Sabtu, 01 Oktober 2022


Benih, Faktor Kunci Menjawab Krisis Pangan Global  

13 Agu 2022, 20:56 WIBEditor : Yulianto

Pengembangan benih di BB Padi | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Krisis pangan global menjadi tantangan berat bagi dunia pertanian. Namun di balik tantangan tersebut, ada peluang yang bisa diambil pelaku usaha pertanian, termasuk industri benih di tanah air. Benih unggul menjadi kunci mendongkrak produksi pangan.

Dengan kemandirian benih dan bibit, bangsa Indonesia akan mampu menjawab upaya peningkatan produksi pangan. Karena itu gelar Musyawarah Nasional Masyarakat Perbenihan dan Perbibitan Indonesia (MPPI) 2022 di Jakarta , Jumat (12/8) menjadi momentum sinergi bagi pelaku usaha perbenihan dan perbibitan untuk menjawab masalah krisis pangan.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Prof. Dedy Nur syamsi menilai, kebebasan harus dikurangi, bahkan ditiadakan. “Bicara produksi pangan yang utama adalah faktor benih . P ertanian dimulai dari benih dan bibit, bahkan memberikan kontribusi terhadap  pendongkrak produktivitas. Artinya, jika menguasai benih dan bibit, maka 70 persen akan meng uasai pertanian,” ujar Dedy.  

Untuk meningkatkan produksi pangan, menurut Dedy, harus mendapatkan benih berkualitas dan bermutu, karena benih dan bibit kunci keberhasilan pertanian. “Jadi jangan mimpi akan berhasil jika benih masih ala kadarnya . Itu  tantangan kita membangun sistem perbenihan dengan baik," tulisnya. 

Dedy melihat, kerjasama antara peternak dengan penyuluh dan petani juga menjadi kunci keberhasilan. Untuk itu, kerjasama antar pemuliaan dengan penyuluh dan petani mutlak dilakukan . “Ke berhasilan perbenihan tidak akan muncul jika belum terimplementasikan . Semua itu harus dilakukan untuk kemajuan perbenihan.perbibitan di Indonesia ,” ujarnya . 

Bentuk kerjasamanya menurut Dedy, harus di bangun dan terkait dengan kearifan lokal . Sebab, jika pelaku usaha bekerja sendiri-sendiri itu , maka akan berat dan kemungkinan kecil bisa berhasil. Apalagi kini bangsa Indonesia menghadapi tantangan krisis pangan yang berat. Saya yakin jika bekerjasama maka akan ada keberhasilan," tegasnya.

Sementara itu Sekretaris Ditjen Hortikultura, Dr. Ir. Retno Sri Hartati Mulyandari, M.Si membangunkan pentingnya sinergi antara lintas pemangku kepentingan dalam hulu-hilir industri perbenihan bermutu yang berdaya saing.  Dengan demikian dapat mendukung ketahanan pangan Indonesia secara berkelanjutan.

Dirinya mengakui, ditengah kemajuan inovasi perbenihan hortikultura, Indonesia masih kekurangan benih bawang putih berkualitas. Hal tersebut menyebabkan dalam tiga tahun terakhir ekspor bawang putih terus meningkat hingga 98,22 persen . “Kita sudah melakukan program wajib tanam bawang putih, namun petani selalu saja merugi, Karena salah satu faktornya adalah benih yang ditanam adalah benih yang tidak bermutu,” tulisnya. 

Retno menambahkan , saat ini ada 8 penakar benih bawang putih yang te lah dibina pemerintah. V arietas unggul bawang putih yang dihasilkan adalah Tawangmangu Baru yang memiliki keunggulan umbi yang besar, pertumbuhan yang baik dan batang yang kokoh. “Varietas lain adalah lumbu kuning, lumbu putih dan lumbu hijau,” tambahnya.

Bagi pelaku usaha dukungan pemerintah dan perguruan tinggi menjadi penting. Baca halaman selanjutnya.

Reporter : Herman
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018