Kamis, 30 Mei 2024


Cuaca Tak Menentu, Waspadai Ledakan OPT

08 Peb 2023, 06:13 WIBEditor : Yulianto

Gerdal OPT di Sergei | Sumber Foto:Gultom

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Negara tropis seperti Indonesia, datangnya Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) atau masyarakat umumnya menyebut hama dan penyakit tanaman tak bisa dielakkan lagi. Ibarat tamu rutin yang selalu datang saat musim tanam tiba. Untuk itu, petani harus bisa mengantisipasi sejak dini kehadiran tamu yang tak diundang tersebut.

Apalagi Dampak Perubahan Iklim (DPI), dengan kondisi kelembaban tinggi diprediksi kehadiran hama dan penyakit akan meningkat. Melalui upaya perlindungan tanaman yang tepat, OPT dapat dikendalikan, sehingga tidak mengakibatkan kehilangan hasil yang besar dan mampu menjamin potensi hasil yang diinginkan.

Gandi Purnama, Koordinator Kelompok Substansi Pengendalian OPT Serealia Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian mengatakan, memasuki Musim Tanam (MT) 2022/2023, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan intensif memantau serta mengendalikan hama dan penyakit tanaman.

“Selain monitoring dan pengendalian OPT, kami juga melakukan bimbingan teknis bagi petani tentang pentingnya pengendalian OPT sedini mungkin,” kata Gandi saat Bimtek Antisipasi Serangan Penyakit Padi di Musim Tanam yang diselenggarakan Tabloid Sinartani bekerjasama dengan BASF di Jakarta, Kamis (2/2).

Menurut Gandi, upaya menyelamatkan pertanaman MT 2022/2023 sangat ditentukan pengendalian OPT sejak dini. Misalnya, untuk mengendalikan Penggerek Batang Padi (PBP) dimulai sejak persemaian dengan mengumpulkan kelompok telurnya. Sedangkan,  pengendalian Wereng Batang Cokelat (WBC)  saat populasi masih rendah. “Nah, jika ditemukan tanaman kerdil karena kerdil rumput atau kerdil hampa, harus segera eradikasi selektif dengan dicabut dan dibenamkan,” tuturnya.

Gandi mengatakan, mengantisipasi serangan OPT pada musim tanam padi ada beberapa hal yang perlu disampaikan. Pertama, perlindungan pertanian dilaksanakan dengan sistem pengolahan Hama Terpadu (PHT). Kedua, memprioritaskan  teknologi ramah lingkungan melalui pendekatan spesifikasi lokasi. ”Jadi fokus kebijakan kita adalah tetap mengedepankan dalam pengolahan hama penyakit. Sedangkan untuk mengobati di lapangan dengan kegiatan yang ramah lingkungan,” kata Gandhi.

Bagaimana dengan pestisida? Gandhi menegaskan, pestisida sebagai alternatif terakhir jika cara yang sudah dilakukan dengan ramah lingkungan sudah tidak tidak bisa mengatasi. Pemerintah berharap dengan teknologi ramah lingkungan dalam menanggulangi OPT, sasaran produksi tinggi, OPT terkendali, produknya berkualitas dan lingkungan lestari itu bisa tercapai.

Balai Besar Peramalan OPT telah mengeluarkan ramalah pada musim 2022/2023. Seperti apa situasinya? Baca halaman selanjutnya. 

 

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018