Friday, 01 July 2022


Noda Palsu Serang Padi Baroma di Banjarbaru, Ini Cara Mengendalikannya

14 Jun 2022, 09:08 WIBEditor : Herman

Padi Baroma

TABLOIDSINARTANI.COM, Banjarbaru --- Kehadiran penyakit di lahan pertanian merupakan masalah bagi petani terlebih jika intensitas serangannya tinggi. Karena sampai dengan saat ini belum ada pengendalian yang efektif dan efisien selain eradikasi.

Oleh karena itu, Penerapan Early Warning System menjadi sesuatu yang mau tidak mau harus dilakukan jika ingin terhindar dari suatu penyakit yang berakibat pada kerugian bagi petani terlebih pada lokasi penanaman yang pernah mengalami serangan suatu penyakit tertentu.

Mengingat penyebab penyakit/patogen tidak dapat dilihat dengan mata telanjang dan ada kecenderungan beragamnya penyebab penyakit hadir secara bersamaan. Maka alangkah baiknya kita mengenal gejala dari penyakit tersebut agar memudahkan dalam menentukan teknik pengendaliannya.

Hilirisasi teknologi inovatif badan litbang pertanian terus berlangsung tanpa batas dan ruang demi mendukung ketahanan pangan negara Indonesia tercinta ini, salah satunya varietas Baroma yang merupakan varietas padi hasil perkawinan galur padi Indonesia dengan varietas Basmati negara India.

Indonesia sudah memiliki tanaman padi Baroma (Basmati Aromatik) yang dihasilkan balitbangtan kementerian pertanian dengan sifat dan karakteristik yang hampir sama tanaman padi Basmati dari negara India, antara lain; benih dan beras hasil panen serta keadaan tanaman padinya saat di lapangan.

Varietas baroma sudah ada di lahan sawah tadah hujan (Kota Banjarbaru) dan lahan pasang surut Kalimantan Selatan (Barito Kuala).  Harumnya pertanaman padi Baroma saat malai mulai keluar di lahan sawah tadah hujan Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru menimbulkan motivasi petani untuk menanam kembali varietas yang baru dikenal dan baru ditanam serta di panen dengan hasil yang menguntungkan (5,6 ton/ha – 6,7 ton/ha) bagi mereka.

Petani Kota Banjarbaru cenderung menanam varietas lokal yang bersifat pera dengan panen setahun sekali. Kehadiran Baroma memberikan warna baru dan peluang untuk dikembangkan di lahan sawah tadah hujan kota Banjarbaru yang telah menjadi ibukota Provinsi Kalimantan Selatan karena beras jenis ini dibutuhkan untuk acara-acara khusus, diantaranya pada acara keagamaan yang sering dilakukan masyarakat Kalimantan Selatan disamping itu memiliki harga jual yang menguntungkan.

Padi Baroma yang telah dan terus di tanam di wilayah kelurahan Cempaka Kota Banjarbaru dengan tipe lahan sawah tadah hujan ini berpeluang untuk meningkatkan provitasnya sesuai karakteristik dari varietas Baroma tersebut, namun saat ini mempunyai masalah dengan penampilan benih yang terserang penyakit Noda Palsu/False Smuth yang terlihat jelas pada saat mau panen (kurang lebih 7-10 hari).

Petani baru menemukan ada pada tanaman padi Baroma yang mereka baru budidayakan serta belum tahu cara pengendaliannya, sehingga benih yang dihasilkannya cenderung berwarna putih kehitaman dan menjadikan penampilan kurang menarik, untuk dijadikan benih kembali tentu belum lulus jika diuji sertifikasi, namun petani tetap menanam benih tersebut karena kelebihan yang dimilikinya. 

Kelebihan tanaman Baroma di lahan menurut petani, M.Yusuf antara lain pada saat malai keluar dan bulir padi berisi hama burung tidak mnyerang sedangkan hama burung di lokasi penanaman padi hingga saat ini merupakan hama utama yang sulit dikendalikan sehingga berdampak pada kekurangan hasil panen.

Munculnya penyakit Noda Palsu membuat petugas lapangan dan petani tentunya menjadi risau dan gelisah karena hasil yang diperoleh belum sesuai harapan dengan penampilan/warna benih berwarna kehitaman.

Benih yang dihasilkan diharapkan tidak hanya untuk dijual dan konsumsi sendiri, namun juga untuk dijadikan benih kembali. Untuk mengurangi kerisauan dan kegelisahan ini maka kita harus mengenal terlebih dahulu karakteristik penyakit tersebut.

Antara lain; penyebab penyakit/patogen, gejala serangan, cara penularan dan inang, faktor yang mempengaruhi dan kemudian baru teknik pengendaliannya agar penyakit noda palsu tidak muncul atau paling tidak bisa meminimalisir intensitas serangan hingga tidak mengakibatkan kerugian bagi petani terutama di daerah yang pernah terserang.

