan keju cheddar. Sedangkan peralatan yang digunakan cukup sederhana pada skala rumah tangga, seperti kukusan/dandang, kompor, timbangan, baskom, mixer, oven, rolling pin.

Proses pembuatan juga sangat mudah, namun diperlukan kesabaran karena waktu yang dipakai membuat croissant agak lama, agar yang dihasilkan betul-betul memuaskan dan menaikkan nilai ekenomisnya.

Sekalipun materi ini dibawakan sehari sebelum libur panjang karena cuti bersama menyambut Hari Raya Idulfitri, namun antusiasme peserta sangat tinggi. Mulai dari awal acara yang dipandu Host Yeniarta Margi Mulya sampai dengan kuis.

Penyampaian materi serta praktik bersama moderator Nining Hariyani dan dibantu petugas laboratorium Margaretha Dyah Wijayanti, semua peserta mengikuti dengan baik. Pernyataan-pertanyaan yang disampaikan oleh peserta juga langsung dijawab oleh narasumber, Rivana Agustin.

Hal ini selaras dengan himbauan Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo yang mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk budaya mengkonsumsi pangan lokal salah satunya adalah singkong/ubi kayu.

Sejalan dengan arahan Menteri Pertanian, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Prof. Dedi Nursyamsi juga menegaskan, pangan adalah masalah yang sangat utama.

"Sudah saatnya petani tidak hanya mengerjakan aktivitas on farm, tetapi juga mampu secara off farm, terutama pasca panen dan olahannya. Banyak yang bisa dikerjakan untuk menaikkan nilai pertanian, khususnya pasca panen. Tuntutannya adalah petani harus pandai berinovasi. Buat terobosan agar hadir produk-produk baru," paparnya.

Reporter : Yeniarta (BBPP Ketindan)
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018