Tuesday, 08 September 2026


Waspadai Perubahan Iklim, Banjir Mengintai

09 Mar 2023, 04:31 WIBEditor : Yulianto

Mentan SYL saat menengok lokasi banjir di Bekasi

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Hujan yang terus mengguyur di berbagai daerah, terutama di sentra pangan membuat banyak lahan padi tergenang banjir, bahkan bisa berdampak buruk yakni tanaman akan puso (rusak parah). Dengan kondisi iklim yang kian sulit ditebak, petani harus berjibaku menyelamatkan tanamannya untuk bersiaga menghadapi perubahan iklim.

Saat kunjungan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo ke lokasi sawah yang tergenang banjir, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bekasi, Dedy Supriyadi menjelaskan, rata-rata tinggi genangan banjir di wilayah pesawahannya adalah 30-40 centimeter yang tergenang sejak 5 hari lalu. Karena itu, Pemda Bekasi sudah mengeluarkan keputusan bekasi tentang tanggap darurat bencana banjir.

"Tinggi gnangan 30 sampai 40 centimeter. Sekarang ini memasuki hari ke 5 genangan yang terjadi. Karena itu kami sudah mengeluarkan keputusan bupati tentang status tanggal darurat bencana banjir. Kami juga melakukan updating data lahan sawah terdampak genangan, kemudian mendampingi petani langsung di lapangan,” katanya.

Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikutlura Jawa Barat, Nuke Rohyati mengatakan, saat ini ada 10 kabupaten  yang dilanda banjir yakni, Bogor, Ciamis, Cirebon, Majalengka,  Sumedang, Indramayu, Subang, Karawang, Bakasi, Bandung dan Bandung Barat. Kabupaten dengan banjir terluas per 28 Februari yakni Bekasi seluas 8.044,7 ha, Karawang 4.002,1 ha dan Subang 2.350 ha.

Upaya yang telah dilakukan mengatasi banjir diantaranya, pembentukan tim pemantau dari POPT yang berkoordinasi dengan pemerintah setemap, optimalisasi Pos Teerpadu bencana alam di tingkat provinsi dengan kabupaten/kota. “Setelah dipantau kami lakukan pemberian bantuan benih dan pupuk, percepatan penyediaan benih dan perbaikan irigasi,” katanya.

Nuke mengatakan, pihaknya juga mendorong petani untuk turun sebar benih di tempat terpisah, kemudian melakukan replanting 2 minggu setelah tanaman surut dari air. Selain itu, pihaknya juga mengingatkan agar untuk mengantisipasi serangan OPT, mengatur pola tanam dan pemetaan lahan banjir. “Ini yang telah kami lakukan sebagai upaya mengantasi banjir yang melanda areal pertanian,” ujarnya.

Untuk membantu petani Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) meminta pemulihan lahan sawah terdampak banjir dilakukan secara cepat. Salah satunya dengan menghadirkan pompa di sejumlah titik genangan.  "Yang pertama kita harus mendatangkan lebih banyak pompa pembuangan air agar bisa mengurangi debit genangan. Karena itu, pemulihan dan percepatan harus kita lakukan secara cepat," ujar SYL saat meninjau langsung area sawah terdampak banjir di Desa Sukabakti, Kecamatan Tambelang, Kabupaten Bekasi.

Berikutnya, kata dia, semua pertanaman padi yang ada harus segera diberi perawatan intensif. Diantaranya dengan pemantauan dan pemupukan berimbang. Namun apabila kondisi pertanaman sudah tak bisa diselamatkan, maka yang harus dilakukan adalah gerak cepat melakukan penanaman ulang.

"Besok itu begitu lahannya surut saya minta agar dipertahankan yang masih tersisa. Namun kalau yang sudah rusak parah kita harus segera tanam ulang. Nanti kita akan siapkan perlengkapan dan alsintannya," katanya. Bahkan SYL menegaskan, semua upaya perbaikan harus dilakukan mengingat Kabupaten Bekasi adalah wilayah penyangga pangan bagi Ibukota Jakarta dan kota-kota besar di wilayah Jawa Barat lainya.  

Dirjen Tanaman Pangan, Suwandi mengakui, berdasarkan data BMKG curah hujan sebagian daerah di Indonesia cukup tinggi, termasuk wilayah Jabodetabek. Kondisi tersebut bisa berpengaruh dalam pertanian. “Kita lihat saat ini memang beberapa daerah juga terkena luapan air cukup banyak. Banjir karena luapan yang tinggi,” katanya.

Untuk siaga gangguan perubahan iklim, pemerintah memetakan wilayah yang rawan. Baca halaman selanjutnya.

 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018