Kamis, 09 Februari 2023


Refleksi 2022 , Polemik Beras di Penghujung Tahun  

30 Des 2022, 02:30 WIBEditor : Yulianto

Panen padi dengan combine harvester | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Di Penghujung tahun 2022 masyarakat disajikan polemik beras. Semua berawal ketika pemerintah akhirnya memutuskan mengimpor beras untuk mencukupi kebutuhan cadangan beras pemerintah (CBP) yang ada di gudang Perum Bulog.

Sebagai komoditas politik, gejolak harga pangan pokok masyarakat Indonesia ini bisa menggoyang ekonomi ditandai dengan naiknya inflasi. Meski berganti pemerintahan, beras tetap menjadi perhatian utama. Berbagai kebijakan pun banyak difokuskan untuk mempertahankan produksi beras. Misalnya di bagian hulu, pemerintah memberikan subsidi benih dan pupuk, perbaikan irigasi untuk membantu petani.

Sedangkan di bagian hilir, pemerintah menerbitkan regulasi penetapan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah/beras untuk menjaga harga di tingkat petani. Sedangkan di konsumen, pemerintah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras medium dan premium.

Di sisi lain, produksi padi (beras) sangat rentan terhadap berbagai goncangan karena banyak faktor yang mempengaruhi, Sebut saja, saat ini kondisi iklim yang kian sulit ditebak, sehingga tanaman padi rawan terkena banjir dan kekeringan. Cuaca ekstrim juga bisa menimbulkan gangguan hama dan penyakit (organisme pengganggu tumbuhan).

Upaya pemerintah menjaga produksi beras menuai hasil. Menjelang HUT RI ke-77 pada 17 Agustus 2022, International Rice Research Institute (IRRI) memberikan penghargaan terhadap Indonesia yang selama tiga tahun terakhir mampu mencapai swasembada beras secara berturut-turut (2019-2021).

Berdasarkan data Kerangkan Sample Area (KSA) BPS, produksi beras tahun 2019 sebanyak 31,31 juta ton (surplus 2,38 juta ton), tahun 2020 sebanyak 31,40 ton (surplus 2,13 juta ton), tahun 2021 sebesar 31,36 juta ton (surplus 1,31 juta ton).

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) menegaskan pihaknya menggunakan data BPS sebagai rujukan produksi beras nasional. Dari data BPS produksi beras dalam negeri masih mencukupi kebutuhan dalam negeri. BPS memprediksi, produksi beras tahun 2021 sebanyak 31.895.250 ton. Jika konsumsi sekitar 30,20 juta ton atau rata-rata 2,5 juta ton/bulan, maka akan ada surplus 1,7 juta ton beras.

“Produksi beras kita sangat optimal sesuai dengan perencanaan. Saat ini luas lahan panen kita di atas 10 juta ha. Produksinya sangat maksimal. Jadi kalau kita lihat data BPS, produksi beras aman, stoknya juga aman,” tegasnya.

Terkait angka produksi, Kepala Badan Pangan Nasional (National Food Agency/NFA), Arief Prasetyo Adhi mengatakan, pihaknya bersama Kementerian Pertanian telah sepakat menggunakan satu data dari BPS, baik terkait produksi beras, kebutuhan beras rumah tangga, dan luar rumah tangga. Langkah tersebut untuk memastikan dan menjaga akurasi arah kebijakan beras nasional di akhir tahun ini dan tahun 2023.

Pemerintah akhirnya memutuskan impor beras sebanyak 500 ribu ton. Ini alasannya. Baca halaman selanjutnya.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018