Rabu, 28 September 2022


Kultur Sel, Peluang Besar Hasilkan Pangan Masa Depan

20 Sep 2022, 08:40 WIBEditor : Gesha

Cellular Agriculture menjadi model penyediaan pangan masa depan | Sumber Foto:CompassList

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Kebutuhan pangan penduduk dunia di masa depan, diperlukan peningkatan hingga dua kali lipat dari total produksi pangan saat ini. Hal ini tentu menjadi tantangan yang sangat sulit dikarenakan semakin banyaknya lahan pertanian yang dialih fungsikan menjadi bangunan dan tempat non-pertanian lainnya. Kultur sel bisa menjadi peluang besar untuk menghasilkan pangan masa depan. 

Pertumbuhan penduduk dan dampak lingkungan dari produksi pangan menuntut dunia untuk fokus pada peningkatan produksi makanan dan penemuan produk makanan masa depan yang sehat, efisien dan ramah lingkungan. Oleh karena itu perubahan mendasar pada pertanian dan produksi pangan harus segera dilakukan. 

Di sisi lain bioteknologi industri dengan penggunaan bahan kimia dan bahan dasar yang inovatif adalah kunci untuk menyediakan makanan bergizi, aman, dan sehat bagi manusia dengan meminimalkan kebutuhan input sumber daya tambahan seperti energi, tanah dan air.

Salah satu bioteknologi industri yang sudah dikembangkan dan menarik banyak perhatian di dunia pangan adalah cellular agriculture yang didefinisikan pemanfaatan kultur sel dari berbagai organisme inang (tumbuhan, hewan atau mikroba) untuk produksi komoditas pertanian.  Cellular agriculture menawarkan peluang besar untuk menjaga lingkungan yang lebih sehat dan beberapa keuntungan lainnya jika dibandingkan dengan pertanian konvensional. Cellular agriculture tidak memerlukan lahan yang luas sehingga masalah lingkungan global seperti yang ditimbulkan oleh peternakan konvensional bisa ditekan.

Kultur sel sebagai sumber makanan menawarkan alternatif yang sangat menarik untuk mendapatkan makanan sehat, kaya protein dan bahan baku makanan bergizi seimbang. Sebagian besar produksi kultur sel berfokus pada produk hewani seperti daging sapi, ayam, ikan, lobster, susu dan telur. Beberapa alternatif untuk memperoleh sumber protein hewani meliputi kultur daging yang diproduksi in vitro, plant-based meat analogs (daging nabati analog) yang diproduksi menggunakan protein yang diekstraksi dari tumbuhan; single-cell proteins (SCP) dengan mikroba alaminya.

Burger daging sapi hasil kultur pertama kali diperkenalkan dan dicicipi oleh masyarakat pada  konferensi pers tahun 2013 di London. Setelah  itu , daging kultur  telah menginspirasi berdirinya beberapa perusahaan strat-up di dunia. Beberapa kelebihan kultur daging dibandingkan dengan daging konvensional adalah (i) mengurangi permintaan untuk produk ternak alami, (ii) menciptakan varian nutrisi baru bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan menu daging pada makanannya (iii) memungkinkan kontrol dan desain pada komposisi, kualitas, dan rasa produk, serta (iv) mengurangi kebutuhan lahan, biaya transportasi (dapat diproduksi lokal), produksi limbah, dan emisi gas rumah kaca.  Selain itu, produksi kultur sel  dapat menghilangkan keberadaan unsur-unsur yang tidak diinginkan, seperti lemak jenuh, mikroorganisme, hormon, dan antibiotik.

Cellular agriculture memiliki potensi untuk menghasilkan lebih dari sekedar produk turunan hewani. Penelitian baru-baru ini dilakukan oleh Pusat Penelitian Teknis VTT Finlandia mengeksplorasi pertumbuhan kultur sel tanaman dari cloudberry, lingonberry, dan stoneberry dalam media pertumbuhan tanaman. Sel-selnya diketahui lebih kaya protein, mengandung asam lemak tak jenuh, gula, dan serat daripada buah berry, dan tambahannya memiliki bau dan rasa yang segar (Nordlund et al., 2018). Berdasarkan penggunaannya, sel berry dapat digunakan untuk menggantikan buah berry dalam smoothies, yogurt, selai, dll. atau dikeringkan dan dimasukkan sebagai bahan dalam pembuatan kue, dessert dan topping).

Reporter : Sri Hardanti
Sumber : Polbangtan Bogor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018