Thursday, 30 June 2022


Revitalisasi Penggilingan Padi Kecil, Perlu Dukungan Pemerintah

18 May 2022, 14:52 WIBEditor : Yulianto

Usaha Penggilingan Padi bisa menggunakan KUR untuk serap gabah petani | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Revitalisasi penggilingan padi menjadi satu cara untuk memperbaiki kualitas beras dalam negeri. Setidaknya ada dua manfaat penting yang bisa diperoleh dalam program revitalisasi penggilingan padi. Pertama, peningkatan produktivitas beras nasional. Kedua, peluang ekspor bagi industri perberasan.

Managing Director PT Vietindo Jaya, Mohamach Abdoula mengatakan, revitalisasi atau upaya peningkatan kinerja industri penggilingan padi terpasang (eksisting) yang akan meningkatkan rendemen beras dalam bulir padi yang diolah sehingga produktivitas naik.

Untuk mewujudkan revitalisasi sekaligus integrasi industri penggilingan padi ini, Mohamach mengatakan perlu dukungan pendanaan dari pemerintah (soft loan) bagi pelaku usaha RMU skala kecil menengah. Peran pemerintah sangat penting disini sebagai jalan keluar bagi pemilik industri RMU rakyat untuk mewujudkan revitalisasi tersebut.

Mohamach mengatakan, untuk membangun industri perberasan yang maju dan modern serta berorientasi ekspor dibutuhkan mesin pengolahan beras yang terintegrasi. "Kami sejak tahun 2002, sudah mengembangkan model industri perberasan (RMU) terintegrasi sebagai salah satu solusi untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi," katanya.

Selama ini kata Mohammach, pihaknya sudah bekerjasama membangun RMU dengan BUMN, BUMD dan pihak swasta di berbagai daerah di seluruh Indonesia. "Selain membangun RMU, kami juga melakukan perbaikan atau merehab mesin penggilingan yang kurang optimal," ujarnya.

Perlu diketahui, pada proses pengolahan gabah di penggilingan padi menjadi salah satu penyumbang penyusutan produksi beras selain proses pengeringan dan transportasi. Di sisi lain, Mohamach juga menyampaikan peningkatan kualitas produksi hasil dari revitalisasi ini juga mampu didorong untuk ekspor keluar negeri.

Pada tahun 2018 lalu, Indonesia sudah berhasil mengekspor beras sebanyak 4.000 ton dengan kualitas yang diterima pasar internasional. Apalagi kedepan pemerintah menargetkan ada peningkatan ekspor hingga 2 atau 3 kali lipat, bahkan kalau bisa hingga 10 kali.

Menurutnya, potensi pasar ekspor luar negeri terbuka lebar, selain beras biasa, Indonesia memiliki kekuatan dan keunggulan karena memiliki beraneka ragam jenis beras, termasuk beras  eksotik seperti beras merah dan beras hitam. Selain itu dunia juga sudah melirik Indonesia sebagai produsen beras organik (premium) yang memiliki nilai jual cukup tinggi.

Untuk dapat menghasilkan beras dengan kualitas bermutu dan aman dikonsumsi untuk ekspor, kata Mohamach, kita harus memiliki industri perberasan yang berstandar internasional. Untuk ekspor, ada syarat yang harus dipenuhi seperti Good Manufacturing Practice (GMP) dalam pengolahannya di hilir. Sementara di hulu atau sawah, pengembangan ke arah Good Agricultural Practice (GAP) juga harus diperhatikan.

Upaya peningkatan kinerja penggilingan padi juga harus di lengkapi dengan pendukungnya seperti untuk proses pengeringannya (Dryer). Hal ini menjadi penting karena petani sekarang mulai banyak yang memanen dengan combine harvester dengan jumlah yang besar sehingga perlu pengeringan sebelum digiling,” tuturnya.

Perlu ditandemkan antara revitalisasi penggilingan dengan pembangunan pengering (dryer) untuk menyerap hasil panen petani sehingga GKP yang dihasilkan bisa aman disimpan selama 6 bulan atau 2 kali musim tanam. Gabah kering ini akan menjadi cadangan atau buffer stock di daerah tersebut yang akan siap digiling untuk memenuhi produksi lokal. 

Reporter : iqbal
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018