Monday, 23 May 2022


Banyak Masalah, Perpadi: Revitalisasi Penggilingan Padi Kecil suatu Keharusan

11 May 2022, 17:20 WIBEditor : Yulianto

Penggilingan padi kecil makin sulit bersaing dengan adanya HET | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Revitalisasi penggilingan padi, khususnya skala kecil merupakan keharusan. Meski kini sudah berjalan, tapi terlihat masih sangat lambat, sehingga perlu terobosan baru.

“Bicara revitalisasi, pertanyaan adalah bagaimana keadaan perberasan saat ini? Bagaimana kondisi penggilingan padi di Indonesia? Kenapa harus direvitalisasi?” kata Ketua Umum DPP Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras (Perpadi), Sutarto Alimoeso saat Bimbingan Teknis dan Sosialisasi (BTS) Propaktani Revitalisasi Penggilingan Padi untuk Meningkatkan Kualitas Produksi di Jakarta, Rabu (11/5).

Saat kegiatan yang berlangsung atas kerjasama Tabloid Sinar Tani dengan Ditjen Tanaman Pangan, Sutarto mengatakan, dengan produksi beras yang fluktuasi, sehingga perlu penanganan beras secara tepat. “Kualitas gabah saat panen raya di musim hujan cenderung rendah akibat curah hujan tinggi. Untuk itulah, peran penggilingan padi sangat penting,” ujarnya.

Namun Sutarto mengatakan, kapasitas mesin penggilingan (dryer) yang ada sangat terbatas. Umumnya dryer hanya dimiliki penggilingan padi besar dan sebagian penggilingan padi menengah, sehingga mereka mampu menghasilkan beras dengan mutu premium. Sedangkan penggilingan padi kecil, umumnya hanya memanfaatkan lantai jemur untuk pengeringan. Padahal saat musim hujan, lantai jemur tidak bisa berfungsi optimal.

Berdasarkan data yang ada Sutarto menyebutkan, saat ini sebagian besar atau 95,06 persen merupakan penggilingan padi kecil dengan kapasitas di bawah 1.500 kg/jam. Dengan konfigurasi mesin dan cara kerja, serta manajemen yang kurang memadai. “Penggilingan padi kecil masih belum optimal, diperkirakan hanya mengolah di bawah 50 persen dari kapasitasnya,” katanya.

Penggilingan padi kecil umumnya juga memiliki keterbatasan manajemen, teknologi, peralatan, sulit mengakses permodalan dan pasar. Kualitas beras yang dihasilkan ungkap Sutarto juga masih rendah medium minus (beras glosor, beras sayur dengan tingkat broken di atas 25 persen) dan tidak seragam. Diperkirakan kehilangan hasil masih cukup tinggi. Data BPS mencapai 3,25 persen, sedangkan data Ditjen Tanaman Pangan sekitar 2,8 persen.

Sedangkan rendemen gabah menjadi beras rata-rata hanya 62,28 persen dari seharusnya minimal 67 persen. Di Thailand rendemen mencapai 69,7 persen dan Vietnam 66,6 persen. Karena itu mantan Dirjen Tanaman Pangan ini melihat, kondisi penggilingan padi skala kecil masih banyak menghadapi masalah.

Namun dengan keterbatasan tersebut, menurut Sutarto, penggilingan padi memiliki fungsi sosial. Karena itulah dalam revitalisasi penggilingan padi kecil, ia berharap pemerintah tidak mendorong pembangunan penggilingan padi baru, tapi memperbaiki peralatan yang ada penggilingan padi skala kecil tersebut.

“Perlu dukungan dalam revitalisasi penggilingan padi kecil. Tidak cukup dengan bantuan yang sifatnya gratis, tapi harus ada pendampingan dan memberikan fasilitas agar mereka mampu mengakses permodalan dan pasar dengan mudah, murah dan tepat sasaran,” katanya.

Dengan demikian lanjut Sutarto, penggilingan padi kecil dapat meningkatkan rendemen dan beras broken bisa diturunkan. Artinya, revitalisasi penggilingan padi kecil dalam sistem perberasan nasional merupakan suatu keharusan.

Ada beberapa fokus revitalisasi yang Sutarto sarankan. Pertama, cara kerja penggilingan padi yang sesuai SOP dengan manajemen modern. Kedua, perbaikan proses penggilingan yang baik melalui penggunaan atau penyediaan dryer.

Ketiga lanjutnya, perbaikan konfigurasi mesin dan penggunaan atau penambahan sebagian alat mesin. Misalnya, dari husker-polisher menjadi husker-separator-polisher. Bisa juga mulai dari cleaner-husker-separator-polisher-pengepakan.

“Konfigirasi lainnya yang lebih kompleks yaitu dengan penambahan mesin pengabut, blower, pemisah batu, pemisah warna dan elevator, serta gudang penyimpanan yang memadai,” tuturnya. Revitalisasi ini bisa dilakukan secara bertahap.

 

Reporter : julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018