Kamis, 09 Februari 2023


Indonesia, Negara Termubazir Makanan Kedua di Dunia

13 Jan 2023, 02:47 WIBEditor : Yulianto

makanan terbuang jadi mubazir | Sumber Foto:Dok. Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Percaya tidak? Ternyata hampir 1/3 produk makanan yang dikonsumsi manusia terbuang sia-sia (food loss dan food waste).  Artinya hanya 2/3 dari produksi pangan yang terkonsumsi manusia. Dampak food loss and waste (FLW) terbukti merugikan bagi manusia, planet dan ekonomi.

The Economist Intelligence Unit (EIU) mencatat, Indonesia merupakan penyumbang sampah makanan terbesar kedua di dunia. Rata-rata orang Indonesia membuang pangan sekitar 300 kg/tahun. Kajian Bappenas, FLW di Indonesia pada tahun 2000-2019 berkisar 23-48 juta ton/tahun, setara dengan 115–184 kg/kapita/tahun.

Apa artinya ini? Masing-masing dari kita menyumbang lebih dari 1 kwintal sampah pangan per tahun. Hal tersebut berdampak pada kerugian ekonomi kurang lebih sebesar Rp 213-551 triliun per tahun. Potensi FLW tersebut dapat disalurkan untuk memberi makan 61-125 juta orang atau 29-47 persen populasi Indonesia.

Sementara di sisi lain, menurut Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan tahun 2021, terdapat 74 kab/kota yang rentan rawan pangan. Sesuai data PoU (Prevalence of Undernourishment) masih terdapat 23,1 juta jiwa (8,49 persen) penduduk Indonesia yang mengkonsumsi kalori kurang dari standar minimum untuk hidup sehat aktif dan produktif

Limbah makanan selama ini memang menjadi masalah kritikal di banyak negara, termasuk Indonesia. Kehilangan dan pemborosan makanan bukan hanya berdampak negatif terhadap ketahanan pangan di dunia, tapi juga bisa memicu perubahan iklim.

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mencatat FLW menyebabkan kerugian triliunan dolar AS bagi industri. Bahkan menyumbang 8-10 persen emisi global yang dapat mempercepat perubahan iklim. Artinya, dengan mengurangi FLW tidak hanya membuat sistem pangan lebih berkelanjutan, tetapi juga meningkatkan kesehatan masyarakat, ekonomi, dan ketahanan terhadap perubahan iklim.

Urgensi penanganan FLW sudah menjadi hal yang tidak bisa ditawar lagi. Berdasarkan data, secara global, sekitar 1,3 miliar ton makanan terbuang setiap tahunnya. Karena banyak makanan yang terbuang, Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) menyerukan kolaborasi lintas sektoral untuk penanganan FWL di Indonesia. Keberhasilan penanganan FWL menjadi salah satu faktor kunci dalam mengantisipasi potensi krisis pangan dan pengentasan daerah rentan dan rawan pangan di Indonesia.

Kepala NFA, Arief Prasetyo Adi mengatakan, pengurangan FWL menjadi perhatian serius Indonesia dan negara-negara di dunia sesuai komitmen dalam Sustainable Development Goals (SDGs) ke-12 poin ke-3. Sesuai SDGs negara-negara di dunia diharapkan dapat mengurangi 50% food waste per kapita di tingkat retail dan konsumen pada tahun 2030.

Saat membuka Gerakan Kewaspadaan Pangan dan Gizi dalam rangka The International Day of Awareness of Food Loss and Waste atau Hari Kesadaran Internasional tentang Food Lose and Food Waste, Arief mengatakan, keberhasilan penanganan food waste memerlukan komitmen bersama dan kolaborasi lintas sektor.

“Dalam upaya mengurangi food waste, Badan Pangan Nasional tidak bisa sendiri, diperlukan sinergi dan kolaborasi dengan seluruh stakeholders pangan dari hulu ke hilir bersama sektor pentahelix Government, Academics, Business, Community, dan Media,” ujarnya dalam acara yang digelar bekerjasama dengan Foodbank of Indonesia (FoI) tersebut.

Reporter : Echa/Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018