Monday, 08 August 2022


Guru Besar IPB: Petani Tokoh Sentral Pengembangan Benih

31 Jul 2022, 11:12 WIBEditor : Yulianto

Dwi Andreas, Ketua Umum AB2TI | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pengembangan benih pertanian selama ini terkesan hanya hak eksklusif bagi ilmuwan, perguruan tinggi, lembaga penelitian pemerintah maupun swasta? Bagaimana jika ada petani yang mampu menghasilkan benih yang tak kalah dengan ilmuwan?

Kasus kriminalisasi petani yang berhasil mengembangan benih unggul padi sempat meramaikan media massa di pertengahan tahun 2019. Banyak pihak yang menyesalkan kejadian tersebut. Salah satunya Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI), Dwi Andreas Santosa yang mempertanyakan kasus tersebut.

Bagi Guru Besar IPB University itu, justru dalam catatan sejarah, benih telah ribuan tahun lalu dimuliakan oleh petani. Keragaman varietas yang dimuliakan petani tidaklah sedikit.

Sejak 1960-an petani setidaknya telah mengembangkan 1,9 juta jenis atau varietas tanaman,” kata Dwi saat menjadi penanggap Webinar Mewujudkan Kemandirian Perbenihan dan Perbibitan yang digelar MPPI bersama Tabloid Sinar Tani di Jakarta, Kamis (28/7).

Untuk tanaman pangan, petani telah memuliakan hampir 5.000 tanaman pangan. Bahkan menjadi penyumbang terbesar bank benih dunia. Padahal saat ini industri hanya memelihara untuk diniagakan benih tanaman pangan 150 jenis saja.

Sedangkan research and development industri benih hanya mampu menghasilkan 72.500 varietas. Untuk lembaga penelitian benih, sekitar 8 ribu varietas tanaman. “Jadi petani kecil adalah tokoh sentral dalam pengembangan benih selama ini,” tegasnya.

Beranjak hal tersebut, Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) hadir dengan kepengurusan di 20 provinsi dan 90 kabupaten. Asosiasi petani perbenihan dan teknologi dalam upaya meningkatkan penguasaan dan kedaulatan petani atas benih dan teknologi. “Kami  mendukung sistem pertanian berkelanjutan untuk mencapai penghidupan petani yang lebih mandiri dan sejahtera,” katanya.

Sistem Sosial Budaya

Petani kata Dwi Andrea, terus menjaga keberadaan benih dalam sistem sosial budaya yang terus hidup hingga saat ini. Tak hanya melalui lahan, petani juga menjaga benih dalam lumbung sebagai bagian dari kehidupan sosialnya.

Bagi petani, benih tak hanya benda yang menghasilkan buah, umbi atau tanaman saja, namun lebih dari itu. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, petani melakukan tukar menukar benih. Dalam hal ini benih menjadi media perekat dan hubungan sosial diantara petani,” tuturnya.

Sayangnya, Dwi menyesalkan, pada sisi yang lain undang-undang dan program pemerintah tak cukup kuat melindungi petani, terutama petani pemulai benih. Padahal saat ini sudah sangat banyak kelompok petani yang berhasil memuliakan aneka benih.

Alih-alih mendukung, undang-undang yang ada justru dijadikan alat untuk mengkriminalisasi petani. “Contohnya, Tengku Munirwan seorang petani berprestasi yang juga Kepala Desa Meunasah Rayeuk, Kecamatan Nisam, Aceh Utara harus berurusan dengan pihak berwajib,” ungkapnya.

Kepala Biotech Center (Pusat Bioteknologi) IPB University menilai, pilihan kebijakan yang pro pasar tidak hanya mengancam kehidupan petani, tapi juga keberagaman varietas tanaman. Menghadapi situasi ini, Dwi menyarankan, perlunya penguatan kapasitas dan dukungan atas inisiatif petani tersebut.

Baginya, upaya menambah pengetahuan dan kapasitas petani, serta dukungan penguatan kelembagaan menjadi modal penting agar petani bertahan ditengah serbuan benih pabrikan. Selain itu, upaya advokasi atas undang-undang dan kebijakan-program pemerintah juga perlu dilakukan pada berbagai tingkatan mulai dari komunitas hingga nasional.

Jangan lupakan peran petani. Sebagai pemulia tanaman, petani harus dimuliakan.

Reporter : Gsh
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018