Friday, 01 July 2022


Kedelai Mampu Atasi Kemiskinan di Aceh

14 Jun 2022, 13:33 WIBEditor : Gesha

Penelitian Kedelai saat berkunjung ke Wollongbar, NSW Australia. | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Banda Aceh -- Pertanaman Kedelai di Aceh ternyata mampu mengatasi kemiskinan di Bumi Serambi Mekkah. 

Pengamat Pertanian T. Iskandar menuturkan, di era 1980an luas pertanaman di beberapa daerah sentra kedelai di Aceh sangat luas hingga mencapai lebih 100 ribu hektar, bahkan Aceh pernah terkenal dengan varietas kipas merah dan kipas putih Bireuen serta mampu berswasembada kedelai.

Kenapa kedelai bisa berjaya kembali di Aceh? Dengan adanya program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), memanfaatkan lahan kering dan marginal, ini merupakan peluang untuk membangkitkan kembali kejayaan kedelai di Aceh.

Menurut T. Iskandar, di Aceh tak kurang 20 ribu hektar lahan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) bisa ditanami kedelai. Ini merupakan peluang intensifikasi kedelai dengan cara intercroping dengan sawit rakyat.

Karena tanaman sawit masih muda dan belum menghasilkan. "Hendaknya peluang ini bisa dimanfaatkan oleh pemerintah untuk menanam kedelai," sambung T. Iskandar yang pernah menjabat Ka. BPTP Aceh. 

Walaupun harga kedelai masih rendah, tapi memiliki peluang intercropping dengan kelapa sawit. Artinya, tak kurang ada lahan seluas 20.000 ribu hektar di Aceh yang mendapat program PSR sawit ditanami kedelai.

"Upaya ini perlu digerakkan dan dukungan serius Pemkab yang daerahnya mendapat program PSR. tapi harus ada gerakan pendampingan dari penyuluh juga," tuturnya.

Programa itu penting dan perlu direncanakan sesuai dengan kebutuhan komoditi wilayah. Penyuluh dapat memainkan perannya agar lebih eksis lagi melalui Assessment Technology.

"Minimal kalau hasil kedelai 1,5 ton, harga di tingkat petani Rp 6.000 saja dan ditanam pada lahan seluas 20 ribu hektar, maka bisa menyumbang devisa 180 miliar," tuturnya.

Impor Kedelai

Diakui Iskandar, program Kedelai nasional kini menjadi dilema, pasalnya, disatu sisi kebutuhan Kedelai nasional saat ini cukup meningkat, tapi disisi lain masih sangat tergantung dengan impor.

Kenapa kita harus impor Kedelai? Iskandar membeberkan, karena Kedelai impor harganya lebih murah, hal ini dipengaruhi efisiensi usaha yang menguntungkan. 

Sebagai contoh, di Australia lanjutnya, harga kedelai di tingkat petani mereka bisa menjual Rp 4.000 per kilogram. Sedangkan di Indonesia harganya mencapai Rp 6.000/kg.

Walaupun di tingkat petani harga Rp 6.000/kg, akan tetapi petani belum menguntungkan. Pasalnya jika kedelai ditanam pada lahan sawah dengan asumsi hasil rata-rata 1 hingga 1,5 ton/ha. Sementara harga jual Rp 6.000 maka pendapatan petani hanya Rp 9 juta per tahun.

Namun jika dibandingkan petani menanam padi di lahan sawah bisa 2 - 3 kali/ tahun. Tentu hasilnya jelas sangat menguntungkan. Dengan asumsi hasil 6 ton saja per hektar, maka kalau harga HPP gabah Rp 4.800/kg, peluang hasil berbeda sangat nyata. "Apalagi di lahan irigasi petani bisa menanam dengan program IP 300," timpalnya.

Umumnya petani dalam menerapkan suatu inovasi teknologi selalu mengedepankan bisnis dan mencari keuntungan. Sedangkan Kedelai di lahan sawah hanya bisa satu kali panen dan hasilnya belum maksimal akibat dipengaruhi harga pasar. 

Reporter : AbdA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018