Selasa, 27 September 2022


Jadi Prioritas Pengganti Gandum, Kementan Genjot Produksi Singkong

23 Sep 2022, 03:53 WIBEditor : Herman

Singkong Sebagai Bahan Pangan Substitusi | Sumber Foto:Doc. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Perkuat produksi pangan, Kementerian Pertanian (Kementan) menggenjot produksi singkong sebagai pangan substitusi gandum dan komoditas lainnya untuk bahan dasar pada industri makanan dan bahan baku industri pakan.

Diungkapkan Dirjen Tanmana Pangan, Suwandi pada Bimbingan Teknis dan Sosialisasi (BTS) Propaktani pada Rabu (19/9) bahwa saat ini singkong sedang menjadi trend, karena disaat serba sulit dampak covid, iklim ekstrim dan krisis pangan, permintaan singkong naik tajam. Ekspor singkong naik 3 kali lipat dari tahun lalu sehingga ini menjadi peluang untuk memperkuat posisi sektor pertanian dan kesejahteraan petani di tengah dampak tantangan global

"Berbagai kemudahan dari tanaman singkong, sudah kita ketahui, istilahnya tongkat kayu jadi tanaman. Menanam singkong menggunakan stek dapat berbeda cara tanam tergantung kebutuhan, misalnya yang dibutuhkan daunnya, bisa ditanam dengan dirobohkan atau ditancapkan," kata Suwandi pada webinar tema “Strategi Penyediaan Benih Singkong Untuk Mendukung Pengembangan Kawasan Pangan Nusantara di Provinsi Sulteng”.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulawesi Tengah (Sulteng), Nelson Metubun mengapresiasi program pemerintah pusat yang mencanangkan Kawasan Pangan Nusantara seluas 15 ribu hektar di Sulteng.

Strategi yang diterapkan dalam Pengembangan Kawasan Singkong di Provinsi Sulteng yakni dengan melakukan perluasan areal tanam dengan memperhatikan aspek kelestarian lingkungan, Peningkatan Indeks Pertanaman, meningkatkan produktivitas melalui penggunaan benih unggul provitas tinggi, serta pemupukan dan penerapan paket teknologi tepat guna spesifik lokasi.

"Pola tanam dapat dilakukan monokultur dan tumpang sari pada areal kebun, lahan kritis, replanting sawit, dengan menerapkan prinsip konservasi lahan dan menjaga kelestarian lingkungan,” terangnya.

Selain itu, Nelson mengaku pihaknya telah melakukan pendekatan pengembangan kawasan berbasis Korporasi petani, dengan melibatkan semua sub sistem mulai dari hulu, budidaya, hilir dan sub sistem pendukung, penguatan kelembagaan petani, kemitraan dan pemanfaatan KUR.

“Tak lupa pula dengan dukungan pemerintah daerah, BUMN, Investor dan stakeholder serta kemitraan strategis,” pinta Nelson.

Sementara itu petani singkong, Iham Ari Wibad mengatakan pengembangan budidaya singkong dilakukan melalui konsep kampung singkong. Yakni pemanfaatan pekarangan atau ladang yang tidak termanfaatkan menjadi sumber penghasilan lokal hingga melakukan hilirisasi sehingga menghasilkan produk turunan yang beraneka ragam, salah satunya tepung mocaf.

"Kampung singkong ini lahir karena adanya permintaan produk turunan singkong yang meningkat, serta banyak pekarangan atau ladang di didaerah kami yang tidak termanfaatkan. Bersama kelompok tani kami bergerak untuk memanfaatkan semua itu menjadi hal yang menghasilkan, serta didukung sumber daya manusia yang mumpuni serta tanah yang subur," paparnya.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, Maemunah yang juga menjadi narasumber menjelaskan benih dapat berkontribusi dalam upaya peningkatan produktivitas singkong. Dengan syarat vaerietas sesuai dengan egroekosistem dan benih terjamin mutunya, baik genetis, fisiologis dan fisik.

"Penanaman pun harus tepat waktu dan lokasi yang sesuau. Penyediaan benih pun harus tersedia dan mudah diakses dengan harga terjangkau," jelasnya.

Reporter : Eko
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018