Rabu, 28 September 2022


Edible Inscect sebagai Solusi Pangan Masa Depan

20 Sep 2022, 08:12 WIBEditor : Gesha

Serangga yang dapat dimakan menjadi potensi pangan masa depan | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Dunia dihadapkan pada tantangan untuk memenuhi kebutuhan pangan global yang semakin meningkat seiring dengan peningkatan populasi dunia yang diperkirakan akan mencapai 9,7 triliyun pada tahun 2050 dengan sumberdaya alam yang semakin terbatas. Konsumsi hewani menjadi salah satu jawaban atas permasalahan kurangnya gizi masyarakat. Edible insects bisa dipilih untuk menjadi solusi pangan masa depan. 

Tak semua orang bisa menyantap serangga seperti belatung, kumbang, jangkrik, dan ulat. Namun laporan PBB menyebutkan serangga-serangga ini dapat menjadi sumber makanan di masa depan. Lewat buku 'Edible Insects: Future Prospects for Food and Feed Security' yang terbit tahun lalu, PBB mempromosikan santapan serangga sebagai usaha memerangi kelaparan. Menurut laporan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB, konsumsi serangga dapat membantu peningkatan gizi dan mengurangi polusi.



Pada tahun 2030, PBB memprediksi lebih dari 9 juta orang perlu diberi makan, bersama dengan miliaran hewan yang dibesarkan tiap tahun untuk sumber makanan dan peliharaan. Sementara itu, tanah dan polusi air dari produksi ternak memicu degradasi hutan sehingga berkontribusi pada perubahan iklim.

PBB mengatakan bahwa peternakan serangga bisa menjadi salah satu cara mengatasi kerawanan pangan. Bagi hewan ternak, serangga dapat menjadi pelengkap pakan tradisional seperti kedelai, jagung, biji-bijian, dan lainnya. Serangga dianggap mudah ditemui, perkembangbiakannya cepat, pertumbuhan tinggi, pakannya tidak rumit, dan ramah lingkungan. Selain itu serangga kaya akan nutrisi dengan kandungan protein, lemak, dan mineral tinggi. Makanan ini bisa menjadi suplemen makanan bagi anak-anak kurang gizi.

Tidak hanya itu, serangga juga sangat efisien dalam mengonversi pakan menjadi daging yang dapat dimakan. Contohnya jangkrik membutuhkan pakan 12 kali lebih sedikit dibanding hewan ternak untuk menghasilkan jumlah protein yang sama. Sebagian besar serangga juga menghasilkan gas rumah kaca yang berbahaya bagi lingkungan lebih minim dibanding ternak lainnya.

Pengenalan edible insect dalam  bentuk bubuk atau tepung dapat membantu mengatasi resistensi konsumen. Beberapa teknologi digunakan untuk mengubah biomassa serangga menjadi bahan pangan meliputi proses pengeringan (freeze-drying, pengeringan oven, fluidized bed drying, pengeringan microwave, dll.) serta metode ekstraksi (ekstraksi dengan bantuan ultrasonografi, cold atmospheric pressure plasma dan fraksinasi kering).

Baru-baru ini, bubuk jangkrik digunakan untuk memperkaya pasta, menghasilkan peningkatan protein yang signifikan, lemak, dan kandungan mineral, serta  meningkatkan tekstur dan penampilannya. Kitin, diekstrak dari kerangka luar serangga, merupakan prekursor untuk turunan bioaktif, seperti kitosan, yang berpotensi untuk mencegah dan mengobati penyakit. Kitin yang diregenerasi telah diakui sebagai pengemulsi yang menjanjikan, dengan potensi aplikasi  termasuk menstabilkan yogurt, krim, es krim, dll. Serangga utuh, bubuk serangga, dan produk makanan dari serangga seperti snack berbumbu, energy bar dan shake, serta permen sudah dikomersialkan di seluruh dunia. Meskipun demikian, saat ini pengolahan makanan dan teknologi diperlukan untuk membantu mengatasi neofobia konsumen dan memenuhi persyaratan sensorik.

Kandungan Nutrisi

Mengkonsumsi serangga, atau nama unik yang dikenal dengan istilah entomophagy bukanlah hal yang baru bagi dunia, termasuk di negara Indonesia. Ada beberapa makanan di Indonesia yang bahan dasarnya dari serangga, seperti yang banyak dikonsumsi oleh orang papua adalah sate ulat sagu, jangkrik goreng dari Ciamis, dari Jawa Timur ada larva tawon, kepompong jati goreng, dan rempeyek laron.

Kandungan nutrisi serangga juga tidak kalah dengan nutrisi pada daging sapi. Beberapa penelitian juga sudah dilakukan untuk mengetahui seberapa layak  dibuat pangan dan dapat berkontribusi untuk asupan makanan, mereka manganalisa nutrisi dari beberapa serangga, diantaranya yaitu kutu frengki, kutu beras, jangkrik, dan belalang. Pengujian dilakukan pada isi mineral dan mengkalkulasikan total nutrisi dari masing-masing yang bisa diserap oleh manusia. Hasil menunjukan bahwa kadar zat besi (Fe), magnesium (Mg), dan kalsium (Ca) pada jangkrik lebih tinggi dibandingkan dengan daging sapi. Selain itu, kandungan zat Magnesium (Mg), Mangan (Mn), dan Zink (Zn) tersedia lebih banyak pada belalang dan kutu beras dibandingkan pada daging sapi.

Serangga berpotensi menjadi sumber nutrisi penting seperti protein, lemak (termasuk asam lemak tak jenuh), polisakarida (termasuk kitin), serat, vitamin, dan mineral. Edible insects secara tradisional dikonsumsi dalam berbagai bentuk (mentah, dikukus, dipanggang, diasap, digoreng, dll.)  di Afrika, Amerika Tengah dan Selatan, serta Asia. 

 

Serangga berpotensi menjadi sumber nutrisi penting seperti protein, lemak (termasuk asam lemak tak jenuh), polisakarida (termasuk kitin), serat, vitamin, dan mineral. Edible insects secara tradisional dikonsumsi dalam berbagai bentuk (mentah, dikukus, dipanggang, diasap, digoreng, dll.)  di Afrika, Amerika Tengah dan Selatan, serta Asia. Produksi Edible insect sangat efisien, menghasilkan berbagai generasi sepanjang tahun dengan tingkat kematian yang rendah dan hanya membutuhkan sedikit ruang, seperti vertical system. 

Selain itu, budidaya edible insect memerlukan bahan yang sangat murah dan mudah ditemukan.Hal ini karena  serangga dapat diberi makan dengan menggunakan limbah dan produk sampingan pertanian yang tidak dikonsumsi oleh manusia. Hal ini selaras dengan model bioekonomi sirkular.

 

 

Reporter : Sri Hardanti
Sumber : Polbangtan Bogor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018