Minggu, 14 April 2024


Lesehan Bersama Gubernur Jateng, Dorong Petani Hasilkan 7 Ton/Ha

16 Agu 2022, 10:45 WIBEditor : Herman

Lesehan Bersama Gubernur Jateng | Sumber Foto:Djoko W

TABLOIDSINARTANI.COM, Tamanggung --- Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah menggelar  “Lesehan bersama Gubernur Jawa Tengah” di Pusat Pelayanan Agribisnis Petani (PPAP) Soropadan, JL Raya Magelang-Semarang KM.13 Soropadan,  Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Kegiatan yang dikemas dengan konsep pertemuan model Jawa yaitu lesehan, atau duduk dilantai tanpa kursi ini diikuti 180 orang peserta off line, dan 100 an orang yang mengikuti secara daring (online).

Selain dihadiri Kapala Pusat Penyuluh Pertanian, Bustanul Arifin, Kegiatan tersebut juga dihadiri perwakilan Penyuluh Pertanian di BPP, perwakilan PUPT, perwakilan penyuluh swadaya, petani milenial, pelaku usaha pertanian serta seluruh jajaran dinas pertanian dan perkebunan provinsi Jawa Tengah.

“Pengembangan pupuk organik dan pengembangan integrated farming system” merupakan pokok bahasan pertama, yang dipandu oleh Untung Sarono Wiyono, S.H seorang pegiat pertanian organic dan pemilik “Bitec Farm- Ndayu Park” Sragen.

Sedang “Dari terpaksa menjadi terbiasa, Prospek Agribisnis Berkelanjutan” adalah judul makalah Prof. Dr. Ir Sony Heru Priyanto,MM guru besar Universitas Satya Wacana, Salatiga.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang didapuk sebagai pembicara utama mengatakan ketakutan yang melanda dunia saat ini ada 2 perkara. Yang pertama naiknya harga BBM, sehingga negara harus mengeluarkan subsidi tidak kurang dari Rp 400 Triliun.

Ketakutan ke dua adalah masalah pangan, dimana beberapa negara telah menghentikan export pangan, demi menjaga ketersediaan pangan dinegerinya sendiri. Contohnya India telah menghentikan export gandumnya,

”Apabila dalam situasi seperti sekarang ini kita bekerja dengan cara dan ritme biasa-biasa saja, jelas kita akan ketinggalan.”  Kata Ganjar Pranowo.

Lebih jauh Gubernur yang pernah “mengurusi” pertanian selama 4 tahun di Komisi IV DPR-RI ini menegaskan Dunia sudah berubah, kebutuhan pangan bertambah, harga-harga naik dan teknologi berkembang cepat.

Mendapatkan informasi Kepala Distanbun Jateng, Supriyanto, bahwa tingkat produktivitas padi Jawa Tengah sebesar 5,8 ton per Ha, Gubernur Ganjar memberikan tantangan kepada para peserta yang hadir.

 “ Saya mau 7 ton, bisa tidak ? “ Tanya Gubernur

Gubernur Ganjar Pranowo mengatakan para petani di Jawa Tengah harus yakin bisa mencapai target tersebut.

“Saya katakan bisa..! harus bisa.. !. Saya katakan bisa, karena ada teknologinya. Anda semua sudah katam teknologi itu, tinggal bagaimana improvement (peningkatan) nya. Untuk itu ada kampus, lembaga riset, dinas pertanian dan yang penting ada  kebijakan untuk mengimplementasikan. Saya tahu hasil riset dapat mencapai 12 ton per Ha, masalahnya bagaimana mereplikasinya.” Jelasnya.

Pengalaman dilapangan selama bertahun-tahun, dipadukan dengan data iklim, hama penyakit dan informasi teknologi dapat menjadi hipotesa baru, untuk meraih produktivitas 7 ton/ha.

“Bagi para penyuluh yang pernah mempunyai pengalaman mendapat produktivitas padi 7 tom/ha atau lebih, tolong dicatat dibuat semacam katalog. Di catat bibitnya, cara menanam, cara mengairi, pemupukan dan sebagainya. Sehingga bisa di replikasi ditempat lain,” tambah Ganjar.

Pada kesempatan tersebut, Gubernur Ganjar Pranowo juga mengajak berdiskusi tentang berbagai topik. Salah satu topik yang dibahas “Mengapa harga cabai tak kunjung turun”.

 “Disana ada tesis lalu timbul antitesis dan muncullah sintesis baru. Hal demikian akan menjadikan kita dinamis, terus maju.. Ungkap Ganjar

Namun demikian Ganjar juga mendidik untuk dapat mengemukakan pendapat dengan efisien. Ia selalu memotong pembicaraan peserta yang gelagatnya mau ngelantur atau gagal paham.

Lebih lanjut Gubernur Jawa Tengah yang sudah menjalani tugas periode ke 2 ini mengajak untuk memanfaatkan data, sains dan teknologi informasi yang ada.

Perpres No 35 Th 2022

Menanggapi pertanyaan dari Pariman, Penyuluh Pertanian Kabupaten Klaten perihal pelaksanaan   Peraturan Presiden (PERPRES) No 35 tahun 2022 tentang Penguatan Fungsi Penyuluhan Pertanian, Ganjar Pranowo mengatakan bahwa Penyuluh Pertanian harus menunjukkan integrtitasnya. 

“Segera buat Fungsi Penyuluhan Pertanian di masing-masing kabupaten dan kota. Kalau gak bisa formal ya informal. Disanalah Penyuluh Pertanian dapat menunjukkan integritasnya,” ungkap Ganjar

Reporter : Djoko W
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018