Penyebab

Pathogen atau penyebab penyakit dari Noda Palsu atau Penyakit Gosong Palsu atau Bercak Hitam Palsu  atau False Smuth adalah jamur yang bernama Ustilaginoidea virens. 

Di negara India, kehadiran Noda Palsu pada bulir tanaman padi Basmati dikenal dengan sebutan “Lakshmi” yang dipercaya sebagai simbol panen besar, karena memang pada awalnya penyakit ini dianggap kurang merugikan.

Akan tetapi saat ini dengan intensitas serangan yang sudah mengarah ke ringan menuju sedang apalagi jika dibiarkan maka tergolong pada salah satu penyakit yang sangat merugikan dan tingkat kerusakan bisa mencapai 20-80 %.

Gejala

Gejala penyakit tampak jelas pada bulir-bulir padi yang terserang, dipenuhi oleh spora dan bentuknya tidak normal. Bulir padi menjadi gumpalan besar yang bagian luarnya berwarna hijau, sedang dalamnya berwarna kuning dan besarnya 2-3 kali besar bulir padi.

Jamur ini mula-mula berkembang dalam kulit luar dan menghisap endosperma padi, kemudian membentuk seklerotium yang cukup besar. Seklerotium kemudian keluar dari sekam dan berwarna kuning emas atau kadang hijau dengan diameter 5-8 mm.

Bulir padi yang terserang akan meletus dan membesar, permukaan bulir akan dipenuhi oleh gumpalan spora. Ukuran gumpalan bisa mencapai hingga 1 cm. Kemunculan penyakit ini cenderung terlihat saat tanaman berumur ± 2 minggu sebelum panen di lahan petani Kota Banjarbaru, terlebih akan terlihat nyata sewaktu bulir mulai masak.

Dan hanya menyerang beberapa bulir saja dalam satu malai, namun keberadaan jamur ini dapat menurunkan nilai mutu hasil panen karena pada saat panen akan tercampur dengan bulir yang terserang.

Penularan dan Faktor Yang Mempengaruhi

Penularan penyakit ini dengan alat perkembangbiakannya berupa spora melalui udara sehingga jamur ini sangat mudah menyebar. Selain itu, jamur ini mampu bertahan selama lebih kurang 4 bulan pada tanah dengan membentuk sklerotia (gumpalan spora yang keras).  Inang penyakit noda palsu selain tanaman padi juga tanaman jagung. 

Perkembangan penyakit noda palsu didukung oleh faktor-faktor, antara lain;  curah hujan (CH) dan kelembaban nisbi (RH Nisbi) yang tinggi, suhu (T) rendah, angin yang menyebarkan spora dari tanaman terserang ke tanaman yang lain.  

Curah hujan dengan hari berawan selama masa pembungaan dapat mendukung serangan penyakit. Jumlah hari hujan (HH) selama periode pembungaan mempengaruhi prosentase penyakit lebih tinggi daripada jumlah curah hujan.

Aplikasi nitrogen dengan dosis berlebihan khususnya pada stadium pembungaan juga berpengaruh dalam meningkatkan kerentanan tanaman menghadapi serangan penyakit noda palsu. 

Pengendalian

Dengan sudah mengenal karakteristik dan cara penularan serta faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit noda palsu maka ada beberapa alternatif teknik pengendalian yang dapat dilakukan,  antara lain:

Pengendalian secara budidaya, dengan cara penghancuran jerami dan sisa tanaman yang sakit melalui pembakaran atau pembenaman ditempat yang jauh dari lahan pertanaman, tidak menggunakan benih dari tanaman yang terinfeksi, menggunakan benih bersertifikat, jarak tanam tidak terlalu rapat atau bisa menerapkan jajar legowo untuk mengurangi kelembaban, pengairan basah kering apabila memungkinkan. penggunaan dosis pupuk nitrogen (N) sesuai anjuran (kelebihan unsur N membuat tanaman rentan terserang).

Pengendalian secara mekanis, yaitu mengambil/memetik bulir padi yang terserang agar jamurnya tidak menular ke bulir padi yang lain,  memotong dan memusnahkan bagian tanaman yang terinfeksi atau Seklerotium yang besar memudahkan untuk ditemukan dan dibersihkan. Sanitasi lahan dari tanaman yang terserang (jerami atau tunggul tanaman terserang) untuk mengurangi sumber penyakit, mengingat jamur ini sangat mudah ditularkan oleh angin.

Mengendalian secara kimia jika sudah terjadi serangan penyakit noda palsu dengan intensitas serangan sedang menuju tinggi maka dapat menggunakan pestisida berbahan aktif : fentin hidroxida, mankozeb, tembaga, carbendazim atau trifloksistrobin. 

Reporter : Sri Hartati
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018