Kamis, 30 Mei 2024


Sering Banjir dan Kekeringan, Ini Cara Petani Indramayu Siasati Iklim

15 Nov 2022, 04:40 WIBEditor : Yulianto

Irigasi menjadi sumber air bagi petani | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Perubahan iklim berpengaruh besar pada produktifitas usaha tani. Berbagai cara dilakukan agar petani bisa terus berusaha tani, meski dalam keadaaan musim kering maupun hujan. Seperti yang dilakukan petani di Indramayu.

Berada di lahan tadah hujan dan tidak adanya irigasi, petani Desa Gabuskulon, Kecamatan Gabuswetan, Kabupaten Indramayu tidak bisa berbuat banyak dalam menjalankan usaha taninya. Sawah yang berada di wilayah Indramayu bagian tengah ini hampir pasti mengalami kekeringan ketika musim kemarau dan banjir ketika musim hujan tiba.

“Sering terjadi kekeringan pada MT. gaduh dan berpotensi terkena bencana alam banjir apabila curah hujan tinggi,” ungkap Ketua Poktan Tani Mukti, Carma. Namun hal tersebut tidak membuat petani, khususnya Poktan Tani Mukti yang beranggotakan 102 petani dengan hamparan mencapai 95 ha ini. Berbagai upaya dilakukan untuk meminimalisir kerugian.

BACA Juga: Masuki Musim Tanam Siaga Fenomena Iklim

Carma menjelaskan, ada beberapa langkah yang dilakukan petani. Untuk menanggulangi datangnya banjir saat musim hujan dengan pembersihan irigasi tersier dan pompanisasi air dari dalam ke luar. Sementara untuk penanganan kekeringan, para petani mengandalkan sumur pantek dan melakukan pompanisasi dari luar kedala lahan persawahan.

”Tahun 2021 kami dapat program DPI berupa pembuatan sumur pantek dangkal di kisanran 10-15 meter. Dengan sumur pantek kami memanfaatkan air dilapisan akuifer lapisan pertama,” ungkap Carma.

Carma mengatakan, sumur pantek mejadi andalan petani saat padi berada pada fase primordia atau sekitar Mei-Juni. Saat itu curah hujan sudah mulai berkurang sekitar 25 mm-125 mm di bulan Mei dan bulan Juni 5-20 mm.

“Kalau kita tanam April itu masih aman, kita manfaatkan sumur dangkal walaupun hasil produksi masih kurang maksimal. Alhamdulillah kita masih bisa 2 kali panen dengan produktifitas 7,5 ton/ha, tapi saat El Nino parah produksi paling bagus 1 bahu menghasilkan 2 ton atau sama sekali puso,” tuturnya.

Selain mengandalkan sumur pantek bantuan, Carma mengungkapkan, saat ini petani juga membuat sumur pantek sendiri di lajur sawah.  Sumur pantek tersebut mampu mengairi sawah luas 1 bahu selama 24 jam. Namuun jika kondisi sudah parah atau tanah sudah pecah, maka sumur pantek harus digali lagi dari yang semula 15 meter ditambah 3 meteran

Reporter : Herman
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018