Wednesday, 17 August 2022


Hadapi Perubahan Iklim, Petani Purbalingga Terapkan Teknologi CSA  

04 Aug 2022, 10:11 WIBEditor : Yulianto

Gerakan pertanaman padi budidaya CSA di Purbalingga | Sumber Foto:Hari Purnomo

TABLOIDSINARTANI.COM, Purbalingga--- Setelah terbukti mampu meningkatkan produktivitas pertanian,  petani tergabung dalam Kelompok Tani (Poktan) Melati di Desa Bukateja, Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga pada musim tanam akan menerapkan teknologi CSA  (Climate Smart Agriculture).

Pertanian cerdas iklim memang diharapkan bisa meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman. Bukan hanya itu, juga dapat meningkatan pendapatan petani pada lahan sawah irigasi. Kementerian Pertanian saat ini memang mendorong berbagai inovasi dan teknologi seperti CSA untuk menghadapi perubahan iklim.

Sejalan dengan inovasi dan teknologi CSA, Dinas Pertanian Purbalingga juga menggelar tanam perdana demplot CSA SIMURP di Desa Bukateja. “Kegiatan CSA bertujuan untuk meningkatkan produktivitas, mengajarkan cara budidaya pertanian, khususnya tanaman pangan yang ramah lingkungan, mengurangi gagal panen,  mengurangi emisi gas rumah kaca serta pada akhirnya meningkatkan pendapatan petani, khususnya di daerah irigasi Banjar Tjahyana Weerken (BTW),” kata Kepala Dinas Pertanian Purbalinga, Mukodam,

Sementara itu Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Bukateja, Ely Budiarto menjelaskan, pelaksanaan kegiatan demplot penerapan CSA berada di 56 kelompok tani. Terdiri dari poktan inti 24 kelompok, poktan  replika 24 kelompok dan poktan satelit 8 kelompok. 

“Jika produktivitas rata-rata pada tahun sebelumnya di lahan demplot CSA mencapai 7,2 ton per hektar, tahun ini diharapkan produktivitas dapat mencapai 7,5 sampai 8 ton per hektar,” ujar Ely di lokasi tanam perdana. Kegiatan FFD tanam perdana di demplot CSA,  juga dihadiri Kapolsek dan Koramil setempat, penyuluh dan petani di wilayah Kecamatan Bukateja.

Penyuluh Pertanian di wilayah binaan Desa Bukateja, Nurochman pada kesempatan tersebut menjelaskan, teknologi CSA yang diterapkan antara lain penggunaan bibit dari Varietas Unggul Baru (VUB),  sistem Jarwo 2:1, pengairan berselang dan penggunaan AWD, pemupukan menggunakan bahan organik serta pengelolaan organisme pengganggu tumbuhan secara terpadu.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembanga Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi di beberapa kesempatan sering menyampaikan, akibat dari perubahan iklim ekstrem, terjadi serangan hama penyakit tanaman di mana-mana. Dampaknya menyebabkan sistem produksi di sentra pangan dunia terganggu. “Gunakan smart farming agar dapat menggenjot produksi pertanian kita. CSA dapat menyelamatkan produksi pertanian kita,” tegas Dedi.

Reporter : Hari Purnomo/ Yeniarta
Sumber : BBPP Ketindan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018