Sabtu, 25 Mei 2024


Penggerek Batang Padi, Hama Terganas Nomor 2 Setelah Tikus

10 Jun 2022, 13:35 WIBEditor : Yulianto

Hama penggerek batang padi | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Hama penggerek batang padi (PBP) menjadi hama terganas nomor dua yang menyerang tanaman padi. Pasalnya hama ini termasuk yang sulit dikendalikan dengan cara biasa. Parahnya, jika tidak dicegah, maka hama PBP ini bisa menyerang dua kali dalam satu musim tanam.

Hama ini juga menyerang tanaman padi pada berbagai fase pertumbuhan mulai dari fase vegetatif sampai generatif. Data Balai Besar Peramalan OPT (BBPOPT) Jatisari, diperkirakan luas serangan OPT utama tanaman padi pada musim tanam 2022 mencapai 202.091 ha.

Dari enam hama utama padi, PBP menjadi OPT yang serangannya paling luas yakni 63.661 ha, kemudian tikus (61.964 ha), hawar daun bakteri/HDB (28.408 ha), blas (21.870 ha), wereng batang cokelat/WBC (22.189 ha) dan tungro seluas 3.999 ha.

Bahkan H. Otong Wiranta, Ketua IX KTNA mengakui, berdasarkan pengamatan dan pengalaman dirinya penggerek batang adalah hama yang sangat penting diperhatikanKita tahu petani dalam mengusahakan usaha tani padi banyak sekali hambatan dan tantangannya, salah satunya adalah hama,” ujarnya saat Webinar Kiat Jitu Kendalikan Penggerek Batang Padi yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bersama FMC di Jakarta, Kamis (9/6).

Jika diurutkan cara pengendalian hama padi, menurut Otong, maka yang paling susah pertama adalah tikus. Mengapa tikus? Pasalnya, jika padi sudah diserang tikus, maka kerusakannya bisa mencapai 100 persen.

Hama kedua yang sangat sulit dikendalikan adalah penggerek batang padi. Hama ini diakui Otong, berada dalam batang tanaman dan siklus hama metamorfosanya sempurna. Dari mulai telur, larva, pupa sampai ngengat atau kupu kupu.

“Selama siklus hidupnya bisa menyerang dua kali dalam satu musim tanam oadi, karena satu siklus hama penggerek batang padi hanya 50-60 hari. Sedangkan umur padi sekitar rata-rata 115 hari,” tuturnya seraya mengingatkan agar petani harus memperhatikan hama tersebut.

Faktor lain yang menyebabkan PBP perlu mendapat perhatian serius adalah ngengat hama ini bisa bermigrasi jauh. Apalagi saat migrasinya dibantu cahaya. Selain itu, meski ngengat PBP hidupnya tidak lama hanya 5-7 hari, tapi saat bertelur membentuk kelompok telur mencapai 4-5 kelompok. Tiap kelompok telur jumlah telurnya mencapai 200-300 telur.  “Kalau kita jumlahkan telurnya cukup banyak, maka harus segera dikendalikan,” tegasnya.

Larva PBP ini menurut Otong, juga sangat berbahaya, karena bisa berpindah dari satu batang padi yang satu ke yang lain. Begitu juga pupa PBP, ternyata  bisa beristirahat sampai 6 bulan. “Bayangkan kalau kondisi kering pupanya bisa istirahat. Nah, saat kita mau mengolah tanah datang air, maka pupa itu baru bermetamorfosa menjadi ngengat,” ungkap Ketua KTNA Jawa Barat ini.

Otong mengungkapkan, ada beberapa jenis PBP yang saat ini dikenal yakni, PBP punggung kuning, PBP putih, PBP merah jambu, dan PBP bergaris. Paling berbahaya adalah PBP kuning dan putih, karena keduanya sangat tertarik terhadap cahaya. Bahkan inangnya, bisa hidup tidak hanya di padi tapi rumput liar yang ada di sekitar sawah, sehingga petani tidak melihat penerbangan.

Dampak Serangan

Otong menjelaskan, akibat serangan penggerek batang ini ada dua gejala yang ditimbulkan yaitu sundep dan beluk. Cara kerjanya sama, memotong jaringan batang, sehingga tanaman tidak tumbuh lazimnya seperti yang normal. Jadi batang yang terserang akan menguning ketika dicabut akan copot.

Untuk gejala sundep, serangan dimulai dengan larva ngengat merusak tanaman padi sebelum memasuki fase vegetatif (masa pembungaan). Gejalanya mulai terlihat ketika tanaman padi berumur 21 hari setelah pindah tanam. Selanjutnya setelah satu minggu, larva ngengat akan bertelur dan meletakkannya pada batang tanaman padi.

“Selang 4-5 hari, telur akan menetas sekaligus merusak sistem pembuluh tanaman yang terdapat pada batang padi,” katanya. Dampak visualnya yaitu pucuk batang padi menjadi kering kekuningan serta mudah dicabut.

Sedangkan untuk gejala beluk, menurut Otong, serangannya terjadi pada fase generatif (masa pembentukkan malai). Dampak serangan yang ditimbulkan menyebabkan bulir padi menjadi hampa. Hal ini akibat proses pengisian bijinya tidak berjalan sempurna, karena kerusakan pada pembuluh batang padi.

Kerugian akibat gejala beluk berkisar 1-3 persen atau rata-rata 1,2 persen,” kata Otong yang juga seorang petani di daerah Sukamandi. Dengan gejala tersebut, petani bisa mengantisipasi dini serangan PBP. Jangan telat, bisa gawat. 

Bagaimana cara mencegah sedini mungkin hama PBP. Baca halaman selanjutnya.

 

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018