Tuesday, 17 May 2022


Inovasi Bakdryer Multiguna Ala Sutrisno Selamatkan Gabah Petani

11 May 2022, 16:09 WIBEditor : Gesha

Bakdryer Multiguna | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Ngawi --- Inovasi alat pengering gabah dengan harga terjangkau, nyatanya bisa dibuat oleh Gapoktan Tani Makmur Ngawi Jawa Timur. Adanya Bakdryer Multiguna ini diharapkan mampu meningkatkan harga jual gabah petani. 

"Inovasi ini dimulai tahun 2014. Berawal dari keluhan petani harga gabah saat musim hujan yang rendah. Kalau kering giling (GKG) bisa disimpan dan dijual lebih tinggi, " sebut Ketua Gapoktan Tani Makmur Ngawi Jawa Timur, Sutrisno dalam Bimbingan Teknis dan Sosialisasi (BTS) Propaktani "Revitalisasi Penggilingan Padi untuk Meningkatkan Kualitas Produksi" yang digelar Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian bersama TABLOID SINAR TANI, Rabu (11/05). 

Dari prototipe di tahun 2014 dengan skala kecil, Sutrisno beserta anggota kelompoknya kemudian membuat bakdryer lebih besar dengan kapasitas 20 ton di tahun 2020. "Kita membuatnya dengan modal sendiri (mandiri) dan menggunakan dana program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dari Bank Jatim senilai Rp 100 juta, " jelasnya. 

Kenapa memilih bakdryer daripada vertical dryer, Sutrisno memaparkan, bahwa bakdryer ini mampu ditingkatkan kapasitasnya (bahkan lebih dari kapasitas produksinya). Tak hanya itu, waktu pengeringan lebih cepat dan hemat serta perawatan mudah namun dengan hasil yang maksimal, dibandingkan vertical dryer. 

Total investasi bakdryer pun lebih murah, dengan kapasitas maksimal 20 ton hanya membutuhkan modal sekitar Rp 250 juta (Rp 50 juta untuk pembuatan bakdryer dan Rp 150 juta untuk gudang) dibandingkan vertical dryer dengan maksimal 10 ton, membutuhkan dana mencapai Rp 1 Milyar lebih (Rp 1.096.145.000). 

Tentunya, lebih menguntungkan bagi Gapoktan untuk membuat bakdryer seperti ini daripada memaksakan membeli vertical dryer. "Hasil beras yang dihasilkan lebih baik, mampu mengurangi broken karena gabah tidak di bolak balik. Hanya diatur suhu saja," tambahnya. 

Sutrisno berharap agar inovasi ini bisa diterapkan oleh Gapoktan lainnya karena biayanya murah, efisien, dan sangat membantu petani saat musim penghujan serta peralihan. 

Analisa Usaha

Sutrisno memaparkan analisa usaha bakdryer dengan kapasitas 10 ton. Mulai dari biaya listrik, pemanas menggunakan wood pellet, tenaga kerja serta operator bakdryer. 

"Total biaya operasional, Rp 1.647.000 untuk 10 ton atau 10 ribu kilogram. Marginnya sendiri mencapai Rp. 853,000/hari (24 jam) atau Rp. 12,795,000 per 15 hari setiap bulannya, " tuturnya. Sehingga, dengan investasi Rp 250 juta, bakdryer dengan kapasitas 10 ton ini memiliki Break Even Point (BOP) selama 19,5 bulan. 

 

Pembuatan bakdryer sendiri hanya memerlukan cara sederhana dengan pembuatan bak tembok ukuran 4 meter x 10 meter dengan rangka besi hollow (50 batang) serta plat besi (15 lembar) untuk menghasilkan bakdryer kapasitas 20 ton. Kemudian menggunakan blower (kipas hisap) sebanyak 3 buah untuk pengeringan dan kapasitas listrik sebesar 23 ribu Volt agar tidak berisik dan berasap. 

"Proses pengeringan memang masih manual dengan bak dryer ini untuk memberdayakan masyarakat sekitar. Bakdryer ini bisa digunakan untuk jagung dan padi," tuturnya. 

Adapun pengguna bakdryer ini adalah petani anggota Gapoktan, bahkan pedagang gabah yang diatur sedemikian rupa agar jadwal tidak bertabrakan. 

"Alhamdulillah juga kita dipercaya untuk pabrikan besar seperti PT. Daya Tani Sembada dan PT. Jagung Raya Lestari serta Koperasi Ngawi Tani Mandiri sebagai bagian dari Gapoktan, " tambahnya.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018