Sabtu, 01 Oktober 2022


Turunkan Mutu, Inilah Musuh Menakutkan Pengusaha Beras

11 Agu 2022, 09:49 WIBEditor : Yulianto

Ketersediaan pangan di gudang Bulog | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Proses pasca panen komoditas pertanian seperti beras, ternyata perlu mendapatkan penanganan yang serius. Tantangan yang muncul salah satunya adalah hama kutu yang terdapat di antara bulir-bulir beras maupun hama kutu di gudang beras.

“Saya lebih “takut” menangani hama kutu dibandingkan menangani quality control,” kata Nellys Soekidi, pemilik PT Daya Tani Sembada yang bergerak di bidang perberasan pada Webinar Cara Aman Menangkal Hama Gudang yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bekerjasama dengan BASF di Jakarta, Rabu (3/8).

“Ketakutan” ini bukan tanpa alasan. Sebab, hama kutu sangat merugikan pengusaha perberasan. Rusaknya beras menyebabkan resiko pengeluaran biaya operasional yang sangat besar untuk transportasi, tenaga kerja dan untuk re-packing. Bahkan itu pun belum menjamin kutu akan hilang.

“Contoh di industri perberasan, setiap penanganan 1 truk, dengan berat sekitar 30 ton beras, misalnya dikirimkan dari kota di Jawa Timur ke Jakarta, perlu biaya sekitar Rp 7,5 juta. Setelah sampai ke kota tujuan, ternyata ada hama kutu entah dari mana berasal, maka barang akan dikembalikan. Inilah yang sangat merugikan pengusaha / produsen,” tutur Ketua Perpadi DKI Jakarta ini.

Karena itu, Nellys menyarankan, agar pengusaha perberasan wajib mengalokasikan dana penanganan hama kutu. Apalagi beberapa perjanjian bisnis berdasarkan pengalamannya, jika timbul hama kutu sebelum beras sampai di konsumen, maka akan menjadi tanggung jawab produsen dalam hal ini pengusaha perberasan.

“Hama kutu ini muncul dalam proses produksi hingga distribusi,” katanya. Karena itu ia menilai, resiko memang lumayan besar, apalagi zaman teknologi informasi dan perkembangan sosial media. Misalnya, ada satu merk beras ditemukan kutu dalam kemasan, maka beritanya akan tersebar cepat ke konsumen. “Ini akan sangat “memukul” pengusaha perberasan tersebut,” tambahnya.

Nellys berharap, agar pengusaha beras sangat berhati-hati menangani pasca panen. Misalnya kadar air, harus dibawah 14 persen, supaya beras yang disimpan di gudang punya umur simpan hingga satu tahun. Sebab, beras dengan kadar air lebih dari 14 persen, dalam hitungan minggu saja sudah lembab dan timbul jamur, karena kurang kering. Untuk itu dryer yang digunakan untuk proses pengeringan juga harus baik.

Menurutnya, dalam menangani produksi beras, pelaku usaha sudah mempunyai SOP dalam penanganan hulu ke hilir. Misalnya, saat membuat beras premium, standarnya sudah ada, mulai dari bahan baku, processing, packing, dan sebagainya sehingga barang tersebut jadi barang premium.

Dalam peraturan seperti Permentan juga sudah jelas disebutkan berapa kadar air, berapa beras yang broken, dan lain-lainnya sudah ada aturannya. “Jadi menangani quality control masih lebih mudah dibandingkan menangani hama kutu,” kata Nellys.

Karena hama kutu memiliki siklus hidup, Nellys menilai, menyebabkan sulit mengenali, terutama ketika masih berbentuk telur karena sangat kecil dan bisa berada dimana saja. Misalnya, di celah-celah lantai gudang, celah pintu, truck pengangkutan, dan lain-lain.

“Antisipasi yang dilakukan adalah quality control yang mutlak harus baik, gudang beras yang harus punya standar tingkat kelembapan, ventilasi, pencahayaan, kebersihan, dan melakukan fumigasi sesuai SOP,” katanya.

Menurut Nellys, yang justru menjadi keprihatinan pengusaha beras adalah jika beras di modern market disimpan terlalu lama. Apalagi kemudian diletakkan di sebelah minyak goreng dan terigu. “Ini rawan lembab dan terjangkit hama kutu. Apalagi bila pihak marketingnya tidak mentaati SOP, cenderung mengambil stock yang paling atas yang mudah diambil, ujarnya.

Reporter : Indri
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018