Kamis, 09 Februari 2023


Sisa Sebulan, Harga jadi Tantangan Genjot CBP

26 Nov 2022, 03:22 WIBEditor : Yulianto

Pekerja di gudang Bulog | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Upaya meningkatkan volume CBP memang tak mudah. Kendala yang bakal menghambat pengadaan beras Bulog adalah harga yang masih di atas Harga Pembelian Pemerintah. Selain itu, volume panen juga tak banyak.

Jika memperhatikan perkembangan indeks harga konsumen pada Oktober  ternyata hanya beras yang masih tinggi, sedangkan komoditas lainnya sudah turun. Begitu juga produksi beras pada Desember juga tak banyak hanya 1,06 juta ton.

Berdasarkan Keputusan Rakortas Pangan 2 September 2022 disepakati kebijakan pengadaan stok CBP sampai akhir Desember 2022 sebesar 1,2 juta ton setara beras. Berdasarkan KSA BPS pada November-Desember akan ada produksi sebanyak 2,18 juta ton setara beras yang berada di 10 provinsi produsen beras.

Data Bapanas, total cadangan beras sebanyak 636.668 ton. Jumlah tersebut memang belum termasuk beras dan gabah yang ada di penggilingan, pedagang besar di rumah tangga. Jika dirinci, jumlah CBP di Bulog sebanyak 594.856 ton, ID Food 428 ton, Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) 35.899 ton dan CBP Daerah (CBPD) 5.485 ton. Sedangkan kebutuhan beras sebanyak 2,575 juta ton/bulan.

“Ini menjadi fenomena yang harus kita hadapi bersama, sehingga Bulog juga terus mengeluarkan stoknya untuk program KPSA,” kata Direktur Distribusi dan Cadangan Pangan, Bapanas, Dr. Rachmi Widiriani, S.P., M.Si saat webinar Optimalisasi Peneyerapan CBP yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, Rabu (23/11).

Masih tingginya harga beras tersebut karena dalam lima bulan terakhir 2022 (Agustus-Desember), neraca produksi dan konsumsi negatif. Dengan jumlah kebutuhan lebih banyak (2,52 juta ton), terjadi defisit dan menggerus stok tahun 2022. Data BPS, pada Agustus produksi beras sebanyak 2,35 juta ton, September (2,5 juta ton), Oktober (2,43 juta ton), November (2,24 juta ton) dan Desember (1,06 juta ton).

Sedangkan produksi beras tahun ini diperkirakan sebanyak 32,07 juta ton dan total kebutuhan mencapai 30,9 juta ton. Artinya ada surplus sekitar 1,7 juta ton. Dengan tambahan stok awal tahun 2022 sebanyak 5,27 juta ton, diperkirakan stok akhir tahun mencapai 6,34 juta ton.

Dengan kondisi itu, Rachmi berharap dalam sisa waktu tahun 2022, produksi beras mampu mencapai target yang ditentukan sebesar 6 juta ton. “Kita harus optimis dua bulan terakhir ini (November-Desember,red) produksi masih sesuai target, sehingga tidak akan banyak menggerus stok yang ada dan diharapkan pada akhir 2022 ini stok yang bisa dibawa ke 2023 di angka sekitar 6 jutaan ton,” tuturnya.

"Bagaimanapun juga pemerintah harus hadir untuk memberikan penyediaan beras dengan harga yang terjangkau untuk kelompok masyarakat tertentu," tegas Rachmi.

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018