Sabtu, 01 Oktober 2022


Kembalikan Aceh Menjadi Lumbung Kedelai Nasional

15 Agu 2022, 15:09 WIBEditor : Gesha

Pertanaman kedelai di Aceh | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Banda Aceh -- Aceh pernah dikenal sebagai lumbung Kedelai Nasinal. Pada era tahun 80'an tidak kurang luas areal kedelai di Aceh mencapai 120.000 ha, terutama di sentra produksi kedelai Bireuen (Peudada), Aceh Timur, Aceh Utara dan Pidie. Untuk mengembalikan Aceh menjadi Lumbung Kedelai Nasional, Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh telah menyiapkan lahan seluas 10 ribu hektar, sedangkan tahun 2023 seluas 12 ribu hektar.

Menanggapi hal ini, pemerhati pertanian dari Banda Aceh, Ir Teuku Iskandar MSi mengatakan, saat ini beberapa alternatif inovasi teknologi untuk peningkatan produksi kedelai sudah banyak dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian. Oleh karena itu, sudah sepatutnya hal ini menjadi perhatian stakeholder dan pengambil kebijakan.

Pasalnya, dengan sentuhan inovasi teknologi kita mampu mengembang teknologi spesifik lokasi. Terutama dalam menghadapi ancaman krisis pangan saat ini yang tengah melanda dunia. "Harapannya dengan teknologi dan inovasi kita bisa mengembalikan kejayaan Aceh sebagai lumbung kedelai nasional," ungkapnya.

Teuku Iskandar yang juga tim ahli Distanbun Aceh mengatakan menawarkan beberapa solusi dalam budidaya kedelai. Salah satunya yaitu melalui dukungan mekanisasi peralatan dan mesin pertanian (alsintan). "Melalui transfer teknologi industri 4.0, kita optimis program pemerintah mewujudkan swasembada kedelai akan tercapai," ujarnya bersemangat.

Selain itu, Aceh juga mempunyai peluang dalam mengefektifkan Food Estate Area melalui pengembangan Pola Tanam IP-300 dan IP-400. Oleh karena itu perlu penerapan pola tanam yang konsisten dengan menggerakkan kearifan lokal seperti Kujruen Blang (tokoh tani pengatur air irigasi). 

"Kita harus bersinergi dalam menggerakkan Kujruen Blang Gampong (desa), Kujreun Blang Mukim dan Kujruen Chik (komando kujruen kecamatan) untuk efektifitas pola tanam berdasarkan kearifan lokal sistem bendera (komando sawah). Semua ada warna bendera. Kalau naik bendera coklat artinya musim turun ke sawah (olah tanah), bendera merah tutup tanam sedangkan bendera putih (bera tidak tanam padi). Semua patuh pada Kujruen Blang. Artinya pada masa bera sawah itulah masa gerakan penanam kedelai dilakukan," terangnya. 

Pola tanam IP-300 maupun IP-400, yaitu padi-padi tapi harus diselingi dengan tanaman keledai. Atau pun 3 kali padi dan terakhir kedelai. Ini penting diterapkan untuk memutus siklus hama seperti tikus. "Kalau kita tanam padi selamanya ini sama halnya dengan memberikan makanan untuk hama sepanjang tahun (endemis). Hama tikus biasanya terdapat pada saluran air di pematang sawah. Menanam padi tanpa diselingi dengan palawija kedelai ini akan membiakkan tikus," timpalnya.

Persoalan lain jika tanaman padi tidak diselingi dengan kedelai, maka akan terjadi penurunan kesuburan tanah. Kenapa? karena terus-menerus tanahnya terendam. Solusinya, tanah Itu perlu ditanami kedelai karena dapat mensuplai N dari udara bebas kedalam tanah, sehingga bisa menambah kesuburan tanah untuk menanam padi musum berikutnya. Bagaimana teknologi yang tepat untuk tanaman kedelai di Aceh. Salah satunya dengan menyediakan bibit atau varietas unggul seperti varietas Seulawah, Kipas Merah, Anjasmoro, Detam dan juga Dena1.

Teuku Iskandar yang pernah menjabat Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian ((BPTP) Aceh mengklaim pihaknya telah beberapa tahun melakukan kajian terhadap beberapa varietas unggul tersebut. Namun, yang paling adaptif adalah varietas Kipas merah Bireuen yang sekarang menjadi hak paten Aceh. Sama seperti kedelai di Jawa Grobogan, tapi mereka menjaga dan bertanggung jawab untuk breedingnya."Begitu juga hendaknya dengan kedelai Kipas merah harus ada breedingnya. Ini penting jangan sampai hilang karena itu plasma nutfah yang harus terpelihara karena selain adaptif dan berbiji sedang juga dapat membentuk kipas," tambahnya.

Kedelai Kipas merah juga hebat karena produksinya bisa mencapai 2 ton per hektar tidak kalah dengan kedelai unggul nasional. Kelebihan lainnya dari Kipas merah sangat spesifik untuk pembuatan tahu dan susu kedelai. Disisi lain, sambung Teuku Iskandar, hasil pengujian terhadap kedelai Anjasmoro juga memberi kontribusi yang bagus, bahkan hasilnya bisa meningkat 2,5 ton/ha serta bijinya pun tidak kalah dengan kedelai impor.

Oleh karena itu dalam program pengembangan kedelai cukup digunakan 2 varietas saja, yang pertama Kipas merah harus diangkat dijaga kemurniannya yang kedua adalah Anjasmoro sebagai varietas unggul nasional. Terkait teknologi pengolahan tanah untuk lahan sawah sangat dianjurkan dengan input rendah hasil tinggi (efisien). Sistem olah tanah yang dianjurkan yakni tanpa olah tanah (zero tillage). Seharusnya ini perlu disosialisasi oleh penyuluh di lapangan dalam program IP-400.

Peran Penyuluh

Mengenai peran penyuluh, Teuku Iskandar  menuturkan pentingnya penyuluh harus menguasai teknis budidaya kedelai di lahan sawah. Pada saat 1 minggu setelah panen padi, dilakukan pembuatan saluran drainase antar bedengan, sedangkan jerami yang ada dapat dimanfaatkan sebagai mulsa.

Kemudian tidak lebih dari 10 hari, kedelai sudah ditugal diantara tunggul tunggul jerami yang notabene sumber pupuk Kalium. "Gerakan ini perlu keterlibatan serta pendampingan oleh penyuluh. Tugas penyuluh harus berperan dan memiliki tanggung jawab. Untuk mengukur kinerja penyuluh bisa dengan membuat buku catatan harian yang digunakan ketika mendampingi petani," ingatnya.

Kegiatan di BPP juga perlu dilakukan latihan dan kunjungan serta evaluasi oleh supervisor apa saja yang telah dikerjakan. "Sekarang kita lihat peran penyuluh agak mengambang. Jika kunjungan ke lapangan tidak cukup dengan foto open kamera dan update status di sosial media.  

 

Bagaimana cara penyuluh harus turun  melakukan pelatihan/ bimbingan kepada petani di lapangan. "Bahkan kalau perlu, penyuluh harus menunjukkan identitasnya dengan mencantumkan plang nama di rumahnya seperti bidan desa," ujarnya mengakhiri.

Reporter : AbdA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018