Wednesday, 10 August 2022


Beras Andalan Masyarakat Transmigran, Ketahanan Pangan dari Kalbar

30 Jul 2022, 19:52 WIBEditor : Gesha

Irjen Kementan Jan Maringka bersama Petani pemilik penggilingan padi di Kota Pontianak | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Pontianak --Memastikan Ketahanan Pangan di Kalimantan Barat (Kalbar), Irjen Kementerian Pertanian, Jan Maringka berkesempatan mengunjungi langsung penggilingan padi yang ternyata milik seorang petani milenial asal bernama Mulyanto.

Kementerian Pertanian melalui Inspektorat Jenderal (Itjen) mendukung Pontianak untuk mengembangkan sektor pertaniannya demi menjaga ketahanan pangan di tengah ancaman Krisis Pangan Global .

"Hadirnya Inspektorat Jenderal (Itjen) hadir turun ke lapangan menjadi dukungan terhadap program Kementan bisa tepat waktu, mutu dan tepat sasaran," tuturnya ketika mengunjungi penggilingan beras.

Salah satunya adalah Komando Strategi Penggilingan Padi (Kostraling) yang turut berperan dalam Ketahanan pangan. "Ibaratnya Bulog-Bulog kecil, penggilingan bisa menjadi andalan stok beras nasional. Kostraling adalah pioner dari penggilingan-penggilingan padi kecil," sebut Jan Maringka.

Jan menambahkan, penggilingan beras ini diharapkan untuk dapat menyerap gabah dan menjaga agar harga di tingkat petani tetap stabil.

Ditemui oleh Jan Maringka, pemilik penggilingan yang ternyata seorang petani milenial bernama Mulyanto ini bercerita cukup banyak mengenai usaha penggilingan berasnya selama ini. 

"Ini sebenarnya usaha orang tua, namun saya lanjutkan lagi. Kapasitas produksinya 4-5 ton per hari, berasnya dipasok dari kelompok dan beberapa juga beli ke kelompok lain. Kita pasarkan ke Kota Pontianak dengan harga Rp 10 ribu per kg. Kemampuan gudang di penggilingan ini dapat mencapai 100 ton," tuturnya.

Diakui Mulyanto, Penggilingan ini termasuk kedalam penggilingan kecil dimana kualitasnya berasnya belum mencapai premium. "Kita cuma bisa pasok sekitar 100 kg ke pasar, karena diangkutnya pakai motor," tambahnya.

Mulyanto yang ternyata putra transmigran dari Solo, Jawa Tengah ini menjelaskan kapasitas penggilingan padinya kecil karena mesin Rice Milling Unit (RMU) yang sudah tua. "Disini ada kamar penjemuran yang sederhana. Dalam 1 kali penjemuran mampu menjemur sebanyak 3 ton dengan durasi 3 hari," jelasnya.

Mengenai harga beras, Mulyanto membeberkan harga Gabah Kering Panen (GKP) Petani yang rendah, hanya sekitar Rp 4400 per kg. "Sedangkan harga pupuk, sedang naik-naiknya. Agak kesulitan kami," tuturnya.

Mulyanto yang juga Petani ini menuturkan produktivitas padi di wilayahnya cenderung rendah jika dibandingkan dengan Pulau Jawa yang memiliki irigasi teknis. "Produksi 2-3 ton per hektar itu sudah paling bagus. Disini, tanam mengikuti air. Curah hujan juga sulit diprediksi, jadi produksi beras kurang optimal," tuturnya.

Dirinya menambahkan, petani sebenarnya mau menerapkan teknologi baru, sepanjang ada contoh keberhasilannya. "Tantangan disini itu, lahan rawa. Dan saya sebenarnya ingin berproduksi maksimal jika bisa didampingi teknologi budidanya," tandasnya.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018