Selasa, 13 Januari 2026


Pemerintah Putuskan Impor Beras Lagi, Ini Sikap KTNA

28 Mar 2023, 07:27 WIBEditor : Herman

Presiden Jokowi panen padi di Kebumen

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pemerintah kembali menugaskan Perum Bulog untuk mengimpor beras sebesar 500 ribu ton dari total impor 2 juta ton. Kebijakan impor beras ini mendapat reaksi dari Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional, Yadi Sofyan Noor.

Alasan pemerintah memnutuskan impor beras adalah merujuk data Kerangka Sampling Area (KSA) BPS produksi beras pada Februari 2023 sebesar 2,86 juta ton. Jumlah ini turun 820 ribu ton dibanding estimasi periode sebelumnya. Penurunan ini disebabkan banjir dan gagal panen 31 ribu ha.

Yadi Sofyan mengatakan, seharusnya dalam menggunakan data tidak membandingkan angka perkiraan dengan angka tetap, tapi yang benar memakai angka tetap. Misalnya, angka tetap luas panen Februari 2023 dengan Februari 2022.

Jika salah membaca data, maka menurut Yadi dapat berakibat fatal dan keputusannya juga menjadi salah, khususnya terhadap ketahanan pangan nasional dan kesejahteraan petani. Angka tetap KSA BPS mencatat luas panen padi Januari-Februari 2023 sebesar 1,39 juta ha lebih tinggi 153 ribu ha dari Januari-Februari 2022 luas 1,23 juta ha.

“Bagaimana dengan kondisi Maret-Mei 2023 ya data BPS masih angka perkiraan atau potensi panen. Jadi nanti saja setelah dirilis angka tetap baru dianalisis. Terpenting, jangan cari-cari alasan produksi turun, sehingga perlu mengimpor beras. Seyogyanya simak dengan teliti angka BPS, angka resmi pemerintah sebagai tujuan bersama,” tegasnya.

Yadi menjelaskan, angka potensi panen Februari sebelumnya didasarkan pada Standing Crops Pertanaman Padi pada fase Generatif yang teramati pada Januari 2023 yang diperkirakan sebesar 1,2 juta ha. Diperkirakan angka produksi beras sebanyak 3,68 juta ton. Selain itu, juga diperkirakan angka potensi panen untuk Maret dan April 2023.

Pada Februari, menurut Yadi, petugas melakukan pengamatan kembali di lapangan untuk memastikan luasan tanaman padi yang benar-benar di panen pada Februari. Dari hasil amatan Februari ini, diperoleh realisasi luasan panen padi Februari yaitu sebesar 0,94 juta ha atau lebih rendah dari perkiraan fase generatif pada Januari 2023 yang diperkirakan menghasilkan produksi beras sebanyak 2,86 juta ton.

Ia menambahkan, luas panen padi Februari yang lebih rendah dari perkiraan sebelumnya karena tanam padi yang tidak serentak dilakukan oleh petani. Selain itu, karena penggunaan varitas padi yang berbeda yang menyebabkan umur padi yang berbeda atau lebih lama, sehingga akan dipanen pada Maret atau April 2023.

Potensi panen padi Maret menjadi lebih tinggi yaitu dari 1,705 juta ha yang menghasilkan beras 5,27 juta ton menjadi 1,736 juta ha dengan produksi 5,38 juta ton. Begitu juga pada April naik dari 1,153 juta ha dengan produksi 3,51 juta ton beras menjadi 1,244 juta ha dengan produksi 3,80 juta ton beras.

Dengan demikian, penurunan perkiraan luas panen Februari, justru akan ada kenaikan perkiraan luas panen pada Maret dan April 2023. Selain itu, pada Februari juga terjadi banjir di sebagian wilayah Indonesia yang juga sebagian bisa berpotensi menyumbang gagal panen karena puso seluas 9 ribu ha.

Reporter : Humas Ditjen Tanaman Pangan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018