Sabtu, 01 Oktober 2022


Inilah Hasil Survei Cadangan Beras Nasional 2022  

08 Agu 2022, 15:13 WIBEditor : Yulianto

Kementan bersama BPS merilis hasil SCBN di Jakarta, Senin (8/8) | Sumber Foto:Julian

TABLOIDSINARTANI. COM, Jakarta---Data stok beras selama ini dianggap simpang siur, sehingga kerap menimbulkan pro dan kontra. Guna menjawab persoalan tersebut, Kementerian Pertanian bersama Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan Survei Cadangan Beras Nasional 2022 (SCBN).

Survei ini meliputi penghitungan ketersediaan cadangan beras di tingkat rumah tangga, penggilingan, pedagang beras, Bulog, horeka, industri dan pengolahan. Dari hasil survei didapatkan stok beras terbesar berada di rumah tangga dengan volume rata-rata mencapai 6 juta ton.

"Berdasarkan hasil survei, stok beras nasional periode 31 Maret 2022 mencapai 9,11 juta ton beras. Kemudian pada 30 April 2022 meningkat 10,15 juta ton dan stok pada Juni 2022 menjadi 9,71 juta ton," ujar Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M Habibullah saat merilis Hasil SCBN di Jakarta, Senin (8/8).

Habibullah mengatakan, stok beras pada Juni 2022 sebagian besar berada di institusi rumah tangga yang mencapai 6,6 juta ton atau 67,94 persen. Kemudian di pedagang 1,04 juta ton (10,67 persen), BULOG 1,11 juta ton (11,40 persen), penggilingan 0,69 juta ton (7,15 persen) dan di Horeka maupun industri sebesar 0,28 juta ton (2,84 persen).

"Secara umum, rata-rata stok beras di seluruh institusi cenderung mengalami peningkatan pada periode 30 April 2022 dibandingkan periode 31 Maret 2022," kata Habibullah yang didampingi Dirjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Suwandi dan Direktur Serealia, M. Ismail Wahab.

Habibullah mengungkapkan, rata-rata stok beras di rumah tangga dan produsen mencapai kurang lebih 390-443 kg per rumah tangga produsen. Jumlah itu lebih  tinggi dibandingkan rata-rata stok beras di rumah tangga konsumen yang hanya 9-10 kg per rumah tangga konsumen.

Berdasarkan bentuk, ungkap Habibullah, sampai Juni stok terbesar disimpan dalam bentuk Gabah kering Panen (GKP) dan Gabah kering Giling (GKG) dengan jumlah sebanyak 6,24 juta ton setara beras. Sedangkan stok dalam bentuk beras sebanyak 3,41 juta ton, sidanya adanya beras pecah kulit dan menir.

"Hasil SCBN22 telah mengkorfirmasi posisi surplus beras periode 2019 sampai dengan Juni 2022 dengan menggunakan KSA BPS. Stok beras kita mencukupi dan akan terus bertambah seiring dengan adanya panen tiap bulan hingga akhir Desember 2022," katanya.

Habibullah mengatakan, survei ini sekaligus menyamakan data antar lintas kementerian dan lembaga. Dengan data stok beras nasional ini nantinya bisa digunakan sebagai pijakan dalam mengambil keputusan.

Survei ini berlangsug pada Juni 2022 yang digelar di 34 Provinsi meliputi 490 kabuputen/kota. Jumlah sampel sebanyak 47.817 sampel yang terdiri dari 14.100 sampel rumah tangga dan 33.717 sampel non rumah tangga. “Dalam survei ini kami melibatkan 1.900 orang petugas sebagai enumerator," katanya.

Sementara itu Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Suwandi mengatakan, survei data ini menjadi penting untuk menentukan program penguatan produksi ke depan. Apalagi, Indonesia dan juga negara-negara di dunia tengah menghadapi ancaman krisis global.

"Saya dan jajaran dinas dichallenge terus. Ada dua hal setelah 2019 sampai hari ini yakni, tidak ada impor beras umum. Kemudian, produksi data BPS KSA selalu meningkat dari tahun ke tahun dan menunjukkan surplus. Tapi saya ditambah tugas lagi yang harus diwujudkan bareng-bareng yaitu produktivitas harus naik, bahkan supaya lebih tinggi lagi dari yang sekarang," katanya.

Suwandi berharap, kolaborasi Kementan dan BPS dapat terus ditingkatkan untuk kepentingan bangsa yang lebih besar. Harapannya ini bisa dimanfaatkan bagi semua pihak dalam rangka mengambil keputusan dan mempunyai gambaran yang utuh tentang kondisi perberasan nasional.

"Dari sisi produksi sudah terlihat melalui data KSA, dari sisi konsumsi juga pendataannya sudah ada. Dari saat ini terlihat kondisi dan persebarannya," ucapnya.

Perlu diketahui, produksi beras nasional pada tahun 2019 mencapai 31,31 juta ton, meningkat di tahun 2020 menjadi 31,36 juta ton dan di tahun 2021 sebesar 31,33 juta ton. Disisi lain, ekspor pertanian dari tahun ke tahun juga mengalami kenaikan yang diikuti kenaikan NTP maupun NTUP.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018