Monday, 08 August 2022


Filosofi Benih dari seorang Jafar Hafsah

31 Jul 2022, 11:26 WIBEditor : Yulianto

Benih padi jangan mandek di Ciherang saja | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---“Teknologi rekayasa benih dan bibit di pertanian lebih canggih kadarnya dari rekayasa teknologi engineering pesawat terbang, karena pertanian itu teknologinya sangat bergantung pada makhluk hidup, sehingga rekayasanya kita sesuaikan dengan kehidupan makhluk tersebut.”

Pernyataan tersebut disampaikan M. Ja’far Hafsah yang saat itu menjabat Kepala Pengendali Bimas kepada almarhum BJ Habibie ketika mendampingi kegiatan pertamanya menjadi Presiden RI dalam panen padi di Karawang, Jawa Barat.

Ketua Dewan Pembina Masyarakat Perbenihan dan Pembibitan Indonesia (MPPI) ini mengatakan, filosofinya benih atau bibit adalah makhluk hidup yang memproduksi makhluk hidup lainnya. Benih tumbuh dan melipatgandakan hasil.

“Dari satu benih padi bisa menghasilkan ratusan bulir, bahkan dengan inovasi rekayasa teknologi bisa menghasilkan lebih banyak lagi, ujar Ja’far yang juga pernah menjabat sebagai Dirjen Tanaman Pangan itu saat Webinar Mewujudkan Kemandirian Perbenihan dan Perbibitan yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, Kamis (28/7).

Bahkan menurutnya, salah satu faktor krusial keberhasilan dan peningkatan produktivitas pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan adalah tersedianya benih dan bibit yang berkualitas. Tanpa benih dan bibit berkualitas tidak mungkin produksi pertanian bisa ditingkatkan.

Karena itu ia mengingatkan sebagai salah satu organisasi profesi yang bergerak di bidang perbenihan dan pembibitan di hulu, tengah dan hilir, MPPI sejatinya tidak hanya berfikir produksi untuk konsumsi. Namun, bagaimana agar supply atau persediaan bisa terjaga.

Sinergi Pelaku Usaha

Peran MPPI menurutnya, sangat penting dalam mensinergikan semua stakeholder, khususnya mengawal perkembangan teknologi benih dan bibit. Saat ini banyak institusi yang terlibat dan bekerjasama dalam pengembangan benih dan bibit, termasuk pemerintah, pengusaha swasta, BUMN, perguruan tinggi dan lembaga penelitian.

“Prlunya kolaborasi antara pemerintah, badan litbang pertanian (BRIN),  perguruan tinggi dan sektor swasta serta bekerjasama untuk meningkatkan kualitas perbenihan.  Peran dan partisipasi swasta sangat penting dan ditunggu dalam menggerakan dan meningkatkan bisnis perbenihan,” tuturnya.

Ja’far juga menegaskan, kedepan MPPI memberikan perhatian lebih dan serius pada plasma nutfah, inovasi dan rekayasa teknologi, sertifikasi benih dan juga sosialisasi dan penyuluhan bagi petani. Selain itu, perlu memperhatikan masalah distribusi dan keadilan dalam mendapatkan benih.

Sebagai organisasi yang anggotanya terdiri dari pelaku bisnis, Jafar kembali mengingatkan, MPPI harus bisa membuat aturan main yang adil dalam mengawal bisnis perbenihan di tanah air. Dengan demikian, tidak ada yang merasa diuntungkan maupun dirugikan.

Kuncinya adalah kemandirian benih, hal ini menjadi penting agar negara kita tidak tergantung impor benih dari negara lain. “Pentingnya, penelitian menjadi kunci penentu sukses tidaknya pengembangan benih dan bibit dalam negeri,” katanya.

Kita harus bersungguh-sungguh dalam untuk mengawal ketersediaan perbenihan yang berkelanjutan agar dapat menjadi negara yang mandiri pangan dan bisa menjadi lumbung pangan dunia,” tambah Jafar Hafsah.

Reporter : iqbal
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018